Kericuhan Mengotori Hari Buruh di Bandung, Pengusaha: Ganggu Pemulihan Ekonomi Daerah
Muhamad Syarif Abdussalam May 02, 2026 06:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kalangan pelaku usaha di Jawa Barat menyuarakan keprihatinan atas pecahnya aksi ricuh yang terjadi bertepatan dengan peringatan Hari Buruh, 1 Mei 2026, di Kota Bandung.

Kelompok pengusaha yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pengusaha Jawa Barat (Forkompenja) menilai peristiwa tersebut membawa konsekuensi yang tidak ringan.

Tidak hanya menyebabkan kerusakan fasilitas publik, aksi tersebut juga memicu kemacetan panjang serta memberikan tekanan terhadap aktivitas ekonomi.

Ketua Forkompenja, Agung Suryamal, menegaskan bahwa kondisi perekonomian, baik secara nasional maupun di tingkat daerah seperti Jawa Barat dan Bandung, masih dalam tahap pemulihan. Dalam situasi tersebut, stabilitas menjadi faktor yang sangat dibutuhkan.

"Adanya demo yang anarkis jelas akan berpengaruh karena menimbulkan sentimen negatif terhadap dunia usaha," katanya, 2 Mei 2025.

Ia menambahkan, ketika kondisi ekonomi global dan nasional belum sepenuhnya stabil, peran seluruh elemen masyarakat menjadi krusial untuk menjaga ketertiban di wilayah masing-masing. Dukungan terhadap upaya pemerintah dinilai penting agar proses pemulihan ekonomi dapat berjalan optimal. 

"Ya kita dukung pemerintah yang sedang berupaya memulihkan perekonomian dengan cara menjaga kondusifitas di wilayah kita," ujar Agung.

Agung yang juga menjabat Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia itu menekankan bahwa penyampaian aspirasi merupakan hak yang dijamin, namun pelaksanaannya tidak boleh disertai tindakan anarkis. Ia menilai dampak kerusuhan tersebut langsung terasa pada sektor pariwisata, terutama karena momen tersebut bertepatan dengan masa libur panjang.

"Ini kan waktunya libur panjang di mana saatnya kota Bandung dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah terutama dari Ibu Kota yang datang ke Bandung," tambah Agung.

Kondisi di lapangan menunjukkan dampak nyata dari situasi tersebut. Informasi mengenai adanya aksi demonstrasi di Bandung membuat sejumlah rencana kunjungan wisatawan dibatalkan, termasuk rombongan turis asal Malaysia.

Diketahui, bus yang membawa rombongan tersebut sudah memasuki kawasan Tol Pasteur, namun akhirnya memutuskan berbalik arah karena situasi di pusat kota dinilai tidak aman.

Fenomena serupa juga terjadi pada kendaraan berpelat nomor B yang memilih tidak melanjutkan perjalanan menuju Bandung.

Bukan Buruh

Kapolda Jawa Barat, Rudi Setiawan, memberikan penjelasan terkait pihak yang terlibat dalam kericuhan tersebut. Ia memastikan bahwa kelompok yang memicu kekacauan bukan berasal dari kalangan buruh.

Menurutnya, aksi tersebut dilakukan oleh kelompok tertentu yang diduga telah memiliki rencana untuk menciptakan kerusuhan di wilayah Jawa Barat saat peringatan May Day 2026, Jumat (1/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa kegiatan penyampaian aspirasi yang berlangsung secara damai hanya dilakukan oleh mahasiswa, dengan lokasi di kawasan Jatinangor, Sumedang, serta di lingkungan DPRD Jawa Barat.

Lebih lanjut, Rudi mengungkapkan bahwa kericuhan di Jalan Tamansari, Bandung, melibatkan massa yang tidak dikenal. Mereka memiliki ciri khas berpakaian serba hitam dan menutupi wajah.

Ia menegaskan penindakan dilakukan karena aksi yang terjadi telah mengarah pada tindak kriminal.

“Ini adalah perbuatan kriminal dan kami berkewajiban melindungi masyarakat,” ujar Rudy.

Rudy menyebut, sejumlah fasilitas umum yang dirusak di antaranya lampu lalu lintas, kamera pengawas, videotron, hingga pembakaran pos polisi dan kios di sekitar lokasi kejadian.

Menurutnya, hingga saat ini motif dari aksi perusakan tersebut masih dalam penyelidikan. Namun, ia menilai tindakan yang dilakukan tidak mencerminkan penyampaian aspirasi buruh.

“Ini bukan orasi atau penyampaian pendapat, yang ada justru pengrusakan,” katanya.

Polisi memastikan proses penyelidikan akan terus berlanjut guna mengungkap pihak-pihak yang terlibat dalam kericuhan tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.