TRIBUNJATIM.COM – Kota Blitar tidak hanya dikenal melalui wisata religi Makam Bung Karno, tetapi juga memiliki kekayaan seni pertunjukan yang unik dan melegenda.
Salah satunya adalah Barongan Kucingan, kesenian khas yang memadukan unsur mistis, kelincahan gerak menyerupai satwa, serta filosofi mendalam masyarakat.
Kesenian Barongan Kucingan menjadi warisan budaya yang terus bertahan di tengah arus modernisasi.
Tidak sekadar hadir sebagai hiburan rakyat atau bagian dari pertunjukan jaranan, kesenian ini juga mencerminkan kekayaan tradisi lokal, nilai sejarah, hingga kreativitas para seniman yang terus mengembangkannya.
Sebagai puncak dalam pertunjukan jaranan, Barongan Kucingan tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menjadi identitas budaya Kota Blitar yang kini mulai dilirik lebih luas, bahkan berpotensi dikenal hingga ke kancah internasional.
Sejarah dan Asal-Usul Barongan Kucingan
Barongan Kucingan merupakan kesenian khas Kota Blitar yang sarat nilai sejarah dan mitologi lokal.
Dilansir dari kominfo.jatimprov.go.id, kesenian ini mengangkat kisah peperangan antara Patih Bujang Ganong melawan Prabu Singo Barong.
Dalam cerita tersebut, Prabu Singo Barong mengalami kekalahan hingga jasadnya musnah, lalu dipercaya oleh masyarakat Blitar berubah menjadi seekor kucing.
Kepercayaan inilah yang melatarbelakangi munculnya bentuk barongan dengan karakter menyerupai kucing sebagai simbol dalam pertunjukan.
Nama “Barongan Kucingan” sendiri berasal dari kata barong yang merujuk pada kepala hewan (umumnya harimau) dengan balutan kain, serta kucing yang menggambarkan sifat lincah, manja, dan penuh daya tarik.
Kombinasi ini kemudian diwujudkan dalam bentuk topeng dan gerak tari yang khas.
Baca juga: Mengenal Tari Terbang Bandung, Kesenian Unik Pasuruan yang Padukan Drama, Tari dan Musik Religi
Bagian dari Kesenian Jaranan
Menurut kompasiana.com, Barongan Kucingan merupakan bagian dari kesenian jaranan yang berkembang di masyarakat Blitar.
Dalam satu rangkaian pertunjukan jaranan, biasanya terdapat beberapa tarian seperti Jaranan Pegon, Jaranan Sentherewe, hingga Tari Singo Barong atau Barongan Kucingan yang tampil sebagai puncak acara.
Keunikan tarian ini terletak pada gerakannya yang meniru perilaku kucing. Para penari menampilkan gerakan merangkak, menjilat, hingga bermain, mencerminkan sifat kucing yang lincah, manja, dan menggemaskan.
Tarian ini umumnya dibawakan secara berkelompok, mulai dari enam orang hingga jumlah yang tidak terbatas, sehingga menghadirkan pertunjukan yang dinamis dan atraktif.
Salah satu daya tarik utama Barongan Kucingan adalah adanya unsur mistis dalam pementasannya.
Pada bagian akhir atau klimaks pertunjukan, penari kerap mengalami kesurupan (ndadi), yang menjadi ciri khas kesenian jaranan sekaligus magnet tersendiri bagi penonton.
Unsur spiritual tersebut menunjukkan kuatnya nilai tradisi yang masih dijaga hingga kini.
Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Jaranan Tril Blitar, Kesenian Unik dengan Iringan Musik Non Gamelan
Ciri Khas dan Bentuk Barongan
Dari segi bentuk, Barongan Kucingan memiliki ciri visual yang khas dan berbeda dari barongan pada umumnya.
Barongan ini memiliki moncong yang tidak terlalu panjang, hidung lancip mengarah ke atas, cengger di bagian bawah, serta gigi yang tidak bertaring.
