SURYA.co.id – Kecelakaan kereta api yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur memicu sorotan tajam dari berbagai pihak.
Salah satunya datang dari politikus Partai Golkar, Firnando Ganinduto, yang mendesak Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin untuk mengundurkan diri.
Tragedi tabrakan antara Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek tersebut menyebabkan 16 orang meninggal dunia.
Secara keseluruhan, jumlah korban dalam insiden ini mencapai 106 orang, termasuk korban luka.
Firnando menyampaikan duka mendalam atas peristiwa tersebut dan mengajak masyarakat tetap mengacu pada informasi resmi dari pemerintah.
"Insiden ini merupakan indikasi kuat adanya kegagalan sistemik dalam manajemen operasional yang seharusnya mampu mencegah tabrakan antar kereta di jalur yang sama," kata Firnando pada, Selasa (28/4/2026).
Sebagai anggota Komisi VI DPR RI yang menjadi mitra kerja PT KAI, ia menilai perlu adanya evaluasi menyeluruh, terutama pada sistem KRL yang dinilai tidak mampu mendeteksi keberadaan kereta di depannya.
Firnando menekankan bahwa dalam sistem perkeretaapian modern, teknologi seperti automatic signaling, train protection system, hingga fail-safe mechanism seharusnya mampu mencegah kecelakaan, bahkan dalam kondisi human error.
"Ketidakmampuan sistem dalam mengantisipasi kondisi tersebut menunjukkan adanya celah serius dalam integrasi teknologi dan pengawasan operasional," ucapnya.
Ia juga menilai bahwa insiden ini mencerminkan lemahnya implementasi manajemen keselamatan yang seharusnya menjadi prioritas utama dalam transportasi publik.
Baca juga: Belajar dari Kasus Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL, Begini Cara Evakuasi Mobil Listrik Mogok
Firnando menegaskan bahwa kecelakaan fatal seperti ini tidak bisa hanya dibebankan pada petugas teknis di lapangan, melainkan menjadi tanggung jawab manajemen puncak.
"Ada pertanyaan mendasar mengenai efektivitas pengawasan, kesiapan sistem keselamatan, serta standar operasional yang diterapkan. Ini adalah tanggung jawab manajemen puncak, kami mendesak dirut KAI untuk mengundurkan diri," ujarnya.
Selain desakan mundur, Firnando juga mendorong dilakukannya audit menyeluruh terhadap sistem operasional PT KAI, termasuk komunikasi antar stasiun, prosedur darurat, serta teknologi pengendalian kereta.
Ia juga meminta Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk mengungkap hasil investigasi secara transparan demi mengembalikan kepercayaan publik.
Menurut Firnando, insiden ini harus menjadi titik balik bagi PT KAI untuk melakukan reformasi serius dalam sistem keselamatan.
"Dengan meningkatnya volume penumpang dan frekuensi perjalanan kereta, kebutuhan akan sistem yang lebih canggih, responsif, dan berlapis menjadi tidak terelakkan. Keselamatan publik adalah prioritas utama. Tidak boleh ada kompromi dalam hal ini,” pungkasnya.
Firnando Ganinduto adalah seorang politisi Indonesia dari Partai Golkar yang lahir di Jakarta pada 16 Mei 1965.
Ia dikenal sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Tengah dan aktif dalam pembahasan berbagai isu strategis nasional, khususnya di bidang infrastruktur, transportasi, serta konektivitas wilayah.
Sebelum terjun ke dunia politik, Firnando memiliki latar belakang sebagai pengusaha yang bergerak di sektor properti, perdagangan, dan jasa, yang kemudian turut membentuk perspektifnya dalam mendorong kebijakan pembangunan dan ekonomi.
Meski cukup aktif di ruang publik sebagai wakil rakyat, ia dikenal menjaga kehidupan pribadinya tetap tertutup dari sorotan media.
Riwayat Pendidikan:
Riwayat Jabatan:
Teka-teki di balik kecelakaan dahsyat antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur masih terus ditelusuri.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) kini tengah menyelidiki, apakah komponen baterai taksi listrik yang mogok di rel mampu melumpuhkan sistem persinyalan kereta api?
Dugaan ini mencuat setelah sistem peringatan dini diduga gagal mendeteksi adanya rintangan di perlintasan Bulak Kapal, memicu tabrakan maut pada Senin (27/4/2026) malam pukul 20.55 WIB.
Pengamat transportasi dari ITB, Sony Sulaksono Wibowo, mengatakan kejadian ini menunjukkan ada risiko baru dari mobil listrik di area rel kereta.
Menurutnya, komponen listrik pada mobil tersebut memiliki energi besar yang bisa mengganggu sistem sinyal kereta yang terbuat dari besi.
Hal inilah yang diduga kuat membuat sistem gagal memberikan sinyal bahaya (warning) kepada kereta yang melaju di belakangnya.
"Taksi itu kan mogok di tengah rel yang dari besi, jadi ada kemungkinan memengaruhi sinyal. Harusnya kalau kejadian tabrakan seperti itu ada warning buat kereta api sebelumnya," ujar Sony, Selasa (28/4/2026).
Sony menambahkan bahwa karakteristik gangguan ini jauh berbeda dengan mobil konvensional (BBM).
Sony mendorong KNKT untuk melakukan uji teknis khusus.
"Memang ada kecurigaan yang ditabraknya itu mobil listrik ya, yang punya komponen-komponen elektrik yang mungkin bisa memengaruhi persinyalan. Ini mungkin ada penyidikan lebih jauh terutama dari KNKT," lanjutnya.
Mengapa Lokomotif Argo Bromo Bisa Menembus Gerbong KRL?
Selain masalah persinyalan, publik dikejutkan dengan kondisi rangkaian KRL yang hancur total setelah dihantam lokomotif KA Argo Bromo Anggrek.
Sony menjelaskan bahwa fenomena tragis ini terjadi karena perbedaan massa yang sangat signifikan.
"Kalau terkait KA Argo Bromo nembus ke gerbong KRL karena Argo Bromo-nya kan lokomotif. Lokomotif itu beratnya sekitar 120 sampai 140 ton, sementara yang ditabrak gerbong kereta kosong rangka doang, paling beratnya sekitar 40-60 ton makanya sampai hancur," ungkap Sony.