TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Sejumlah disabilitas terlihat sibuk melayani pengunjung di tempat penjualan kambing kurban Mutiara Eva Farm, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta pada Jumat (1/5/2026) sore.
Ahmad Dodi, menjadi salah satu disabilitas yang aktif dalam menjual produk kambing kurban Mutiara Eva Farm. Ia tampak cekatan dan siap melayani setiap pembeli kambing kurban dengan nada ramah.
Rupanya, sudah sebulan terakhir, ia mulai bergabung menjadi salah satu pekerja sales di Mutiara Eva Farm. Ia sengaja bekerja sebagai sales hewan kurban kambing dikarenakan ingin memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Kami sebagai difabel, kadang kan susah mencari pekerjaan yang formal seperti teman-teman lain. Maka, ketika mendapat kesempatan, saya memilih untuk gabung bekerja di sini (Mutiara Eva Farm)," katanya, kepada awak media.
Usai sebulan bergabung menjadi sales di Mutiara Eva Farm, ia merasa senang. Sebab, pendapatan Dodi mulai terbantu dengan baik. Apalagi, ia kerap mendapat komisi tambahan atau bonus setiap berhasil menjual kambing kurban.
"Alhamdulillah saya merasa senang, karena ekonomi saya terbantu. Dari pendapatan penjualan kambing ini, alhamdulillah kebutuhan saya sehari-hari bisa terpenuhi," jelas dia.
Selama ini, Dodi aktif menjual produk kerajinan tangan secara online. Hanya saja, belakangan ini produk yang ia jual tidak ramai terjual. Bahkan, tidak setiap hari ada konsumen yang membeli produk kerajinan tersebut.
Laki-laki 27 tahun ini mengaku bahwa menjual kambing kurban ternyata memiliki tantangan sendiri. Apalagi, kambing kurban itu juga dimasukkan ke kandang yang cukup tinggi, sedangkan ia harus menggunakan kursi roda.
"Kalau saya kesulitannya, mungkin ketika yang di atas-atas ini. Jadi, kadang itu kan kalau pembeli sudah cocok (dengan kambing kurban di kandang yang tinggi), kalau mau nuruninnya kan susah. Jadi, kadang minta tolong ke yang beli untuk ambil sendiri hewan kurbannya," jelas dia.
Bersyukurnya, selama ini pelanggan hewan kurban tersebut telah memahami kondisi Dodi, sehingga tidak ada pelanggan yang merasa keberatan saat diminta tolong untuk mengambil hewan kurban mandiri.
Lain halnya dengan proses perawatan kambing kurban. Kata Dodi, sudah ada tim Mutiara Eva Farm sendiri yang rutin memberikan perawatan maupun makan kepada hewan kambing kurban.
"Alhamdulillah banyak (yang beli hewan kurban di Mutiara Eva Farm). Karena, pembeli tahu kalau kambing-kambing di sini sehat. Perawatan dan kebersihan kandang di sini kan juga bagus-bagus," ujar dia.
Namun, dikarenakan Dodi berasal dari Kabupaten Kulon Progo, maka setiap pulang pergi bekerja di Mutiara Eva Farm selalu diantar jemput oleh keluarga.
Demikian pula dengan Sugiyanto (30), salah satu disabilitas yang aktif dalam menjual produk kambing kurban Mutiara Eva Farm.
"Saya bisa jadi sales kurban kambing di sini karena tertarik. Cuma ya ada kendala perjalanan yang jauh, karena saya dari Kulon Progo. Jadi, kalau ke sini kadang naik bus, kadang diantar jemput bareng sama teman-teman," ucap dia.
Ia mengaku memiliki basic sebagai penjual, namun tidak menjual hewan kurban. Tak heran jika terkadang, ia merasa sedikit kesulitan menawarkan hewan kurban itu kepada pelanggan.
"Tapi ya begitu bisa ikut dan praktek langsung ke lapangan jadi menyenangkan. Alhamdulillah, hari ini saya juga sudah menjual lima kambing kurban," jelasnya.
