Enam Kandidat Berebut Kursi Strategis BUMD PT Riau Petroleum, Penentuan di Tangan Pemegang Saham
Firmauli Sihaloho April 30, 2026 12:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Perebutan kursi strategis di tubuh PT Riau Petroleum (Perseroda) memasuki babak krusial.

Sebanyak enam kandidat terbaik kini tinggal selangkah lagi menuju posisi Direktur Operasional dan Direktur Keuangan, setelah dinyatakan lolos Uji Kelayakan dan Kepatutan (UKK).

Pengumuman tersebut disampaikan Panitia Seleksi (Pansel) melalui Pengumuman Nomor: 22/PANSEL/RP/2026 yang dirilis pada Kamis (30/4/2026). 

Tahapan ini menjadi penyaring akhir sebelum keputusan penentu diambil oleh pemegang saham.

Ketua Pansel, Yan Dharmadi, membenarkan bahwa hasil UKK telah resmi diumumkan kepada publik. 

“Benar, hasil UKK Calon Direktur Operasional dan Calon Direktur Keuangan PT Riau Petroleum sudah kita umumkan,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).

Untuk posisi Direktur Operasional, tiga nama yang lolos yakni Akmal Fauzi Lindung Lubis, Fazar Muhardi, dan Heri Susanto. 

Sementara itu, pada posisi Direktur Keuangan, terdapat nama Ashri Hadi, Ganesya Varandra, dan Novyandre yang berhasil melewati tahapan seleksi tersebut.

Baca juga: Terduga Rampok yang Tewaskan Nenek di Pekanbaru Sempat Mondar-mandir di Depan Rumah Korban

Baca juga: Prakiraan Cuaca Riau, BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat Disertai Angin Kencang di Riau

Meski telah melewati proses ketat, para kandidat masih harus menghadapi satu tahapan penting, yakni wawancara akhir bersama pemegang saham, yang dalam hal ini akan dilakukan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau.

Yan menyebutkan, jadwal wawancara akhir tersebut akan diumumkan dalam waktu dekat.

“Peserta yang lolos akan menjalani wawancara akhir dengan Plt Gubernur Riau. Untuk jadwalnya akan kita informasikan lebih lanjut,” jelasnya. 

Sebelumnya Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, menegaskan proses seleksi harus berjalan profesional. Ia juga meminta agar seluruh tahapan dilakukan secara terbuka dan bebas dari campur tangan pihak manapun.

Ia menekankan tidak boleh ada praktik titipan dalam proses ini. Menurutnya, BUMD adalah milik masyarakat, sehingga harus dikelola oleh orang yang benar-benar kompeten.

Ia menegaskan tidak ingin mendengar adanya istilah orang dekat dalam seleksi ini. Semua harus murni berdasarkan kemampuan. Jika salah dikelola, dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat. Karena itu, posisi strategis harus diisi oleh orang yang paham bisnis dan punya komitmen membangun daerah.

“Saya tidak mau dengar ada istilah ‘orang dekat’ atau titipan. BUMD ini milik rakyat Riau. Kalau salah kelola, yang rugi masyarakat juga. Jadi harus diisi orang-orang profesional yang paham bisnis dan punya komitmen memajukan daerah,” katanya.

SF Hariyanto juga menilai kinerja beberapa BUMD di Riau masih belum optimal. Kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dinilai belum maksimal.

Karena itu, ia meminta perbaikan dimulai dari proses rekrutmen. Seleksi harus ketat dan melibatkan pihak independen, termasuk kalangan akademisi, agar hasilnya bisa dipertanggungjawabkan.

Ia juga mengingatkan para calon yang nantinya terpilih agar tidak membawa kepentingan politik ke dalam BUMD.

Menurutnya, kondisi keuangan daerah saat ini menuntut kerja keras dari semua pihak. BUMD harus fokus pada kinerja, mencari keuntungan yang sehat, menyumbang dividen untuk daerah, dan tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Itu yang paling utama,” tegasnya. (Syaiful Misgiono)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.