SRIPOKU.COM - Kawasan ikonik Pasar 16 Ilir Palembang kini tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Pusat perputaran ekonomi yang biasanya menjadi urat nadi perdagangan di Kota Palembang ini dilaporkan mengalami penurunan aktivitas yang cukup drastis.
Kondisi ini mencuat setelah akun Instagram @oypalembang mengunggah ulang video dari seorang warga dengan akun @kiagusariel.
Baca juga: Air Mancur Tugu Parameswara Palembang Bocor, Bundaran Jakabaring Licin, Pengendara Diminta Waspada
Dalam rekaman tersebut, sang pemilik akun menunjukkan suasana jalanan di pasar yang nampak lengang dari hiruk-pikuk pengunjung.
Padahal, video tersebut diambil pada jam-jam sibuk yang biasanya dipadati oleh pembeli dan kendaraan yang mengantre.
" Pasar sekarang parah banget, sepi luar biasa. Dulu jalanan di sini sampai macet, sekarang lengang sekali," katanya.
Menurutnya, perekonomian di kota Palembang semakin hancur sehingga membuat daya beli masyarakat makin menurun.
"Perekonomian makin hancur. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin," ungkapnya.
Unggahan tersebut langsung memicu berbagai komentar dari warganet. Banyak yang mengaitkan kondisi sepinya pasar dengan penurunan daya beli masyarakat akibat kenaikan harga kebutuhan pokok.
Selain itu, perubahan pola belanja masyarakat yang kini beralih ke platform digital atau toko online juga disebut menjadi salah satu penyebab menurunnya aktivitas di pasar tradisional.
Namun, tidak hanya faktor ekonomi, warganet juga menyoroti persoalan kenyamanan di kawasan Pasar 16 Ilir.
Sejumlah komentar menyinggung masih adanya praktik premanisme yang membuat pengunjung merasa tidak nyaman saat berbelanja.
Tak hanya itu, tarif parkir yang dinilai mahal juga menjadi keluhan. Beberapa warga mengaku tarif parkir mobil mencapai Rp10.000, ditambah pungutan parkir lain yang muncul di sejumlah titik sekitar pasar.
“Sekarang sudah malas ke pasar, parkir mobil saja Rp10 ribu, belum lagi pungutan lain,” keluh salah satu warganet.