Rupiah Tertekan ke Rp17.346 per Dolar AS, Dipicu Faktor Global dan Fundamental Domestik
Mursal Ismail April 30, 2026 10:40 PM

SERAMBINEWS.COM - Pelemahan rupiah mencerminkan kombinasi tekanan global dan masalah fundamental domestik, mulai dari keluarnya dana asing, tingginya biaya energi, hingga terbatasnya cadangan devisa. 

Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar serta kepercayaan investor.

Nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dollar AS terus menghadapi tekanan.

Kurs rupiah di pasar spot sore tadi melemah dan menyentuh level Rp 17.346 per dollar AS.

Nilai tukar rupiah bahkan diproyeksikan dapat bergerak fluktuatif dan kemungkinan bisa menyentuh level Rp 17.350 hingga Rp 17.400 per dollar AS pada perdagangan pekan depan.

Peneliti Center of Macroeconomics and Finance INDEF Abdul Manap Pulungan menjelaskan, di sisi lain, cadangan devisa Indonesia per Maret 2026 berada di level yang dinilai cukup kecil yakni 148,2 miliar dollar AS.

Baca juga: Rupiah Melemah Tembus Rp17.100 per Dolar AS, Bank Indonesia Siaga 24 Jam Jaga Stabilitas

"Memang salah satunya yang harus dilakukan selain intervensi di pasar adalah BI, Kemenkeu, dan KSSK dapat memberikan sinyal yang positif, bukan yang hanya narasi," kata dia dalam Diskusi Publik "2 Bulan Perang Israel-AS vs Iran: Waspada Dampak ke Perekonomian, Kamis (30/4/2026).

Ia menambahkan, masalah rupiah ini bukan hanya masalah dari sisi moneter, tetapi juga masalah fiskal hingga melingkupi ketahanan energi.

Ia berpandangan, hal tersebut dapat membuat investor urung untuk mengkoleksi portofolio dari Tanah Air.

"Ini menjadi sinyal bagi pemerintah, tingkat kepercayaan investor global sedang menurun yang terlihat dari bagaimana investor melepas portofolio di dalam negeri," imbuh dia.

Kombinasi faktor-faktor tersebut menekan nilai tukar rupiah semakin melemah terhadap dollar AS.

Manap menjelaskan, tiga instrumen yang menarik dana asing seperti saham, Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) saat ini sedang mengalami tekanan.

"Sekarang yang masih positif itu SBN, SRBI dan saham sedang menguap, lagi panas, jadi tidak keru-keruan," ungkap dia.

Baca juga: Militer AS Kehilangan 16 Drone Canggih MQ-9 Reaper dalam Perang Iran, Rugi Capai Triliunan Rupiah

Oleh karena itu, penguatan rupiah saat ini menjadi tanggung jawab banyak pihak dari tiga sektor tersebut selain intervensi yang dapat dilakukan BI. (*)

Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/04/30/182225226/rupiah-melemah-drastis-apa-penyebab-dan-dampaknya-pada-ekonomi

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.