SURYA.co.id – Laut Somalia pada malam 21 April 2026 seharusnya hanya dipenuhi suara ombak yang tenang.
Namun bagi Kapten Ashari Samadikun (33), pelaut asal Gowa, Sulawesi Selatan, keheningan itu berubah menjadi mimpi buruk saat kapal tanker Honour 25 dibajak di tengah pelayaran dari Oman.
"Saat itu sekitar jam 10 malam, ada satu boat dari belakang, jaraknya sekitar tiga mil, hanya mengamati kami," ujarnya saat video call dengan rekan seangkatannya di Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar, Senin (27/4/2026), dikutip SURYA.co.id dari Tribun Timur.
Beberapa jam kemudian, ancaman itu menjadi nyata.
"Pas jam 2, ada tiga boat. Dua di kanan, satu di kiri. Saya fokus ke kanan karena jumlahnya lebih banyak," katanya.
Tidak ada waktu untuk takut. Di bawah bayang-bayang serangan, Ashari hanya memiliki satu tujuan: menyelamatkan dirinya dan 16 kru lain, termasuk tiga WNI, dari ancaman maut di tengah samudra.
Ketegangan memuncak saat laporan dari kru memastikan bahwa perompak membawa senjata.
"Jam dua kru telepon, bilang ada boat di kanan. Saya naik, lihat pakai teropong, ternyata mereka bawa senjata. Saya langsung pikir, mati kita," katanya.
Langkah kaki terdengar di geladak. Dalam hitungan detik, situasi berubah menjadi kacau.
"Saya masuk kamar, kunci cepat. Tidak lama langsung ditembaki. Kamarku diberondong peluru," katanya.
Dalam ruang sempit, gelap, dan pengap, Ashari hanya bisa bertahan.
"Saya hanya bisa tiarap, debu dari tembok yang tertembak memenuhi ruangan."
Di luar, suara teriakan terdengar asing, kasar, dan penuh ancaman.
"Saya dengar pintu didobrak. Semua kru disuruh keluar, kumpul, angkat tangan," katanya.
Tak lama, pemimpin perompak berhasil masuk dan langsung mengarahkannya.
"Bosnya naik ke lantai dua, dobrak pintu kamarku, langsung todong senjata ke kepala," ujarnya.
Dalam kondisi terdesak, Ashari tidak melawan dengan kekuatan, melainkan dengan ketenangan dan keyakinan.
"Saya bilang, Assalamu’alaikum. Saya bilang I am muslim, don’t shoot. Dia jawab waalaikumsalam," katanya.
"Dia tanya, kamu muslim? Saya bilang iya, Muslim Indonesia. Saya juga bilang saya kapten," katanya.
Dengan pendekatan itu, ketegangan perlahan mereda.
"Saya bilang jangan tembak, saya muslim, kamu muslim. Habis itu agak tenang," lanjutnya.
Namun ancaman belum sepenuhnya hilang. Para perompak tetap merampas barang-barang kru.
"Uang dan barangku diambil, dikumpulkan semua," ucapnya.
Di tengah situasi tersebut, Ashari sempat mengirim pesan kepada keluarga dan kantor, sebuah isyarat bahwa ia masih bertahan.
Hingga kini, nasib Kapten Ashari bersama 16 kru lainnya masih belum pasti. Empat WNI berada di kapal tersebut, termasuk dirinya sebagai kapten.
Di kampung halaman, sang ibu, Siti Aminah (57), terus berharap bantuan pemerintah.
"Saya minta tolong ke Pak Prabowo, bantu anak saya," katanya.
"Anakku selalu bilang jangan dipikirkan, tapi saya tidak bisa," ujarnya sambil terisak.
"Dia yang menafkahi keluarga, anak saya itu," katanya.
Sang istri, Santi Sanaya (26), juga masih mengingat momen pertama menerima kabar mengerikan itu.
“Pertama kali itu saya dapat informasi dari suamiku tanggal 21 April malam sekitar setengah 8,” ucap Santi.
“Saya dapat voice note dari suamiku katanya diserang bajak laut. Lima menit kemudian saya coba kontak kembali, masih aktif tapi tidak direspon,” katanya.
“Hari Jumat kemarin dia video call pakai HP kapal, dikasih kesempatan oleh orang kantor sama perompaknya,” jelasnya.
“Alhamdulillah semua sehat, tapi tetap ada ancaman. Perompaknya bilang mereka juga terancam diserang dari pihak luar,” ujarnya.
Kapten Ashari mungkin suatu hari akan kembali menginjakkan kaki di tanah air. Namun suara rentetan peluru yang menembus dinding kamarnya di tengah laut lepas itu, bisa jadi akan terus menggema dalam ingatannya.
Di balik setiap barang impor yang sampai ke rumah, ada pelaut-pelaut seperti Ashari, yang telah melewati “lubang jarum” kematian demi memastikan roda ekonomi dunia tetap berputar.