Pesona Kelenteng Sanggar Agung Surabaya, Harmoni Multi Budaya di Tepi Laut Kenjeran
Mujib Anwar May 02, 2026 04:14 PM

 

 

TRIBUNJATIM.COM – Kota Surabaya memiliki destinasi religi sekaligus wisata yang unik melalui keberadaan Kelenteng Sanggar Agung. 

Kelenteng ini menjadi salah satu ikon wisata spiritual yang tak hanya ramai saat perayaan Imlek, tetapi juga sepanjang tahun.

Terletak di Jalan Sukolilo Nomor 100, kawasan Pantai Ria Kenjeran, kelenteng ini memiliki lokasi yang berbeda dari kebanyakan tempat ibadah lainnya. 

Posisinya yang berada di tepi laut menjadikan suasana di sekitar kelenteng terasa lebih tenang dan sakral.

Kelenteng Sanggar Agung dikenal sebagai tempat ibadah umat Tri Dharma, yakni Konghucu, Buddha, dan Taoisme. 

Namun demikian, dikutip dari berbagai sumber, tempat ini juga terbuka untuk masyarakat umum sebagai destinasi wisata.

Tak hanya sebagai tempat ibadah, kelenteng ini juga menjadi simbol keberagaman dan toleransi.

Bahkan, pengelolaannya turut melibatkan masyarakat lintas agama, seperti umat Islam Kristen dan lainnya. 

Dengan keindahan arsitektur serta latar laut yang memukau, Kelenteng Sanggar Agung menjadi salah satu destinasi yang menawarkan pengalaman spiritual sekaligus wisata budaya di Surabaya.

Berawal dari Kwan Kong Bio

Dilansir dari kompas.com, sejarah Kelenteng Sanggar Agung tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Klenteng Kwan Kong Bio yang telah lebih dahulu berdiri pada tahun 1978, bertepatan dengan Festival Bulan Purnama.

Kelenteng tersebut awalnya dibangun sekitar 500 meter dari lokasi Sanggar Agung saat ini. Namun, sebagaimana disebutkan dalam berbagai sumber, lokasi tersebut mengalami perpindahan hingga tiga kali sebelum akhirnya menetap di kawasan Kenjeran.

Pada tahun 1999, kelenteng ini secara resmi dipindahkan dan dibangun ulang dengan nama Kelenteng Sanggar Agung. Peresmian tersebut dilakukan bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek.

Beberapa patung dewa yang ada saat ini bahkan sudah berasal dari bangunan sebelumnya, sehingga menyimpan nilai historis yang panjang, sebagaimana dijelaskan dalam catatan sejarah kelenteng.

Baca juga: Pesona Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban, Ikon Umat Tri Dharma Terbesar di Asia Tenggara

Didirikan untuk Ikon Spiritual

Kelenteng Sanggar Agung didirikan oleh keluarga Soetiadji Yudho dengan tujuan menghadirkan pusat spiritual sekaligus ikon baru bagi Kota Surabaya.

Kelenteng ini dipersembahkan kepada Nan Hai Guan Shi Yin Pu Sa atau Bodhisatwa Kwan Im Laut Selatan, yang menjadi dewi utama dalam tempat ibadah ini.

Ciri khas paling mencolok adalah patung raksasa Dewi Kwan Im yang berdiri megah di tepi laut. Dilansir dari TribunTravel.com, patung ini memiliki tinggi sekitar 18 hingga 20 meter dan menjadi ikon utama kelenteng.

Pembangunan patung tersebut dilatarbelakangi kisah spiritual, di mana seorang karyawan kelenteng melihat sosok wanita berjubah putih berjalan di atas air. 

Penampakan itu dipercaya sebagai wujud Dewi Kwan Im, sebagaimana dikutip dari berbagai sumber.

Baca juga: Kelenteng ​Kim Hin Kiong, Jejak Sejarah untuk Dewi Laut dari Era Pelabuhan Internasional Kuno Gresik

Arsitektur Unik di Atas Laut

Keunikan lain dari Kelenteng Sanggar Agung adalah lokasinya yang dibangun di atas laut, membentuk semacam teluk kecil yang menjorok ke perairan Kenjeran.

Kelenteng ini berdiri di atas lahan sekitar 4.000 meter persegi yang dikelilingi hutan mangrove. Lingkungan tersebut juga menjadi habitat alami berbagai satwa seperti burung dan ikan.

Dari segi arsitektur, kelenteng ini memadukan gaya Jawa dan Bali, berbeda dari kelenteng pada umumnya yang identik dengan gaya Tiongkok. Hal ini disebut sebagai representasi harmoni budaya lokal dengan tradisi Tionghoa.

Dikutip dari berbagai sumber, desain Sanggar Agung sengaja menghadirkan nuansa rumah tradisional Indonesia tanpa meninggalkan unsur khas kuil Tionghoa.

Baca juga: Sejarah Kelenteng Hong Tiek Hian Surabaya, Tempat Ibadah Tertua yang Berdiri Sejak Zaman Majapahit

Ikon Patung dan Stupa Raksasa

Selain patung Dewi Kwan Im, Kelenteng Sanggar Agung juga memiliki ikon lain berupa patung Maha Brahma atau Four Face Buddha yang terletak di bagian belakang kompleks.

Patung ini bahkan tercatat sebagai yang terbesar di Indonesia dan dilapisi emas 22 karat dari Thailand.

Pembangunan stupa Maha Brahma dimulai pada tahun 2003 dan diresmikan pada 2004 dengan menghadirkan tokoh-tokoh agama dari berbagai negara, sebagaimana disebutkan dalam catatan peresmian.

Tak hanya itu, kawasan kelenteng juga dihiasi berbagai patung lain seperti naga, maharaja langit, serta gerbang langit yang menghadap langsung ke laut dan mengarah ke Jembatan Suramadu.

Baca juga: Klenteng Eng An Kiong Malang, Istana Keselamatan dan Keabadian yang Tetap Kokoh Terjaga Keasliannya 

Destinasi Religi dan Wisata Favorit

Kelenteng Sanggar Agung kini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga destinasi wisata favorit di Surabaya. 

Banyak wisatawan datang untuk berfoto maupun menikmati pemandangan laut.

Pengelola bahkan menyediakan jalur khusus bagi wisatawan agar tidak mengganggu aktivitas ibadah umat yang sedang berdoa.

Selain itu, kelenteng ini juga menjadi lokasi berbagai perayaan budaya seperti Festival Bulan Purnama yang melibatkan beragam kesenian dari berbagai daerah di Indonesia.

Dengan perpaduan nilai spiritual, keindahan alam, dan kekayaan budaya, Kelenteng Sanggar Agung terus menjadi simbol harmoni dan keberagaman di Kota Surabaya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.