Analisis Pengamat Unpad Soal Kehadiran Prabowo di May Day 2026: Investasi Elektoral Segmen Buruh
Muhamad Syarif Abdussalam May 02, 2026 08:48 AM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pengamat politik dari Universitas Padjadjaran Bandung, Firman Manan menanggapi terkait kehadiran Presiden RI, Prabowo Subianto dalam peringatan Hari Buruh Internasional 2026 di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Jumat (1/5/2026).

Menurut Firman, segmen buruh jumlahnya besar seperti data dari BPS sebanyak 54 juta buruh di Indonesia dan mayoritas status buruh itu menengah ke bawah secara ekonominya.

Jika dikaitkan dengan janji-janji politik Presiden Prabowo, kata Firman, tentu banyak hal yang menyangkut kepentingan buruh, seperti yang dia kembali sebutkan di peringatan May Day Fiesta 2026, antara lain kesejahteraan buruh, membentuk satgas PHK, hingga menyiapkan perumahan untuk buruh.

"Itu semua kan kaitannya dengan janji-janji politik Prabowo yang kemudian selaras dengan kepentingan buruh. Jadi, ada saling keterkaitannya. Lalu, kami menduga juga terkait adanya investasi elektoral untuk pemilihan berikutnya yang mana segmen buruh ini harus dijaga dukungannya, termasuk untuk kepentingan elektoral," ujarnya saat dihubungi, Jumat (1/5/2026)

Firman pun menilai suatu hal yang wajar apa yang dilakukan Prabowo ini karena memang sudah menjadi kepentingan buruh dan berusaha diakomodasi Presiden RI.

Pasalnya, selain untuk merealisasikan janji politiknya, yang dilakukan Prabowo bagian dari menjaga dukungan agar dapat insentif elektoral.

"Kalau soal tadi Prabowo berjoged-joged ya itu kan memang khasnya (karakter) sejak kampanye lalu yang mungkin dia merasa enjoy," ujarnya.

Dia pun menyoroti peringatan hari buruh Internasional di Monas ini memang sebagai upaya agar para buruh tak melakukan aksi unjuk rasa yang biasanya terjadi tahun-tahun sebelumnya.

Kata Firman, jika bicara buruh sebagai gerakan sosial di berbagai negara, sebenarnya buruh itu sering kali berhadapan dengan negara, sehingga seringkali yang terlihat adanya aksi demonstrasi.

"Jika hari ini may day yang digelar justru ada pesta buruh dan dihadiri langsung Presiden itu menjadi menarik. Lalu, ditambah adanya kesamaan kepentingan. Karena, dalam politik itu ada istilahnya tak ada kawan yang abadi dan tak ada lawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan yang sama. Kepentingan Prabowo untuk merawat dukungan, dan satu sisi buruh membutuhkan kepentingannya diakomodasi," katanya.

Disinggung terkait seberapa penting dukungan buruh dalam sebuah pemilihan, Firman menegaskan secara jumlah buruh itu sebanyak 54 jutaan yang jumlahnya besar di Indonesia. Tetapi, menariknya di Indonesia ini buruh tak menjadi suatu kekuatan yang solid.

"Pengalaman dari pemilu-pemilu sebelumnya, buruh itu belum bisa dijadikan sebagai sebuah kekuatan solid untuk mendukung kekuatan politik tertentu, misalnya partai. Kita tahu, sejak dahulu buruh itu ada partai buruh, namun itu tak berdampak ke perolehan suaranya yang berbanding terbalik dengan representasi besarnya jumlah buruh," ucapnya.(*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.