50 Persen DAS Serayu Kritis, UT Purwokerto Desak Restorasi Ikan Asli Lewat Ekonomi Hijau
Rustam Aji April 30, 2026 02:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS – Kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu saat ini berada dalam titik nadir dengan lebih dari 50 persen wilayahnya dinyatakan berstatus kritis.

Menanggapi ancaman ekologis tersebut, Universitas Terbuka (UT) Purwokerto mendesak langkah konkret lewat restorasi populasi ikan asli dan pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi hijau.

Ancaman Kepunahan Ikan Asli Dalam Focus Group Discussion (FGD) strategis di Banyumas, Rabu (29/4/2026), terungkap bahwa degradasi habitat dan pencemaran telah mengancam keberadaan spesies endemik Serayu.

Ikan-ikan asli seperti Nilem, Baceman, Senggaringan, Tor/Kancra, Sidat, hingga Udang Galah kini semakin langka akibat praktik penangkapan yang tidak ramah lingkungan.

20260430-PEDULI SERAYU-UT
PEDULI SERAYU - Universitas Terbuka Purwokerto menunjukkan komitmen kuatnya dalam mendukung pelestarian ekosistem perairan darat melalui kehadiran aktif dalam Focus Group Discussion (FGD) pengembangan kawasan konservasi perikanan berbasis masyarakat di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu, Rabu (29/4/2026).

Direktur UT Purwokerto, Dr. Prasertyarti Utami, menegaskan bahwa penyelamatan sungai ini bukan sekadar urusan lingkungan, melainkan menyangkut ketahanan ekonomi warga di sepanjang aliran sungai.

Baca juga: UT Purwokerto gelar Gema Mujahadah, Ingatkan akan Kewajiban Mencari Ilmu

"Kami melihat ini sebagai langkah strategis bagi masa depan kesejahteraan masyarakat. UT Purwokerto siap berkontribusi melalui pendekatan akademik, riset, dan penguatan edukasi untuk memastikan konservasi ini berdampak nyata," ujar Dr. Prasertyarti.

Strategi 'Mengembalikan Nadi Serayu' Forum tersebut merumuskan konsep “Mengembalikan Nadi Serayu” yang bertumpu pada tiga pilar utama.

Pertama, pembentukan Lubuk Larangan sebagai area konservasi partisipatif masyarakat. Kedua, restorasi ikan asli berbasis pembenihan (hatchery) di tingkat desa, dan ketiga, pengembangan desa konservasi untuk memicu pertumbuhan ekonomi hijau.

Prof. Dr. Ir. Endang Hilmi, yang membuka forum tersebut, menekankan perlunya blueprint atau cetak biru pengelolaan DAS Serayu yang berkelanjutan. Ia juga mendorong keterlibatan aktif sektor bisnis dan media untuk memperkuat pengawasan di lapangan.

Sinergi Akademisi dan Masyarakat Keterlibatan UT Purwokerto dinilai krusial untuk memberikan landasan sains pada setiap kebijakan yang diambil. Selain penelitian, UT berencana mengintegrasikan program pelestarian ini ke dalam kegiatan pengabdian masyarakat dan melibatkan mahasiswa secara langsung di laboratorium alam Serayu.

Pertemuan ini dihadiri oleh lintas sektoral, mulai dari Dinas Perikanan tingkat provinsi dan kabupaten, penyuluh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), hingga Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) sebagai garda terdepan penjaga sungai.

Dengan sinergi ini, DAS Serayu diharapkan tidak hanya pulih secara ekologis, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak ekonomi baru bagi masyarakat sekitar melalui tata kelola perikanan yang berkelanjutan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.