Profil Bobby Rasyidin, Dirut KAI yang Janji Biayai Sekolah Anak Korban Kecelakaan KRL Bekasi, Kini Diminta Mundur oleh DPR
Nindya Galuh Aprillia May 02, 2026 10:34 AM

Grid.ID - Inilah profil Bobby Rasyidin, dirut PT KAI yang sedang disorot pasca kecelakaan KRL di Stasiun Bekasi. Ternyata punya rekam jejak yang tak main-main.

Kecelakaan kereta di Bekasi yang terjadi pada Senin (27/4/2026) ikut menyeret nama Bobby Rasyidin, selaku direktur utama PT KAI. Sosoknya jadi pusat perhatian lantaran ikut terjun langsung menangani insiden tragis ini.

Bobby Rasyidin, bahkan mendatangi rumah keluarga salah satu korban tewas dalam kecelakaan KRL vs Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur. Kunjungan tersebut menjadi sorotan setelah videonya viral di media sosial.

Mengutip Tribun Jakarta, Bobby sempat berbincang langsung dengan anak korban. Ia kemudian menawarkan bantuan untuk membiayai pendidikan sang anak hingga selesai.

"Udah nanti ini ya, sekolah kamu aku yang bayarin. Mau enggak?" tanya Bobby kepada anak tersebut.

"Mau enggak," katanya lagi.

Sang anak pun tampak menganggukkan kepala sebagai tanda setuju. Bobby kemudian mengajak anak tersebut bersalaman.

Momen tersebut langsung membuat publik bertanya-tanya tentang siapa sebenarnya sosok Bobby Rasyidin.

Profil Bobby Rasyidin, Dirut PT KAI

Bobby Rasyidin merupakan Direktur Utama PT KAI kelahiran 31 Oktober 1974. Ia menjabat sebagai Dirut PT KAI sejak 12 Agustus 2025, menggantikan Didiek Hartantyo.

Di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Bobby bukanlah sosok baru. Menurut Kompas.com, sebelum menjabat sebagai Direktur Utama KAI, ia pernah memimpin PT Len Industri pada periode 2021–2025.

Perusahaan tersebut merupakan bagian dari holding industri pertahanan Defend ID yang membawahi sejumlah BUMN strategis seperti PT Dahana, PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, dan PT PAL Indonesia.

Bobby merupakan lulusan Teknik Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1996. Mengutip Bangkapos, Bobby kemudian memperluas wawasan globalnya dengan mengambil Master of Psychology in Management di Amerika Serikat, serta melanjutkan studi di University of New South Wales, Australia.

Kombinasi pendidikan teknik dan manajemen ini menjadi fondasi penting dalam membentuk gaya kepemimpinannya yang adaptif dan strategis.

Karier profesional Bobby dimulai pada tahun 1996 di PT Lucent Technologies Indonesia. Di perusahaan ini, ia terlibat dalam berbagai proyek jaringan berskala internasional, termasuk di kawasan Eropa dan negara lainnya.

Pengalaman tersebut memberinya pemahaman mendalam tentang teknologi telekomunikasi dan pengelolaan proyek global, yang kemudian menjadi modal penting dalam perjalanan kariernya di dunia industri. Seiring waktu, Bobby Rasyidin dipercaya mengisi berbagai posisi penting di sejumlah perusahaan.

Kariernya di BUMN dimulai saat dipercaya menjadi Komisaris Utama PT Len Telekomunikasi Indonesia pada 2016 hingga 2019. Ia juga sempat menjabat Komisaris Independen PT GMF AeroAsia Tbk sejak Juni 2020, yang merupakan anak usaha Garuda Indonesia.

Pada 2021, Bobby ditunjuk Menteri BUMN Erick Thohir sebagai Direktur Utama Len Industri sebelum akhirnya dipercaya memimpin KAI. Selain itu, Bobby juga pernah menjadi Komisaris Utama di perusahaan teknologi PT Indonesian Cloud pada periode 2019-2021.

Dengan latar belakang yang kuat di bidang teknologi, pengalaman internasional, serta kepemimpinan di berbagai perusahaan besar, Bobby Rasyidin menjadi salah satu figur penting dalam mendorong kemajuan industri dan transportasi di Indonesia.

Diminta Mundur dari Jabatan

Anggota Komisi VI DPR RI Firnando Ganinduto meminta evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan perkeretaapian, menyusul kecelakaanKRL di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat. Dia menilai insiden tersebut mengindikasikan adanya kegagalan sistem keselamatan yang tidak mampu mengantisipasi keberadaan kereta di jalur yang sama.

Menurut Firnando, celah dalam integrasi teknologi dan pengawasan operasional menjadi faktor krusial yang harus segera dibenahi.

"Dalam sistem perkeretaapian modern, keberadaan teknologi seperti automatic signaling, train protection system, hingga fail-safe mechanism seharusnya dapat mencegah terjadinya tabrakan, bahkan dalam kondisi human error sekalipun," kata Firnando dikutip dari Kompas.com, Sabtu (2/5/2026).

"Ketidakmampuan sistem dalam mengantisipasi kondisi tersebut menunjukkan adanya celah serius dalam integrasi teknologi dan pengawasan operasional," sambungnya.

Politikus Golkar itu menegaskan, evaluasi tidak boleh berhenti di level teknis, melainkan harus menyasar manajemen operasional secara menyeluruh. Sebagai operator transportasi publik, lanjut Firnando, PT Kereta Api Indonesia (Persero) harus bertanggung jawab memastikan sistem keselamatan berjalan optimal di seluruh lini.

"Ada pertanyaan mendasar mengenai efektivitas pengawasan, kesiapan sistem keselamatan, serta standar operasional yang diterapkan. Ini menjadi tanggung jawab manajemen puncak. Kami mendesak dirut KAI untuk mengundurkan diri," tuturnya.

Karena itu, Firnando mendorong dilakukan audit menyeluruh, termasuk terhadap sistem komunikasi antarstasiun, prosedur pemberhentian darurat, serta keandalan teknologi deteksi dan pengendalian kereta. Dia juga meminta Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap hasil investigasi secara transparan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.