Tribunlampung.co.id, Lampung tengah - Tokoh pertanian Lampung Tengah, Sumarsono, mendorong pemerintah daerah mempercepat normalisasi saluran irigasi guna memastikan distribusi air yang merata di tengah tekanan musim tanam kedua padi sawah 2026.
Ia menilai langkah tersebut mendesak dilakukan agar petani tidak terus bergantung pada pola tanam yang tidak seragam akibat keterbatasan pasokan air.
“Perbaikan irigasi harus jadi prioritas, karena ini menyangkut keberlangsungan produksi petani,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).
Di lapangan, tantangan yang dihadapi petani tidak hanya soal air, tetapi juga serangan hama yang kian meluas. Di Kecamatan Punggur, tepatnya Kampung Sidomulyo, petani terpaksa menyesuaikan jadwal tanam karena sistem distribusi air bergiliran.
Kondisi ini membuat fase pertumbuhan tanaman tidak serempak, sebagian sudah memasuki tahap pemupukan, sementara lainnya baru mulai menanam bahkan masih dalam tahap pengolahan lahan.
Situasi serupa juga terjadi di Kampung Notoharjo, Kecamatan Trimurjo, di mana petani yang lebih dulu tanam kini berjibaku menghadapi serangan hama tikus.
Sementara itu, di Kampung Liman Benawi, serangan hama sundep sejak fase awal memaksa petani yang menanam pada awal April melakukan tanam ulang, menambah beban biaya produksi.
Sumarsono menilai persoalan yang berulang ini mencerminkan masalah yang lebih mendasar.
“Masalah pangan bukan sekadar urusan perut, tetapi juga menyangkut kedaulatan dan keberlangsungan peradaban,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya keberpihakan kebijakan, terutama dalam pengalokasian anggaran yang mendukung sektor pertanian, mengingat sebagian besar masyarakat Lampung Tengah menggantungkan hidup di sektor ini.
Menurutnya, dukungan tersebut harus diwujudkan melalui penyediaan sarana produksi, pendampingan yang berkelanjutan, hingga perlindungan harga hasil panen. Ia menyoroti ketidakpastian harga yang kerap merugikan petani.
“Pemerintah perlu menjamin harga minimal berbasis biaya produksi agar petani tetap mendapatkan keuntungan yang layak,” katanya.
Selain itu, ia menegaskan bahwa optimalisasi sumber air dari Bendungan Batutegi dan Bendungan Way Seputih harus diiringi dengan perbaikan jaringan distribusi.
Sedimentasi dan kerusakan saluran yang tidak tertangani membuat sebagian sawah hanya mengandalkan air hujan atau “Wai Langitan”, sehingga kepastian masa tanam sulit diprediksi.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah petani mulai mencari alternatif dengan melakukan diversifikasi tanaman. Selain padi dan jagung, mereka mulai mengembangkan komoditas seperti kakao, alpukat, dan durian sebagai sumber pendapatan tambahan.
Namun demikian, Sumarsono mengingatkan bahwa inovasi ini tetap membutuhkan dukungan nyata dari pemerintah.
“Pertanian adalah urat nadi daerah ini. Jika petani sejahtera, ekonomi daerah akan ikut tumbuh,” ujarnya.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)