Bentuknya menyerupai kucing atau macan kecil, sesuai dengan karakter yang diusung dalam tarian.
Cara penggunaannya pun unik. Jika barongan lain biasanya dipegang dengan tangan, Barongan Kucingan justru dipakai seperti topeng dengan cara digigit menggunakan mulut oleh penari.
Keunikan ini semakin menambah daya tarik kesenian tradisional khas Blitar yang sarat nilai estetika, budaya, dan spiritualitas.
Baca juga: Mengenal Tari Uling, Kesenian Khas Lumajang yang Terinspirasi dari Satwa Keramat di Sumbermujur
Upaya Pelestarian dan Inovasi
Upaya pelestarian Barongan Kucingan terus dilakukan oleh berbagai pihak, salah satunya melalui Paguyuban Kelompok Jaranan Kota Blitar (Pakoja).
Organisasi ini menjadi wadah para seniman untuk menjaga eksistensi kesenian tradisional di tengah arus modernisasi, sekaligus mendorong pengembangannya agar tetap relevan.
Para seniman yang tergabung dalam Pakoja juga menghadirkan inovasi melalui penciptaan Tari Barongan Kucingan “Candramawa”.
Tarian ini menggambarkan karakter kucing yang cerdas dengan kemampuan indera yang tajam, sebagai bentuk pengembangan kreatif tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi yang telah ada.
Selain itu, Pakoja juga tengah memperjuangkan hak paten untuk karya tersebut sebagai upaya memperkuat legalitas budaya, sekaligus membuka peluang agar Barongan Kucingan dapat dikenal lebih luas hingga ke tingkat nasional maupun internasional.
Menariknya, perkembangan kesenian ini kini didominasi oleh generasi muda.
Keterlibatan anak muda dalam pertunjukan menjadi harapan besar bagi keberlanjutan Barongan Kucingan di masa depan, sehingga tradisi ini tetap hidup, berkembang, dan mampu beradaptasi dengan zaman.
Baca juga: Kesenian Janger Banyuwangi, Hibrida Budaya Jawa dan Bali Karya Pedagang Sapi yang Tetap Eksis
Daya Tarik Budaya dan Potensi Wisata
Barongan Kucingan tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya sekaligus identitas khas Kota Blitar.
Kesenian ini pernah ditampilkan dalam Pawai Budaya Negara Kertagama di Surabaya dalam rangka Hari Jadi Provinsi Jawa Timur ke-66 sebagai upaya memperkenalkan budaya lokal ke masyarakat yang lebih luas.
Dalam penampilannya, Barongan Kucingan dikolaborasikan dengan Cemeti Samandiman, yakni pecut raksasa sepanjang hampir 4 meter yang menambah daya tarik visual pertunjukan.
Kolaborasi tersebut berhasil memukau penonton, bahkan mendapat apresiasi langsung dari Gubernur Jawa Timur saat itu, Soekarwo, yang memberikan respons meriah saat para seniman tampil di depan panggung kehormatan.
Partisipasi dalam berbagai event budaya, khususnya pawai tingkat provinsi, menjadi strategi penting untuk memperluas eksistensi Barongan Kucingan.
Keikutsertaan tersebut bukan semata untuk meraih juara, melainkan sebagai upaya mengenalkan kesenian ini agar semakin diminati, bahkan berpotensi menembus kancah nasional hingga internasional.
Baca juga: Mengenal Reog Kendang, Kesenian Khas Tulungagung yang Lahir dari Kisah Gemblak Pencari Jati Diri
Warisan Budaya yang Terus Hidup
Hingga kini, Barongan Kucingan tetap eksis sebagai bagian dari identitas budaya Kota Blitar.
Dengan dukungan masyarakat, seniman, serta pemerintah, kesenian ini diharapkan terus berkembang dan mampu menembus kancah nasional hingga internasional.
Lebih dari sekadar pertunjukan, Barongan Kucingan menjadi simbol kreativitas, kearifan lokal, dan semangat masyarakat dalam menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.