Dia pun mengaku merasa senang bisa diterima bekerja sebagai sales kambing kurban. Sebab, pekerjaan itu dapat menambah pemasukan, mengingat selama ini dia hanya bekerja sebagai serabutan.
"Jadi, ya alhamdulillah sangat membantu dan menambah masukan ekonomi. Jadi, bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari juga," ujarnya.
Sementara itu, Pemilik Mutiara Eva Farm, Adi Karnadi, mengaku pada momen menjelang Iduladha ini sengaja mengajak teman-teman disabilitas untuk terlibat sebagai sales kambing kurban.
"Biasanya, momen menjelang Iduladha saya kan pakai sales promotion girl (SPG) dan mahasiswi untuk kerja jual hewan kurban. Tapi, tahun ini, saya pengen beda yakni mengajak teman-teman difabel bekerja sebagai sales kambing kurban," ujarnya.
Tindakan itu ia ambil karena ingin menerapkan sila kelima yakni Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Apalagi, belakangan ini cukup sulit bagi difabel mendapatkan pekerjaan.
"Tahun ini saya mengajak teman difabel karena saya ingin membuktikan bahwa difabel itu mampu memberikan kesempatan yang sama. Ternyata, peran difabel itu luar biasa. Ketika diberikan kesempatan, mereka semangat untuk bekerja," jelas dia.
Selain itu, jam kerja difabel dinilai tepat waktu karena mereka benar-benar berjuang mencari rezeki untuk keluarga. Ternyata, hal itu berdampak positif terhadap penjualan kambing kurban.
"Konsep di sini, kami juga memberikan bonus kepada sales seperti tahun-tahun sebelumnya. Penjualan satu ekor kambing, saya berikan bonus Rp100 ribu. Itu belum gajinya. Jadi, mereka datang tepat waktu dan ternyata kerjanya luar biasa," ucap dia.
Pada momen menjelang Iduladha tahun ini, setidaknya sudah ada 260 ekor kambing kurban yang laku terjual. Di mana, hewan kurban kambing yang disediakan pada tahun ini mencapai sekitar 700 ekor kambing dengan harga jual mulai Rp2 juta sampai Rp7 juta per ekor.
"Tapi, kerja mereka tidak kami target. seumpama difabel ada waktu ya bisa datang, kalau tidak ada waktu ya tidak datang tidak apa-apa. Karena teman-teman difabel yang kerja di sini kan ada pekerjaan lain, ada yang jualan online, atlet, jualan makanan, dan jahit," ucap dia.
Adapun keterlibatan difabel tersebut hanya sebatas menjual kambing kurban dan memberikan makan rumput. Sebab, pihaknya memahami bahwa untuk merawat kambing kurban membutuhkan usaha keras.
"Untuk proses rekrutmen mereka saya broadcast melalui pesan siapa yang mempunyai keluarga difabel dan ingin bekerja, silakan jadi marketing atau sales di Mutiara Eva Farm. Dan alhamdulillah ada empat orang yang mau bergabung di sini," tuturnya.
Aris Supri Hadi (64), warga Kabupaten Bantul, sempat bertanya ketika tahun ini ada teman-teman difabel yang aktif menjadi sales di Mutiara Eva Farm, bukan SPG atau mahasiswi sejenisnya.
"Saya kan langganan beli kambing kurban di sini. Enggak kaget sih, tapi kok biasanya ada sales mahasiswi dan sebagainya, tapi tiba-tiba ini teman-teman difabel," ucapnya.
Kendati begitu, ia memberikan apresiasi kepada pemilik yang sudah mau melibatkan teman-teman difabel dalam mencari rezeki. Ia pun sempat terkesan dengan penjabaran mengenai produk dan harga kambing kurban dari teman-teman difabel.
"Dan barusan ini, saya beli satu kambing untuk kurban Iduladha. Saya beli yang harga Rp5 juta. Itu sehat dan gendut-gendut hewannya," tandas dia.(nei)