- Aisyah Ismail bersama tiga anak dan suaminya, warga Desa Lamahala Jaya, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini bertahan di tenda darurat sejak getaran gempa bumi mengguncang wilayah tersebut pada Kamis dini hari (9/4/2026).
Berdasarkan data BMKG, getaran yang memicu kepanikan warga tersebut bersumber dari gempa tektonik bermagnitudo 4,7 yang terjadi pada Rabu (8/4/2026) pukul 23.17 WIB atau Kamis (9/4/2026) pukul 00.17 WITA akibat aktivitas sesar aktif.
Pusat gempa berada di darat, tepatnya 22 kilometer tenggara Larantuka dengan kedalaman dangkal 10 kilometer.
Tak berhenti di situ, guncangan susulan kembali terjadi pada Kamis subuh pukul 04.54 WIB atau 05.54 WITA dengan pusat yang lebih dangkal di kedalaman 3 kilometer, yang semakin memperparah kerusakan bangunan warga.
Suasana mencekam pada Kamis subuh yang masih gelap terus menghantui Aisyah dan warga lainnya.
Ibu tiga anak itu sendirian menyelamatkan ketiga anaknya saat rumah mereka mulai roboh. Saat kejadian, suami Aisyah sedang melaut.
Aisyah menceritakan momen dramatis ketika ia mencoba keluar dari kamar.
Pintu kamar yang terkunci membuatnya panik. Namun, ia tidak kehilangan akal. Aisyah dengan sekuat tenaga berteriak dan mendobrak pintu hingga terbuka.
"Saya dan anak saya waktu itu masih tidur. Saat saya tarik anak saya keluar, pintunya tidak bisa dibuka. Saya teriak dan dorong pintunya sampai terbuka," ungkap Aisyah dengan nada gemetar, Jumat (10/4/2026).
Sambil menggendong satu anak perempuan dan menarik dua anak laki-lakinya, Aisyah berlari melewati lorong yang mulai tertutup material longsoran kecil. Di belakangnya, ia menyaksikan dinding kamar roboh dan tiang rumah yang nyaris menimpa tempat tidur mereka.
Bertahan di Tenda Darurat Beralaskan Baliho Bekas
Kini, Aisyah dan keluarganya terpaksa mengungsi di tenda darurat hasil swadaya warga. Kondisinya sangat memprihatinkan, tanpa kasur, tanpa bantal, dan hanya beralaskan baliho bekas serta kain tipis.
Anak-anak Aisyah dilaporkan terus menangis karena cuaca panas dan gangguan nyamuk.
Ketiadaan selimut yang memadai membuat mereka menggigil saat malam tiba.
"Tidak nyaman tidur. Selimut pun cuma satu. Anak-anak sudah dua hari dua malam ini menangis terus," tuturnya.
Logistik Belum Merata, Ekonomi Nelayan Lumpuh
Meski pihak terkait telah melakukan peninjauan lokasi, Aisyah mengaku bantuan fisik berupa logistik maupun material bangunan belum kunjung tiba secara merata.
Saat ini, warga masih memasak secara mandiri menggunakan peralatan seadanya yang berhasil diselamatkan.
Dampak gempa juga melumpuhkan ekonomi desa. Para nelayan di Desa Lamahala Jaya belum berani melaut karena trauma terhadap potensi gempa susulan.
"Harapan kami hanya satu, mohon segera bantuan untuk perbaikan rumah. Kami tidak mungkin tinggal di tenda terus-menerus. Suami saya juga belum bisa melaut karena kondisi ini," pungkas Aisyah penuh harap.(*)
Program: Saksi Kata
Sumber: Tribun Flores
Editor: Faiz Fadhilah
#SaksiKata #gempabumi #bencanaalam #peristiwa #florestimur #ntt