TRIBUNKALTIM.CO - Presiden Prabowo Subianto menghadiri acara peletakan batu pertama (groundbreaking, istilah untuk memulai pembangunan proyek besar) tahap II hilirisasi nasional di Refinery Unit IV Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo menekankan bahwa setiap proyek strategis harus terus dievaluasi secara objektif dan ilmiah, seiring dengan perkembangan teknologi yang cepat.
Ia menegaskan pentingnya menjaga kualitas kebijakan agar sesuai dengan kebutuhan zaman.
Selain berbicara soal pembangunan, Prabowo juga menyinggung kondisi geopolitik dunia.
Baca juga: Daftar 13 Proyek Hilirisasi Tahap II, Prabowo: Hilirisasi Jalan Satu-satunya untuk Bisa Lebih Makmur
Ia menyebut banyak negara masih dilanda konflik bersenjata.
Prabowo kemudian menanggapi slogan “Indonesia Gelap” yang sempat digaungkan sejumlah pihak.
Ia menilai pandangan tersebut tidak sesuai dengan kondisi nyata.
Pidato tersebut menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas nasional di tengah tantangan global, sekaligus mengkritik narasi pesimistis yang dinilai tidak mencerminkan kondisi Indonesia saat ini.
Baca juga: Jelang May Day 2026, Prabowo Disebut Akan Turunkan Potongan Ojol Jadi 10 Persen
Selengkapnya berikut pidato lengkap Presiden Prabowo Subianto dikutip dari situs Presiden RI pada Kamis (30/4/2026).
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan,
Rahayu rahayu.
Saudara-saudara sekalian yang saya hormati,
Tentunya kita sebagai insan yang bertakwa, tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Mahakuasa, Tuhan Mahabesar, Allah Swt., bagi umat Islam, atas segala karunia, atas kesehatan yang masih diberikan kepada kita sehingga kita dapat berkumpul pada siang hari ini, dalam acara yang menurut pendapat saya cukup bersejarah dan sangat membanggakan yaitu Groundbreaking Hilirisasi Tahap II yang mencakup 13 proyek strategis hilirisasi senilai kurang lebih Rp116 triliun meliputi lima proyek di sektor energi, lima proyek di sektor mineral, tiga proyek di sektor pertanian. Tadi sudah disebut, hilirisasi tahap pertama ada 13 proyek di 13 lokasi dan beberapa saat ini, tahun ini juga, kita akan tambah hilirisasi mungkin enam, enam lagi proyek, dan terus menerus akan kita tambah. Mungkin ada tahap keempat, kelima, keenam, insyaallah tahun ini juga.
Baca juga: Prabowo Minta Warga Tak Minder, Klaim Program MBG Indonesia Dipelajari Negara Lain
Saudara-saudara,
Hilirisasi adalah jalan menuju kebangkitan bangsa Indonesia. Yang kita lakukan di banyak bidang dalam tahun pertama pemerintahan yang saya pimpin, yang kita lakukan adalah memperkuat fondasi yang sudah dilakukan oleh presiden-presiden terdahulu, dari mulai presiden pertama sampai ke presiden ketujuh. Saya tegaskan di sini, kebangkitan suatu bangsa, nation building, keberhasilan suatu bangsa adalah perjalanan yang jauh, perjalanan yang berat, perjalanan yang tidak ringan, dari sejak kita menyatakan kemerdekaan kita tahun ’45, kita dihajar, kita perang, perang yang tidak main-main. Kita berhadapan dengan negara-negara besar. Kita perang fisik dengan negara-negara besar. Pemenang Perang Dunia II, Inggris, Belanda, habis itu terjadi perang ideologi yang maha dahsyat, kita menjadi ajang salah satu, dua ideologi besar, komunisme lawan kapitalisme, kita berada di tengah, kita kena dampaknya.
