TRIBUNNEWSMAKER.COM - Usai pernyataannya viral terkait insiden kecelakaan kereta di Bekasi Timur, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Choiri Fauzi, akhirnya menyampaikan permohonan maaf kepada publik.
Sebelumnya, Arifah menjadi sorotan setelah komentarnya mengenai posisi gerbong khusus perempuan menuai kontroversi.
Pernyataan tersebut dinilai kurang tepat oleh sebagian masyarakat hingga memicu gelombang kritik di berbagai platform, terutama media sosial.
Polemik ini pun dengan cepat berkembang dan menjadi perbincangan luas.
Banyak pihak menilai pernyataan tersebut sensitif, mengingat insiden kecelakaan kereta yang terjadi di Bekasi Timur masih menyisakan duka.
Menanggapi hal itu, Arifah tidak tinggal diam. Ia menyadari bahwa ucapannya telah menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat.
Baca juga: Respon Tegas KPK soal Diancam Digugat Rp 300 T oleh Noel Ebenezer: Lebih Baik Fokus ke Persidangan
Dalam klarifikasinya, ia secara terbuka mengakui kekeliruan dalam penyampaiannya.
“Dalam pernyataannya, Arifah mengakui bahwa ucapannya kurang tepat dan menimbulkan ketidaknyamanan.”
Permohonan maaf tersebut disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus upaya meredam polemik yang berkembang.
Ia juga diharapkan dapat menjadi pelajaran agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan, terutama terkait isu sensitif yang menyangkut publik luas.
“Terkait pernyataan saya pasca insiden kecelakaan kereta di Bekasi Timur, saya menyadari bahwa pernyataan tersebut kurang tepat. Untuk itu, saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat, khususnya kepada para korban dan keluarga korban yang merasa tersakiti atau tidak nyaman atas pernyataan tersebut,” ujar Arifah, dikutip dari Tribunnews.com, Kamis (30/4/2026).
Ia menegaskan tidak memiliki niat untuk mengabaikan keselamatan penumpang lain.
Menurutnya, dalam situasi duka, perhatian utama seharusnya difokuskan pada penanganan korban serta empati kepada keluarga terdampak.
“Tidak ada maksud dari saya untuk mengabaikan keselamatan penumpang lainnya. Saya memahami bahwa dalam situasi duka seperti ini, yang menjadi fokus utama adalah keselamatan, penanganan korban, serta empati kepada seluruh keluarga yang terdampak,” jelasnya.
Baca juga: Geger di Mekkah, 3 WNI Ditangkap Diduga Tawarkan Jasa Haji Ilegal ke Jamaah: Penipuan & Penggelapan
Arifah menegaskan bahwa keselamatan seluruh masyarakat tanpa memandang gender merupakan prioritas utama pemerintah.
Saat ini, kata dia, fokus utama pemerintah adalah memastikan penanganan terbaik bagi seluruh korban, baik yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka.
“Kita semua sepakat bahwa keselamatan seluruh masyarakat adalah prioritas nomor satu, baik perempuan maupun laki-laki,” tegasnya.
Ia juga menyebut penanganan korban dilakukan sesuai arahan Presiden secara cepat, adil, dan menyeluruh.
Kementerian PPPA turut memastikan hak-hak korban, termasuk anak-anak yang kehilangan orang tua, tetap terlindungi.
“Kementerian PPPA hadir untuk memastikan hak korban dan anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya dalam tragedi ini tidak terabaikan,” ucapnya.
Sebagai bentuk komitmen, Kementerian PPPA akan memberikan pendampingan psikologis kepada korban maupun keluarga yang mengalami trauma.
Arifah juga mengajak seluruh pihak untuk memusatkan perhatian pada penanganan korban serta perbaikan sistem keselamatan transportasi publik ke depan.
“Mari kita bersama-sama memusatkan perhatian pada penanganan korban, doa, serta upaya perbaikan sistem keselamatan transportasi publik agar tragedi serupa tidak kembali terjadi. Keselamatan seluruh penumpang harus menjadi prioritas tertinggi dalam setiap kebijakan transportasi ke depan,” pungkasnya.
Sebelumnya, Arifah mengusulkan perubahan penempatan gerbong khusus perempuan pada rangkaian KRL.
Usulan tersebut disampaikan kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI) saat meninjau korban di RSUD Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026).
Menurutnya, selama ini gerbong khusus perempuan ditempatkan di bagian depan dan belakang untuk menghindari penumpukan penumpang.
Namun, ia mengusulkan agar posisi gerbong perempuan dipindahkan ke bagian tengah rangkaian.
“Kalau bisa gerbong perempuan ditempatkan di tengah,” ujarnya.
Arifah beralasan posisi tersebut dinilai lebih aman dalam situasi darurat atau kecelakaan.
Ia juga mengusulkan agar gerbong bagian depan dan belakang diisi penumpang laki-laki.
“Jadi yang laki-laki di ujung depan dan belakang sementara yang perempuan di tengah,” jelasnya.
(Tribunnewsmaker.com/Tribun-Sulbar.com)