WARTAKOTALIVE.COM – Harapan publik dunia untuk melihat berakhirnya krisis energi global dan ketegangan di Timur Tengah kembali menemui jalan buntu.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan ketidakpuasannya terhadap proposal perdamaian terbaru yang diajukan oleh Iran melalui mediator Pakistan.
Meski gencatan senjata telah berlangsung sejak 8 April, bayang-bayang kembalinya perang besar kini kembali menguat.
Baca juga: Obrolan Gedung Putih: Trump Blak-blakan Soal Borok Harry-Meghan, Sebut William Calon Raja Hebat
Trump: Kesepakatan atau Kehancuran total
Berbicara kepada awak media di Gedung Putih sebelum keberangkatannya pada Jumat (1/5/2026), Trump menegaskan bahwa persyaratan yang diajukan Teheran tidak masuk akal bagi Washington.
Dengan gaya bicaranya yang tajam, ia memberikan peringatan keras jika jalur diplomasi ini menemui kegagalan total.
"Mereka meminta hal-hal yang tidak bisa saya setujui," ujar Trump dengan nada tegas, seperti dilansir www.aljazeera.com.
Ia menambahkan bahwa meski dirinya lebih memilih kesepakatan untuk mencegah pertumpahan darah lebih lanjut, ia tidak akan ragu untuk menghancurkan kekuatan lawan jika negosiasi tetap menemui jalan buntu.
"Saya akan menghancurkan mereka (blast them away) jika negosiasi gagal," ancamnya.
Negosiasi Mandek dan Jalur Vital yang Terkunci
Upaya perdamaian yang dimediasi di Islamabad sebelumnya telah berlangsung selama 21 jam namun gagal menghasilkan kerangka kerja dasar.
Dunia internasional saat ini sangat menantikan dibukanya kembali Selat Hormuz—jalur nadi bagi 20 persen pasokan minyak dan gas alam dunia—yang lumpuh akibat konflik ini.
Baca juga: Donald Trump Akan Segera Merilis Berkas Temuan UFO oleh NASA
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Teheran tetap terbuka pada diplomasi.
Namun, ia menuntut Washington untuk mengubah retorika yang bersifat mengancam dan pendekatan ekspansionisnya.
Iran juga memperingatkan bahwa mereka siap melanjutkan perang dan menyerang kepentingan AS serta infrastruktur energi jika tuntutan mereka diabaikan.
Pertaruhan Harga Diri Dua Kekuatan Besar
Para pengamat menilai bahwa kebuntuan ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan pertaruhan harga diri.
Sultan Barakat, profesor kebijakan publik dari Hamad Bin Khalifa University, menyebut kedua belah pihak sebenarnya sangat ingin mengakhiri konflik, namun tidak ingin terlihat lemah di mata dunia.
"Kedua belah pihak benar-benar putus asa untuk mengakhiri perang ini dengan cara yang memungkinkan mereka untuk menyelamatkan muka," jelas Barakat.
Meskipun Iran tidak mencoba menembus blokade laut AS secara fisik dan memilih jalur diplomasi lewat Pakistan, tuntutan inti Trump mengenai jaminan program nuklir tetap menjadi batu sandungan terbesar dalam mencapai perdamaian abadi.