Saudara-saudara sekalian,
Dalam bumi kita di abad ke-20 dan ke-21 ini, bumi sudah makin kecil oleh teknologi. Apa yang terjadi di belahan jauh bumi kita, berpengaruh kepada kita. Kita tidak ikut-ikut. Apa yang terjadi di Ukraine berpengaruh kepada kita. Terjadi perang di Ukraine berpengaruh kepada harga jagung, harga gandum, harga minyak. Apalagi perang lagi di Gaza. Apalagi perang lagi di Teluk Persia. Iran lawan Amerika-Israel, Saudara-saudara sekalian. Jadi, Saudara-saudara, ini mendandai bahwa kebangkitan suatu bangsa perlu suatu kerja keras kesinambungan dan terutama untuk ke sekian kali lagi, saya menyampaikan keyakinan saya dari apa yang saya pelajari dari sejarah perkembangan dunia, satu-satunya jalan menuju kebangkitan suatu bangsa yang berhasil adalah nasionalisme, adalah cinta tanah air, adalah persatuan nasional. Dan, hal ini dipahami, dimengerti oleh negara-negara besar, oleh negara-negara yang ingin jadi hegemon, karena ini adalah sifat manusia. Makin besar, makin kuat. makin ingin dominasi, makin ingin menguasai, Saudara-saudara. Dan, apa yang ingin dikuasai? Yang ingin dikuasai adalah kekayaan, resources, resources.
Kekuatan-kekuatan besar dunia pada saat itu, datang ke Nusantara ini, ratusan tahun yang lalu, karena apa? Karena Nusantara kaya. Mereka datang ke sini mencari dan ingin menguasai kekayaan. Ingin menguasai. Dari mana mereka kuasai? Dari menguasai rantai perdagangan dan menguasai fisik, sumber-sumber kekayaan tersebut. Bangsa yang mau merdeka, bangsa yang ingin tetap merdeka adalah bangsa yang mampu dan berani. Atau saya, saya ulangi. Harus berani dulu baru mampu, ya. Yang berani dan mampu menguasai sumber daya bangsa itu. Bangsa diberi karunia Tuhan luar biasa, bangsa itu tidak mampu dan tidak berani, akan miskin terus. Jadi Saudara-saudara, bentuk, bentuk keberanian antara lain adalah keberanian bangsa itu untuk menguasai sumber daya dan mengolah sumber daya itu di negaranya sendiri. Hilirisasi adalah jalan satu-satunya untuk kita bisa lebih makmur.
Saudara-saudara sekalian,
Karena itu, hari ini saya bahagia dan saya bangga. Saya terus terang saja, di awal pemerintahan saya, saya sampaikan ke menteri-menteri, tolonglah, saya jangan diundang groundbreaking. Saya sebetulnya anggap groundbreaking itu, ya, yang ingin saya datang adalah peresmian, kalau sudah jadi. Tapi, karena ini begitu banyak dan begitu penting, saya merasa, saya harus hadir. Saya hadir, saya hadir untuk memberi semangat, memberi penghormatan kepada mereka-mereka yang menyiapkan proyek-proyek ini. Proyek ini tidak jatuh dari langit. Proyek-proyek ini adalah buah pemikiran, saya kira buah pemikiran belasan tahun, mungkin puluhan tahun. Buah pemikiran, buah cita-cita, buah impian, para pemimpin Indonesia, para teknokrat Indonesia, para ilmuwan Indonesia. Sehingga, wujudlah konsep-konsep ini. Kita tidak mau sekadar jual bahan baku. Kita tidak mau hanya menjual buah kelapa, kita mau olah turunan-turunannya di Indonesia supaya nilai tambahnya dinikmati oleh rakyat Indonesia.
Sudah terlalu lama petani-petani Indonesia, nelayan-nelayan Indonesia, buruh-buruh Indonesia tidak menikmati kesejahteraan yang layak. Sudah terlalu lama. Sudah terlalu lama, sumber daya ekonomi kita, sumber daya alam kita dikuasai oleh pedagang-pedagang yang saya pertanyakan nasionalisme mereka. Kita kasih konsesi tambang, kita kasih konsesi perkebunan, kita kasih lagi kredit dari bank pemerintah, bank milik rakyat, tapi mereka begitu berhasil, hasil usahanya tidak ditempatkan di Indonesia. Saya kira bangsa Indonesia tidak mau hal ini diteruskan. Dan, saya sebagai mandataris, sebagai yang diberi kepercayaan oleh rakyat Indonesia, saya juga tidak mau meneruskan hal-hal seperti ini. Saya menginginkan sumber kekayaan bangsa Indonesia, harus di tangan bangsa Indonesia dan harus dinikmati oleh rakyat Indonesia. Dan, Saudara-saudara, Saudara-saudaralah adalah pelaku-pelaku utama. Saudara-saudara yang di Danantara, Saudara-saudara yang di BUMN, Saudara-saudara sekarang, Saudara-saudara sekarang adalah harapan bangsa. Saudara-saudara sekarang adalah patriot-patriot yang diharapkan rakyat kita. Para prajurit, para polisi adalah perisai, adalah bayangkara, adalah pelindung, tapi kalian yang harus wujudkan itu.
