TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Hary Marwata (63) menerima kunjungan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, di kediamannya.
Pertemuan berlangsung di rumah duka di Griya Asri 2, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, pada Rabu (29/4/2026) sore.
Hary merupakan ayah dari mendiang Nur Ainia Eka Rahmadhynna, salah satu korban meninggal dalam kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur.
Nur Ainia adalah karyawan KompasTV di bagian News Production Support. Ia telah mengabdi selama 11 tahun.
Ia menjadi salah satu dari 16 korban jiwa dalam peristiwa kecelakaan Kereta Api Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek PLB 4B relasi Gambir-Surabaya Pasarturi.
Kereta tersebut menabrak kereta rel listrik atau KRL Commuter Line PLB 5568A relasi Kampung Bandan-Cikarang.
Peristiwa itu terjadi di emplasemen Stasiun Bekasi Timur pada KM 28+920.
Kecelakaan berlangsung pada Senin (27/4/2026) malam, sekitar pukul 20.55 WIB.
Nur Ainia sempat dilaporkan hilang dan tidak dapat dihubungi oleh keluarga.
Kepastian meninggalnya perempuan berusia 32 tahun tersebut baru dikonfirmasi pada Selasa (28/4/2026) siang.
Jenazah dimakamkan pada Rabu (29/4/2026) pagi sekitar pukul 08.00 WIB.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, memberikan pembaruan data terkait kecelakaan tersebut pada Rabu siang.
Berdasarkan data per 29 April 2026 pukul 11.00 WIB, total korban mencapai 106 orang. Sebanyak 90 orang mengalami luka-luka.
Dari jumlah tersebut, 44 pasien sudah diperbolehkan pulang ke rumah, sementara 46 pasien lainnya masih dalam observasi.
Korban meninggal dunia tercatat sebanyak 16 orang.
Baca juga: Pesan Terakhir Nur Ainia Karyawati Kompas TV Sebelum Tewas di KRL Bekasi, Minta Dijemput Keluarga
Dalam pertemuan di rumah duka, Hary Marwata menyampaikan pertanyaan kepada Bobby Rasyidin mengenai risiko keselamatan layanan kereta api.
Ia menyoroti perkembangan zaman yang menurutnya sudah canggih.
"Ya memang kecelakaan enggak ada yang kita inginkan, cuma kadang-kadang apa ya, ini cuman, zaman secanggih ini kok keretanya seperti itu tuh loh Pak?" kata Hary.
Hary mengungkapkan kekhawatirannya akan sistem yang ada. Ia berharap adanya perbaikan dalam komunikasi antar kereta api.
"Nah, itu mungkin nanti Bapak pasti kena ke mana, saya sudah bayangin, Bapak. Pasti itu saya kayak begitu, zaman secanggih gini kecelakaannya kok begitu," ujar Hary.
Ia menambahkan saran konkret mengenai fasilitas di dalam gerbong.
"Zaman secanggih ini komunikasi, di gerbong, ke depannya ada alat komunikasi dua arah antar kereta untuk dibawa biar nggak ada kejadian seperti ini," tuturnya.
Bobby Rasyidin menanggapi pernyataan tersebut dengan sikap rendah hati. Ia duduk bersila di lantai rumah duka.
Bobby menyampaikan permohonan maaf dari PT KAI kepada keluarga atas kecelakaan yang terjadi.
"Jadi sekali lagi Pak, mohon maaf kami dari kereta api," kata Bobby.
Ia menjelaskan bahwa pihak PT KAI sedang melakukan investigasi mendalam bersama pihak terkait untuk mencari penyebab kecelakaan.
"Sebab-musababnya sedang kami lakukan investigasi bersama pihak-pihak terkait juga," jelasnya.
Bobby menyebut ia mengenal mendiang Nur Ainia karena seringnya KompasTV melakukan peliputan kegiatan PT KAI.
"Apalagi kan mungkin kami dengan beliau pernah ketemu juga mungkin, karena kan sering KompasTV melakukan liputan. Dan kita juga sering berkunjung ke KompasTV. Jadi mohon maaf ya, Pak," ujar Bobby.
Bobby menyatakan bahwa duka keluarga korban merupakan duka bagi seluruh keluarga besar PT KAI.
Baca juga: Sosok 16 Korban Tewas Insiden Tabrakan KRL di Bekasi Timur, Profesinya Guru hingga Tenaga Kesehatan
"Ini duka kami juga Pak, keluarga kereta api, perusahaan negara sangat berduka sekali," ucap Bobby.
Ia menegaskan bahwa peristiwa ini menjadi tanggung jawabnya sebagai pemimpin perusahaan.
"Ini memang tanggung jawab saya sekarang. Saya juga baru di perusahaan, jadi saya ngerasain,," tuturnya.
Investigasi yang dilakukan akan bersifat menyeluruh, mencakup aspek teknis maupun non-teknis.
"Kita akan lakukan investigasi detail, tidak hanya persoalan teknisnya juga, nanti akan kita lihat juga persoalan-persoalan yang non-teknisnya," kata Bobby.
Ia akan mengusut berbagai kemungkinan penyebab, baik technical error, human error, masalah lingkungan, maupun faktor eksternal lainnya.
"Apakah nanti, itu memang ada technical error atau malah human error, atau masalah lingkungannya, atau masalah eksternal yang lain ini nanti kita lakukan investigasi," jelasnya.
Bobby berkomitmen untuk menyampaikan hasil investigasi secara transparan kepada keluarga korban.
"Begitu hasil investigasinya keluar, saya izin saya akan menghadap Bapak lagi sama Ibu, tolong diingatin ya," janjinya.
Ia menegaskan komitmen PT KAI dalam mengutamakan keselamatan penumpang.
"Jadi, tanggung jawab kami ini bukan hanya mengangkut penumpang, tapi juga tanggung jawab menjaga keselamatan penumpang ini yang nomor satu," pungkas Bobby.