El Nino Menguat, Pakar Manajemen Bencana Unair Ingatkan Pentingnya Mitigasi
Titis Jati Permata May 02, 2026 10:32 AM

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mencatat peluang kemunculan El Nino mencapai 62 persen pada periode Juni hingga Agustus 2026. 

Menanggapi hal tersebut, pakar Manajemen Bencana Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Hijrah Saputra ST MSc menyoroti pentingnya mitigasi sejak dini.

Di Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga memprediksi potensi El Nino ekstrem dengan intensitas yang bisa menyamai fenomena El Nino terkuat di masa lalu. 

Baca juga: Monitoring Pompanisasi di Lamongan, Dirjen Sarpras Kementan : Petani Produktif saat El Nino

Dr Hijrah menjelaskan, istilah tersebut bukan istilah ilmiah, melainkan populer di media untuk menggambarkan intensitas yang jauh lebih kuat.

“El Nino biasa seperti demam 38 derajat, sedangkan El Nino Godzilla bisa diibaratkan 40 derajat atau lebih,” ujarnya kepada SURYA.co.id, Sabtu (2/5/2026).

Proses Terjadinya El Nino

Ia menjelaskan, El Nino terjadi akibat melemahnya angin pasat yang menyebabkan pergeseran massa air laut hangat dari wilayah Indonesia ke Pasifik Tengah dan Timur.

Dampaknya, suhu permukaan laut di kawasan tersebut meningkat, dengan anomali mencapai 1,5 hingga 2,5 derajat Celsius di atas normal, bahkan pada titik tertentu bisa lebih tinggi.

Kondisi ini menggeser pusat pembentukan awan hujan ke Pasifik, sehingga Indonesia mengalami penurunan curah hujan dan musim kemarau yang lebih kering.

Lebih lanjut, Hijrah memaparkan bahwa kekuatan El Nino diukur menggunakan Oceanic Nino Index (ONI), yakni indikator anomali suhu permukaan laut. 

Nilai di atas +0,5 derajat Celsius menandakan El Nino, sedangkan di bawah −0,5 derajat menunjukkan La Nina.

Kategori El Nino terbagi menjadi lemah (0,5–0,9), sedang (1–1,4), kuat (1,5–1,9), dan sangat kuat (≥2).

Dampak dan Mitigasi Bencana El Nino

Menurut Hijrah, dampak El Nino bagi Indonesia cukup signifikan, mulai dari kemarau panjang, peningkatan kebakaran hutan, krisis air bersih, hingga gangguan pada sektor pertanian dan pangan.

Selain itu, fenomena ini juga berkontribusi pada peningkatan emisi karbon dioksida secara global.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, ia menekankan empat langkah mitigasi utama yang perlu dilakukan sejak dini.

Pertama, optimalisasi cadangan air dengan mengisi bendungan.

Kedua, modifikasi cuaca di wilayah rawan kekeringan. Ketiga, percepatan masa tanam untuk menjaga kelembaban tanah. Keempat, diversifikasi pangan sebagai upaya adaptasi terhadap perubahan iklim.

“Langkah-langkah ini penting agar dampak El Nino dapat diminimalkan, terutama di sektor air dan pangan,” tegasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.