Saudara-saudara,
Saya mengimbau, saya menggugah kalian. Saya menggugah kalian. Kerahkan dari hatimu, kerahkan dari hatimu, cintamu kepada bangsa dan rakyat. Berbuatlah untuk bangsa dan rakyat kita. Ini kesempatan emas. Ini kesempatan emas. Kita sudah mengerti kekayaan kita. Kita sudah paham. Kita sudah lihat data-datanya. Sekarang tinggal kita mampu atau tidak mengelola. Sekarang saatnya para teknokrat. Sekarang saatnya para ilmuwan. Sekarang saatnya para insinyur, para profesor, jadi profesor merah putih, jadi profesor pembela rakyat, jadi insinyur untuk bangsa dan rakyat. Jangan kepandaianmu kau pakai untuk menipu rakyat dan bangsa. Jangan kepandaianmu kau pakai untuk menutupi korupsi dan perampokan. Jangan kepandaianmu kau pakai untuk memperkaya bangsa lain. Kita tidak benci bangsa lain. Kita tidak mau rakyat kita miskin terus karena uang kita diambil ke luar negeri. Kalau Saudara mau, silakan, jangan ikut pemerintah yang saya pimpin. Pilih. Tiap manusia boleh pilih. Pilih, bela rakyatmu atau pilih mengabdi ke yang lain. Saya tidak akan toleransi mereka-mereka yang tidak patriotik. Sepintar kau apapun, kalau kau tidak bela bangsamu sendiri, tidak ada tempat di sekitar saya. Carilah orang lain.
Saudara-saudara,
Apapun terjadi, kita hanya mau kerja untuk rakyat. Jadi saya ke sini untuk menghargai pekerjaan kalian. Saya terima kasih, semua pihak yang menyiapkan, ini adalah usaha besar. Negara mana yang membuka hilirisasi, berapa itu? Dua puluh, sudah 26 titik, ya, dan kita mungkin tambah lagi, berapa titik? Enam titik. Tahun ini mungkin kita mulai, mungkin 30-40 proyek besar. Sebentar lagi kita akan resmikan 1.000 Koperasi Merah Putih, kemungkinan dua-tiga minggu lagi. Sesudah itu, dua-tiga bulan lagi kita akan resmikan lebih dari 25 ribu koperasi. Koperasi bukan di atas kertas. Koperasi fisik, ada gudang, ada cold storage, pendingin. Ada gerai-gerai. Ada kendaraan. Banyak yang nanti akan punya pengering Coba dibukalah, dalam sejarah. Saya minta buka dalam sejarah. Buka dalam sejarah dunia. Ada enggak, 25 ribu atau 30 ribu koperasi bisa dibangun dan diselesaikan dalam satu tahun.
Saudara-saudara,
Kita jangan jadi bangsa yang rendah diri. Minder, minder, minder, selalu bangsa asing yang hebat. Banyak negara sekarang belajar MBG ke kita. Banyak belajar MBG ke kita. Di mana ada negara bisa memberi makan lebih 60 juta orang, ya, kan? Lima kali seminggu. Yang Ibu-ibu hamil, diantar makan. Orang-orang tua, lansia yang tidak berdaya, diantar makan. Kasih lihat, di mana, negara mana. Mungkin Tiongkok, tapi Tiongkok, kita tahu, dia sudah take off lebih dahulu dari kita.
Saudara-saudara,
Jadi, proyek-proyek yang tadi diumumkan, ini baru awal, ya. Kalau anda perhatikan, kita olah semua nikel, bauksit, bahkan batu bara, bahkan komoditas pertanian, kita mau olah, supaya nilai tambah ada di Indonesia, supaya kita bisa tambah makmur. Dan, kemakmuran itu harus ke rakyat. Yang kaya tidak boleh, 0,1 persen di atas. Kita terbuka. Indonesia harus untuk semua. Yang kuat, monggo, kita tidak anti orang kaya, tapi orang kaya harus nasionalis. Bangsa Indonesia bukan ladang dan sawah, untuk diambil kekayaannya, dibawa ke luar negeri. Saya ulangi, bangsa Indonesia tidak mau jadi sawahnya orang lain. Tidak mau jadi ladangnya orang lain. Bangsa Indonesia ingin kekayaan Indonesia di tangan, dinikmati oleh rakyat Indonesia. Berkali-kali saya bicara seperti itu dan saya bertekad untuk mencapai itu. Dan, Saudara-saudara adalah ujung tombak dari usaha besar bangsa Indonesia ini.
