Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Muhammad Nasir I Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Suasana haru dan khidmat menyelimuti Masjid Bani Salim, Lampaseh Kota, Banda Aceh, Sabtu (2/5/2026).
Ratusan jamaah memadati masjid untuk mengikuti kegiatan Safari Subuh Sabtu (S3) yang dirangkai dengan peringatan 22 tahun Tsunami Aceh.
Peringatan berdasarkan kalender Hijriyah ini mengingatkan kembali pentingnya mengambil hikmah dari peristiwa dahsyat yang melanda tanah Serambi Mekkah dua dekade silam.
Rangkaian kegiatan dimulai sejak subuh dengan pelaksanaan shalat subuh berjamaah yang diimami oleh Tgk. H. Ivan Aulia, Lc, MA.
Usai shalat, acara dilanjutkan dengan tausiyah yang disampaikan oleh Ustaz Prof. Dr. H. Fauzi Saleh, Lc., MA.
Dalam tausiyahnya, ia mengajak seluruh jamaah untuk terus memetik hikmah dan pelajaran berharga dari musibah yang terjadi 22 tahun silam.
Baca juga: VIDEO - Viral! Rumah Pengasuh Ponpes di Pati Didatangi Massa, Diduga Terkait Kasus Asusila
"Kita harus bisa mengambil pelajaran dari musibah Tsunami Aceh 22 tahun silam," ungkap Ustaz Fauzi Saleh di hadapan para jamaah yang memenuhi ruang utama masjid.
Suasana kemudian berubah menjadi lebih syahdu saat lantunan zikir dan doa dipimpin oleh Al-Habib Abdul Haris bin Sholeh Alaydrus, Pimpinan Majelis Zikir An-Nur.
Mengenang para syuhada dan keluarga yang gugur dalam bencana tersebut membuat banyak jamaah tak kuasa menahan air mata.
Isak tangis terdengar di sudut-sudut masjid saat doa-doa dipanjatkan untuk korban dan keluarga yang ditinggalkan.
Ketua Yayasan Safari Subuh Sabtu (S3), Ustaz Dedy Susanto, menjelaskan bahwa peringatan 22 tahun Tsunami Aceh ini sengaja dilaksanakan berdasarkan kalender Hijriyah, yakni 14 Dzulqaidah 1425 H hingga 14 Dzulqaidah 1447 H.
"Kami mengajak masyarakat Aceh untuk mengenang musibah dahsyat Tsunami Aceh dengan berpedoman kepada kalender Hijriyah, yaitu pada tanggal 14 Dzulqaidah.
Hal ini penting agar sejarahnya tidak bergeser, mengingat peristiwa tersebut terjadi sebelum perayaan Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada 10 Zulhijjah," tegas Ustaz Dedy.
Baca juga: Tarif Listrik PLN Mei 2026 Tidak Naik, Simak Harga Token & Penghitungan kWh
Setelah rangkaian ibadah selesai, pihak Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Bani Salim Lampaseh Kota menjamu para jamaah melalui kegiatan silaturahmi dan ramah tamah sembari menikmati sarapan pagi yang telah disediakan.
Kegiatan berlanjut pada pukul 08.30 WIB dengan agenda Gowes S3-AnBiCom mengelilingi berbagai situs sejarah tsunami.
Rute gowes ini mengambil start Cawan Kupi di Jalan Sudirman dan menyusuri destinasi seperti Museum Tsunami Aceh, Kapal Apung, Kuburan Massal, hingga Kubah Gurah di Kecamatan Peukan Bada.
Di lokasi Kubah Gurah, Ustaz Faizal Ardiansyah memberikan motivasi dan nasehat kepada para peserta. Ia mengingatkan bahwa peninggalan tersebut adalah pengingat bagi umat manusia.
"Bahwasanya kita harus menjadikan musibah Tsunami sebagai renungan untuk menata hidup lebih baik lagi untuk dunia dan akhirat," tandasnya.
Namun, di balik napak tilas tersebut, Ustad Faizal juga menyampaikan keprihatinannya terkait kondisi infrastruktur menuju salah satu situs bersejarah itu.
Baca juga: Israel Terus Langgar Gencatan Senjata, Serangan Udara Tewaskan 10 Orang di Lebanon Selatan
Ia menyoroti akses jalan menuju situs Tsunami Kubah Gurah di Peukan Bada yang masih berupa jalan berbatu dan dirasa kurang nyaman bagi para wisatawan serta pengunjung.
Kegiatan bersepeda ini kemudian ditutup dengan kebersamaan dalam acara ngopi bareng di Hope Kupi, Lampoh Daya.
Secara keseluruhan, rangkaian acara sejak pagi hingga siang hari berjalan dengan lancar, khidmat, dan penuh rasa kekeluargaan. (*)