TRIBUNJAKARTA.COM, KALIDERES - Kenaikan harga bahan baku dan kebutuhan produksi membuat para pengrajin tempe kian terjepit.
Salah satunya dirasakan Kasnoto, pengrajin tempe di komplek Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (Kopti) di Semanan, Kalideres, Jakarta Barat.
Kasnoto yang sudah puluhan tahun menekuni bisnis tempe mengaku harus memutar otak agar usahanya tetap berjalan di tengah lonjakan biaya, mulai dari kedelai, plastik hingga gas.
Menurut Kasnoto, kenaikan harga kedelai memang belum terlalu signifikan, namun tetap berdampak pada biaya produksi.
“Naiknya cuma sekitar Rp 1000 per kilogram atau Rp 100 ribu per kuintal. Dari Rp 950 ribu sekarang Rp1,1 juta,” ujarnya saat ditemui di tempat usahanya, Sabtu (2/5/2026).
Tak hanya kedelai, kenaikan harga plastik justru menjadi beban paling berat bagi pengrajin.
Kasnoto menjelaskan, harga plastik melonjak tajam dari kisaran Rp 29 ribu per kilogram menjadi Rp 55 ribu per kilogram.
Ia bahkan menyebut kenaikan harga plastik bisa untuk membayar gaji karyawannya.
"Saking naiknya harga plastik. Selisih harga plastik itu bisa buat gaji satu karyawan," kata dia.
Menurut dia, lonjakan harga plastik membuat biaya operasional membengkak drastis.
Padahal, hampir seluruh produksi tempe kini menggunakan plastik sebagai kemasan.
Ia juga menanggapi anjuran penggunaan daun sebagai pengganti plastik yang dinilai tidak realistis.
“Kalau disuruh pakai daun, daunnya dari mana? Ada, tapi mahal. Satu ikat bisa Rp 15 ribu cuma bisa buat berapa lonjor aja. Jadi jelas tidak cukup untuk produksi besar,” jelasnya.
Selain itu, harga gas yang naik dan ketersediaan kayu bakar yang semakin sulit juga menambah beban produksi.
"Sekarang gas juga naik. Kita di sini udah enggak pakai kayu bakar karena cari kayunya juga udah susah," tuturnya.
Akibatnya, Kasnoto terpaksa mengurangi kapasitas produksi hingga setengahnya.
“Biasanya bisa 1 ton, sekarang cuma 5 kuintal. Kita kurangi produksi karena biaya tinggi dan penjualan juga turun,” ujarnya.
Meski biaya produksi terus meningkat, Kasnoto mengaku tidak berani menaikkan harga jual tempe.
Hal itu dilakukan untuk menjaga pelanggan agar tidak semakin berkurang.
“Kalau harga dinaikkan, pembeli makin sedikit. Sekarang saja sudah sepi,” katanya.
Kondisi tersebut juga berdampak pada tenaga kerja. Ia mengaku terpaksa mengurangi jumlah karyawan demi menekan biaya operasional.
Kasnoto berharap pemerintah dapat turun tangan membantu pengrajin kecil, khususnya dalam menstabilkan harga bahan baku.
“Kami minta pemerintah memperhatikan pengrajin tahu dan tempe. Ini makanan rakyat, kalau tidak ada bagaimana?” ucapnya.
Ia juga berharap harga kedelai bisa kembali stabil agar usaha kecil seperti miliknya tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi.
Ia menyebut daya beli masyarakat menurun sehingga penjualan ikut merosot.
“Biasanya omzet bisa Rp 1 juta, sekarang kadang cuma Rp500 ribu, bahkan Rp300 ribu,” katanya.