TRIBUNNEWS.COM - Lebih dari separuh orang berusia di atas 50 tahun pernah mengalami wasir, menurut National Institutes of Health dan sumber medis lainnya.
Untuk membantu pasien dan tenaga medis menangani masalah umum ini, American Gastroenterological Association (AGA) baru-baru ini merilis pembaruan pedoman praktik klinis dalam jurnal Clinical Gastroenterology and Hepatology.
Mengutip Fox News, pembaruan ini berfokus pada pendekatan sederhana, dengan menekankan perubahan gaya hidup dibandingkan produk instan atau solusi cepat.
Ancaman Penyakit Jantung Diproyeksikan Meningkat Tajam pada Kelompok Demografis Tertentu
Wasir adalah pembengkakan pembuluh darah vena yang membesar dan dapat muncul di bagian dalam maupun luar anus.
Menurut Cleveland Clinic, kondisi ini bisa berkisar dari gangguan ringan hingga menyebabkan rasa sakit yang signifikan dan perdarahan rektal.
Salah satu poin utama dari pembaruan AGA adalah bahwa penanganan menjanjikan untuk wasir sering kali ditemukan di dapur, bukan di apotek. Para ahli menyebut peningkatan asupan serat sebagai “terapi lini pertama yang masuk akal.”
Dengan melunakkan tinja dan menambah volumenya, serat mengurangi kebutuhan mengejan, yang menjadi salah satu penyebab kambuhnya wasir.
Para ahli memperkirakan 1 dari 20 warga Amerika memiliki wasir yang cukup mengganggu.
Kondisi ini semakin umum seiring bertambahnya usia.
Wasir juga sangat sering terjadi selama kehamilan akibat meningkatnya tekanan pada area panggul, meski kasus seperti ini biasanya dapat ditangani dengan perawatan gejala konservatif.
Sebagian besar warga Amerika juga masih jauh dari asupan serat harian yang direkomendasikan.
Baca juga: Kenapa Wasir Sering Muncul Saat Hamil? Dokter Ungkap Tekanan Janin Jadi Pemicu Utama
Pedoman pola makan dari United States Department of Agriculture (USDA) merekomendasikan 22 hingga 28 gram serat per hari untuk wanita dan 28 hingga 45 gram untuk pria.
Namun, data menunjukkan bahwa 90 persen wanita dan 97% pria tidak memenuhi angka tersebut. AGA juga menyoroti bahwa kebiasaan di toilet turut menjadi faktor penyebab.
Di era ketika banyak orang membawa smartphone ke kamar mandi, duduk terlalu lama dan mengejan dapat meningkatkan tekanan pada area anus.
Pedoman terbaru menyarankan untuk menghindari sesi terlalu lama di toilet yang dapat memperburuk gejala.
Orang sering menggunakan sitz bath atau krim topikal saat pertama kali merasakan ketidaknyamanan, tetapi AGA menyatakan data yang mendukung efektivitas jangka panjangnya masih terbatas.
Pedoman tersebut juga memperingatkan agar tidak berlebihan menggunakan steroid topikal.
Meski dapat mengurangi peradangan, penggunaan lebih dari dua minggu dapat menyebabkan kulit menipis dan iritasi semakin parah.
Meski perubahan gaya hidup penting, AGA menekankan bahwa diagnosis yang tepat tetap krusial.
Karena perdarahan rektal terkadang bisa menjadi gejala kondisi yang lebih serius, pemeriksaan fisik dianjurkan sebelum memulai pengobatan apa pun.
Untuk kasus yang menetap atau parah, pasien mungkin memerlukan prosedur medis di klinik atau tindakan operasi.
(*)