POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Setelah puluhan tahun menanti, langkah kaki Juriah akhirnya sampai di pintu Masjid Agung Darussalam, Manggar, Kamis (30/4/2026). Di usianya yang kini menginjak 76 tahun, ia tampak tetap sehat dan penuh semangat menunaikan ibadah haji.
Sejak pukul 09.00 WIB, pelataran masjid telah dipadati ratusan keluarga yang mengantar keberangkatan jemaah. Suasana bercampur antara kebahagiaan, haru, dan kecemasan mewarnai momen perpisahan menuju Tanah Suci.
Juriah hadir dengan sehelai kain berwarna ungu bertuliskan Kabupaten Belitung Timur yang melingkar di lehernya sebagai identitas jemaah. Ia tak sendiri, anak dan cucunya setia mendampingi, memberikan pelukan hangat sebelum keberangkatan.
Di dalam masjid, suasana semakin khidmat. Lantunan talbiyah menggema, mengiringi momen perpisahan yang sarat emosi. Juriah sesekali menyeka air mata yang tak terbendung, tanda haru atas penantian panjang yang akhirnya terwujud.
Juriah termasuk dalam daftar jemaah prioritas yang diminta langsung oleh Pemerintah Kabupaten Belitung Timur untuk menaiki mobil dinas Bupati.
"Oh senang, senang sekali. Dapat prioritas dari Pak Bupati. Makasih banyak, Pak Bupati," ujar Juriah.
Senyum terpancar dari wajahnya yang sudah dihiasi kerutan usia. Juriah berkali-kali mengucap syukur. Ia mengungkapkan kebahagiaannya untuk bisa berangkat haji di usia senja.
"Mudah-mudahanlah menjadi haji yang mabrur. Diberi kekuatan dan kesehatan di sana nanti," ucapnya.
Juriah menyadari bahwa ibadah haji adalah ibadah fisik yang berat. Di usia 76 tahun, Juriah hanya bisa memohon agar kakinya tetap kuat melangkah saat melakukan tawaf dan sa'i di bawah matahari Mekkah nanti.
Juriah megatakan bahwa ia telah melakukan persiapan fisik, menjaga pola makan dan mencoba berjalan kaki kecil di sekitar rumahnya di Desa Baru. Sebisa mungkin Juriah tak ingin merepotkan jemaah lain atau petugas selama di sana.
"Harapannya cuma satu, bisa beribadah dengan lancar. Fokus untuk ibadah saja," ungkapnya.
Setelah rangkaian acara pelepasan di dalam masjid selesai, suasana di halaman semakin riuh. Para pengantar mengerubungi jalur kendaraan, ingin melihat wajah keluarga mereka untuk terakhir kalinya sebelum berangkat.
Satu per satu jemaah memasuki kendaraan. Juriah diarahkan menuju mobil BN 1 bersama dua jemaah lansia lainnya.
Anak-anak Juriah berdiri di barisan depan, melambaikan tangan disertai mata yang sembab. Juriah membalas lambaian itu disertai senyum.
Iring-iringan kendaraan pun mulai bergerak perlahan meninggalkan Masjid Agung Darussalam. Juriah terus melambaikan tangannya dari balik kaca jendela yang hingga sosoknya menghilang dari penglihatan.
Halaman Masjid Agung pun perlahan mulai sepi, menyisakan para pengantar yang juga bersiap untuk beranjak dari parkiran. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)