Dua Dosen Polipangkep Lolos Pendanaan BESTARI Saintek, Angkat Potensi Karang Hias dan Limbah Kelapa
Kiki Content Writer April 30, 2026 09:21 AM

 

TRIBUN-TIMUR.COM — Dua dosen dari Politeknik Pertanian Negeri Pangkep (Polipangkep), Sulawesi Selatan, berhasil memperoleh pendanaan dalam Program BESTARI Saintek yang digelar di Grha Diktisaintek, Senayan, Jakarta, pada 28–29 April 2026.

Kedua dosen tersebut, Mauli Kasmi dan Zulfitriany Dwiyanti Mustaka, termasuk dalam 122 tim terpilih dari total 8.951 pendaftar. Program ini didukung oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dengan total anggaran Rp57,5 miliar. Selain pendanaan, para periset juga mendapat akses ke 56 mitra industri dan empat organisasi internasional.

Mauli Kasmi mengembangkan riset berjudul Model Living Lab Kolaboratif: Hilirisasi Riset Marikultur Karang Hias untuk Membangun Rantai Pasok Ekspor yang Berkelanjutan dan Inklusif. Penelitian ini berfokus pada penguatan budidaya karang hias secara berkelanjutan serta pembentukan model kemitraan inti-plasma bagi nelayan pesisir.

Menurutnya, riset tersebut tidak hanya menghasilkan prototipe tetapi juga mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi berbasis laut. Dalam pelaksanaannya, ia bekerja sama dengan sektor industri, nelayan, serta pemerintah daerah untuk membangun rantai pasok ekspor yang lebih inklusif.

"Kami tidak datang sebagai pelengkap. Kami datang dengan prototipe, dengan komunitas, dan dengan bukti bahwa riset politeknik bisa menghidupkan desa dan laut,” kata Mauli di sela pameran poster.

Sementara itu, Zulfitriany Dwiyanti Mustaka mengangkat potensi limbah kelapa melalui riset bertema ekonomi sirkular di Kabupaten Kepulauan Selayar. Ia mengembangkan teknologi tepat guna berupa mesin pencacah sabut kelapa dan mesin press cocopeat.

Melalui inovasi tersebut, limbah kelapa yang sebelumnya tidak bernilai ekonomi diharapkan dapat diolah menjadi produk turunan bernilai jual. Desa Bontolempangan ditetapkan sebagai lokasi percontohan pengembangan ekosistem ekonomi berbasis kelapa.

Riset ini juga melibatkan pemerintah daerah, komunitas, serta lembaga pendukung untuk memperkuat kolaborasi pentahelix. Targetnya adalah meningkatkan kapasitas teknologi masyarakat desa sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Direktur Polipangkep menyatakan capaian ini mencerminkan peran strategis politeknik dalam pengembangan riset terapan. Ia menegaskan bahwa pendidikan vokasi memiliki kekuatan dalam menghadirkan solusi yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.

Program BESTARI Saintek sendiri mendorong kolaborasi riset lintas daerah dengan melibatkan puluhan mitra industri dan organisasi internasional. Pemerintah menilai inovasi dari daerah memiliki peran penting dalam menjawab berbagai persoalan nyata di lapangan.

Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa riset berbasis potensi lokal, seperti kelautan dan pertanian, mampu bersaing di tingkat nasional sekaligus memberikan dampak langsung bagi masyarakat.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.