Saudara-saudara,
Kita sudah menghasilkan MBG puluhan juta dan kita akan teruskan sampai selesai. Banyak kekurangan, kita selesaikan. Banyak yang takut ini berhasil. Tapi kita sudah merasakan manfaatnya. Petani-petani yang tadinya, hasil panennya tidak terbeli, begitu dia panen mangga, mangganya tidak diambil, puso, rusak, di kebun. Panennya tidak diserap. Tengkulak datang, banting harga, tidak mungkin rakyat kita sejahtera. Sekarang kita ubah. Hampir semua petani dan nelayan punya jaminan pasar optik. Berapa yang dia hasilkan, berapa itu pun, akan diserap oleh bangsa Indonesia. Di tiap desa, ada SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi), ada dapur. Kalau ada kekurangan, kita tindak. Secara garis besar, ini membangkitkan ekonomi. Satu dapur, menciptakan 50 orang bekerja. Kalau nanti sudah berjalan 30 ribu dapur, artinya 1,5 juta orang bekerja. Koperasi Merah Putih akan ada 81 ribu. Satu koperasi mempekerjakan 18 orang. Delapan puluh ribu [koperasi] kali 18 [orang], Anda hitung sendiri, satu juta sekian [orang] juga, lebih.
Jadi Saudara-saudara,
Belum, program-program kita yang lain, perumahan rakyat. Jadi tadi, itu adalah untuk mengembalikan arus kekayaan yang ke luar negeri. Kita balikkan sekarang, kita gelontorkan ke rakyat. Apa yang salah? Apa yang salah? Kalau Presiden Republik Indonesia dan pemerintah yang dia pimpin, ingin menggelontor uang kepada rakyatnya sendiri, yang salah apa? Uang ini adalah uang yang kita hemat dari korupsi. Uang yang tadinya pasti dikorupsi, kita tahan, kita realokasi, kita gelontor ke rakyat. Salahnya apa? Saya merasa, saya berada di jalan yang benar. Kita berada di jalan yang benar. Kita berada di pihak rakyat Indonesia. Siapa yang tidak di pihak rakyat, silakan, saya terus. Saya selalu akan berada di pihak bangsa dan rakyat Indonesia, Saudara-saudara sekalian.
Karena itu, saya ucapkan terima kasih dan selamat kepada semua pihak. Saya juga perintahkan, terus dikaji. Karena perkembangan teknologi berjalan terus. Saya minta kita objektif dan kita bersifat saintifik. Kita hitung secara matematik. Kalau proyek ini, walaupun kita canangkan dan kita adakan feasibility study, mulai satu tahun yang lalu, enam bulan yang lalu, kalau hari ini terjadi perkembangan teknologi, kita bisa mendapat teknologi yang lebih bagus, teknologi yang lebih murah, menghasilkan sesuatu yang lebih untung bagi rakyat, kita harus berani mengubah rencana, ya. Jadi, Saudara-saudara, Tim Satgas Hilirisasi, Danantara, kaji terus teknologi, ya. Kaji terus teknologi, lihat matematis, matematis, matematis. Tidak ada kepentingan lain. Yang paling efisien, menguntungkan rakyat, itu yang harus dijalankan.
Itu yang ingin saya sampaikan. Kita harus menjadi raksasa yang tidak tidur. Kita harus jadi raksasa yang bangun, dan kita akan bangun, kita akan menjadi negara yang hebat. Percaya itu. Saya sangat percaya. Sebetulnya, secara jujur, saya suka dengan kata-kata dari salah satu lagu favorit saya. Karena ada kata-kata itu, dalam lagu “Pertemuan”, kan, ada, ya. “Saya ingin hidup, seribu tahun lagi, karena saya ingin melihat, Indonesia jaya, rakyat Indonesia makmur, Indonesia dihormati, dibanggakan oleh bangsa-bangsa lain”, Saudara-saudara sekalian.
Saya kira itu dari saya. Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada siang hari ini, hari Rabu, 29 April 2026, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan sangat bangga, meluncurkan Groundbreaking Hilirisasi Tahap II Mencakup 13 Proyek Strategis Hilirisasi. Terima kasih
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om santi santi santi om,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan,
Rahayu rahayu.
Terima kasih. (*)