Tak Sanggup Antre Lama di SPBU, Pemilik Mobil Pribadi di Tanahlaut Pilih Beli Solar Eceran
Ratino Taufik May 02, 2026 07:51 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID - KETERBATASAN pasokan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar subsidi masih menjadi tantangan di berbagai daerah di Kalimantan Selatan, termasuk di Tanahlaut (Tala).

Salah satu pengelola SPBU di Tala H Junaidi menuturkan distribusi solar subsidi yang diterima pihaknya sejauh ini belum mampu sepenuhnya mengimbangi kebutuhan di lapangan.

“Selama satu bulan ada sebanyak 13 kali pasokan, masing-masing 8.000 liter, itu belum termasuk jatah untuk nelayan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (1/5).

Harga solar subsidi masih tetap Rp 6.800 per liter. Namun di sisi lain, harga solar nonsubsidi jenis Dexlite melonjak menjadi Rp 23.600 per liter dari sebelumnya Rp 14.200 sejak 18 April 2026, mengikuti penyesuaian harga minyak dunia.

Pencermatan media ini, kondisi tersebut memicu perubahan perilaku konsumen. Pengguna kendaraan pribadi berbahan bakar solar berupaya membeli di SPBU karena selisih harga yang kian besar.

Sebelumnya sebagian pemilik mobil pribadi berbahan solar, masih merasa tak begitu berat membeli solar nonsubsidi ketika tak tahan ikut antrean yang panjang karena harganya saat itu masih Rp 14.200 liter.

Baca juga: Remaja Kembali Balapan Motor Dekat SMPN 18 Banjarmasin, Pemicunya dari Gengsi Hingga Cari Perhatian

Namun tak mudah memang mendapatkan solar subsidi di SPBU. Ini karena umumnya mulai terjadi antrean sekitar beberapa jam sebelum jadwal kedatangan solar subsidi.

Kondisi itu umumnya tak memungkinkan bagi para pemilik mobil pribadi untuk ikut antre karena harus menunggu selama berjam-jam. Bahkan kadang adakalanya hingga nginap semalaman saat antre.

“Jadi ya terpaksa beli solar nonsubsidi. Terasa banget bedanya, tapi apa boleh buat. Kemarin saya ngisi 35 liter, uangnya Rp 800 ribu lebih,” ujar Yandi, warga Pelaihari.

Sementara itu Burhani, pemilik mobil pribadi berbahan bakar solar, mengaku sejak dulu hingga sekarang memilih membeli solar eceran.

Alasannya karena tak tahan ikut antre solar subsidi di SPBU yang perlu waktu berjam-jam, sedangkan mobil ia perlukan untuk mobilitas harian. “Sekarang solar eceran juga ikut naik. Kemarin beli, seliternya Rp 16 ribu. Kalau sebelumnya kan sekitar Rp 12-13 ribu,” sebutnya.

H Junaidi mengatakan antrean solar subsidi memang sulit dihindari ketika antara supply dan demand tak berimbang. Menurutnya, meningkatnya pembeli solar subsidi merupakan konsekuensi logis dari disparitas harga yang kian lebar.

Mengenai adanya kelangkaan BBM subsidi berupa solar sebenarnya sudah diprediksi oleh beberapa pihak, mengingat beberapa faktor antara lain peningkatan konsumsi, gangguan produksi, dan distribusi yang tidak lancar.

Dr Ir Syahrial Shaddiq MEng MM MSi, akademisi FEB ULM, mengatakan, faktor yang melantarinya antara lain peningkatan konsumsi BBM subsidi karena harga yang relatif murah.

“Kemudian gangguan produksi dan distribusi BBM. Penyalahgunaan BBM subsidi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dan kurangnya pengawasan serta penegakan hukum,” jelas Syahrial.

Hipotesis sementara juga ada pihak-pihak yang bermain untuk mendapatkan keuntungan dari kondisi ini, seperti penyalahgunaan BBM subsidi dan penimbunan BBM. Lanjut Syahrial, Pertamina seharusnya menyikapi kondisi ini dengan meningkatkan produksi dan distribusi BBM. Mengoptimalkan pengawasan dan penegakan hukum. Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. (Banjarmasinpost.co.id/banyulangit roynalendra/salmah)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.