Jakarta (ANTARA) - Indonesia menekankan pentingnya kemitraan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan pelaku usaha serta perlunya menjaga sistem internasional yang terbuka, adil, dan stabil melalui kerja sama ASEAN-Uni Eropa.
Pertemuan ke-25 tingkat menteri luar negeri (menlu) antara ASEAN dan UE atau AEMM berlangsung pada Senin (27/4) dan Selasa (28/4) lalu di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, dengan dihadiri Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Arrmanatha C. Nasir mewakili Menlu Sugiono.
"Di pertemuan ini, Indonesia secara umum menyampaikan sejumlah hal, yaitu kemitraan ASEAN dan Uni Eropa yang harus atau dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat dan pelaku bisnis," kata Juru bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang di Jakarta, Kamis.
Selain itu, Indonesia mendorong reformasi sistem multilateral dan penguatan kolaborasi ASEAN-UE untuk mewujudkan tata kelola global yang lebih inklusif, responsif, dan relevan dengan dinamika dunia saat ini.
Yvonne juga menyampaikan bahwa AEMM ke-25 itu menyepakati pernyataan bersama yang memuat prioritas kerja sama di bidang energi, pangan, konektivitas, transformasi digital, maritim, dan perdagangan, serta memperkuat arah kemitraan strategis kedua kawasan.
Pertemuan yang dipimpin bersama Brunei dan Uni Eropa (UE) itu dihadiri 11 menlu negara anggota ASEAN dan 26 menlu negara UE serta menjadi momentum penting menjelang 50 tahun hubungan ASEAN-UE pada 2027.
Di sela-sela pertemuan AEMM itu, Arrmanatha juga mengadakan pertemuan kehormatan dengan menlu Brunei dan perwakilan tinggi Uni Eropa, serta pertemuan bilateral dengan sejumlah delegasi negara peserta.





