Kisah 'Sepatu Sempit' di Samarinda Menyesakkan Dada, Dr Linda: Banyak Tanda yang Luput Kita Sadari
Doan Pardede May 03, 2026 06:19 AM

TRIBUNKALTIM.CO - Di tengah hiruk-pikuk pusat perbelanjaan di Samarinda, seorang remaja bernama Mandala Rizky Syahputra (16), siswa kelas 2 SMK, berdiri tegak selama delapan jam setiap hari.

Ia bukan sedang menunggu teman atau sekadar menghabiskan waktu, melainkan bekerja demi membantu perekonomian keluarganya.

Namun, di balik seragam rapi dan keteguhannya berdiri dari pukul dua siang hingga sepuluh malam, tersimpan rasa sakit yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di dalam sepasang sepatu ukuran 40.

Padahal, ukuran kakinya telah mencapai nomor 43.

Baca juga: Praktisi Hukum Sebut Kadisdikbud Kaltim tak Punya Empati Atas Kasus Wafatnya Siswa SMK di Samarinda

Mandala dikenal ibundanya, Ratna Sari, sebagai anak yang sangat kuat.

“Sakit pun dia rasa sendiri tanpa harus merepotkan orang lain,” kenang Ratna dengan suara bergetar.

Keinginan Mandala sebenarnya sederhana, tetapi terasa begitu berat untuk dipikul remaja seusianya: membantu sang ibu membayar sewa rumah agar mereka tidak diusir.

Itulah alasan Mandala memilih mengikuti program bantuan kerja di Ramayana, salah satu pusat perbelanjaan besar di Kota Tepian.

Dari upah Rp840.000 per bulan yang diterimanya, tak serupiah pun ia gunakan untuk diri sendiri.

Seluruhnya diserahkan kepada sang ibu demi biaya kontrakan.

Menahan Sakit Demi Membantu Ibu

Pada dua hari pertama bekerja, Mandala mulai merasakan perih di jari-jari kakinya.

Sepatu sekolah yang ia gunakan sejak kelas 1 SMK sudah terlalu sempit.

Tubuhnya yang terus bertumbuh membuat kakinya tak lagi muat di ruang sempit sepatu tersebut.

Sang ibu sempat menawarkan untuk membelikan sepatu baru dari hasil gajinya. Namun Mandala menolak.

“Mama, pentingkan rumah dulu. Mandala bisa tahan aja kok,” ujar Ratna menirukan ucapan putranya.

Mandala hanya meminta ganjalan empuk dari bungkusan apel agar rasa sakit di kakinya sedikit berkurang saat harus berdiri berjam-jam.

Namun rasa sakit itu perlahan menjalar. Setelah sekitar setengah bulan bekerja, nyeri mulai terasa hingga ke punggung dan pinggang.

Tubuhnya semakin kurus, keseimbangannya mulai terganggu, hingga akhirnya ia tak lagi mampu memaksakan diri.

Permintaan Terakhir yang Membuat Hati Pilu

Sebelum kepergiannya, Mandala sempat menunjukkan semangat untuk kembali sekolah.

Ia bahkan bercanda dengan wali kelasnya.

Namun ada satu permintaan sederhana yang kini terasa begitu memilukan.

“Bu, kalau ke sekolah, boleh tidak saya pakai sandal saja? Sepatu saya sudah kekecilan, kaki saya sakit,” ujar Ratna menirukan perkataan anaknya.

Sore sebelum mengembuskan napas terakhir, Mandala disebut memiliki nafsu makan yang sangat besar, seolah ingin memberi tanda bahwa kondisinya mulai membaik.

Ia makan dengan lahap sambil menunggu ibunya pulang agar bisa makan bersama.

Namun takdir berkata lain.

Remaja penyayang itu pergi meninggalkan beban dunia yang selama ini ia pikul sendirian.

Kepergian Mandala meninggalkan luka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga menjadi refleksi sosial bagi lingkungan sekitarnya.

Ratna mengaku sempat merasakan pahitnya menjadi warga pendatang ketika membutuhkan bantuan ambulans.

“Kalau bisa, pemerintah tinjau orang yang betul-betul susah. Jangan sampai yang sudah susah malah tidak terdaftar bantuan,” pesannya.

Kini Mandala telah beristirahat. Ia tak perlu lagi menahan sakit di kaki atau memikirkan uang sewa rumah.

Ia pergi meninggalkan pelajaran tentang pengorbanan yang melampaui batas kemampuan seorang anak sekolah.

Menyesakkan Dada

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 yang semestinya menjadi momentum penuh optimisme berubah menjadi refleksi mendalam setelah muncul kabar duka dari Samarinda, Kalimantan Timur. Seorang siswa SMK dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami komplikasi kesehatan yang diduga berkaitan dengan penggunaan sepatu sekolah yang sudah kekecilan.

Peristiwa tersebut memicu perhatian publik karena dinilai bukan sekadar persoalan keterbatasan ekonomi, melainkan juga menyangkut kepekaan sosial di lingkungan sekitar anak.

Kisah itu kemudian menjadi sorotan dalam refleksi pendidikan yang disampaikan Dr Linda Fauziyah Ariyani.

Ia menilai tragedi tersebut menunjukkan masih adanya tanda-tanda kesulitan anak yang luput disadari bersama.

Baca juga: Siswa SMK di Samarinda Meninggal Diduga Sepatu Kekecilan, Disdikbud Kaltim: Sampaikan ke Sekolah

Pendidikan Dinilai Tak Cukup Hanya Bantuan Fisik

Dalam refleksinya, Dr Linda menyebut Kalimantan Timur sebenarnya termasuk daerah yang cukup progresif dalam sektor pendidikan.

Pemerintah daerah telah menyediakan layanan pendidikan gratis hingga tingkat SMA dan SMK.

Program tersebut bahkan diperluas melalui program Gratispol untuk pendidikan tinggi.

Selain itu, bantuan perlengkapan sekolah seperti seragam, tas, sepatu, kaos kaki, dasi, topi, hingga ikat pinggang juga telah diberikan kepada siswa.

Namun menurutnya, peristiwa di Samarinda menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak cukup hanya hadir dalam bentuk kebijakan dan bantuan fisik.

“Pendidikan membutuhkan sesuatu yang jauh lebih mendasar: kepekaan sosial,” tulisnya.

Era Digital Dinilai Membuat Kepedulian Sosial Menurun

Dr Linda juga menyoroti perubahan perilaku sosial masyarakat di tengah perkembangan teknologi dan era digital.

Ia menilai masyarakat kini lebih mudah mengetahui kabar orang jauh melalui media sosial, tetapi justru sering tidak menyadari kesulitan orang di sekitarnya.

“Kita aktif di media sosial, tetapi pasif terhadap realitas sosial,” tulisnya.

Menurutnya, kasus siswa SMK di Samarinda menjadi cermin bahwa masih ada anak-anak yang berjuang diam-diam tanpa diketahui lingkungan sekitar.

“Mungkin ia datang ke sekolah sambil menahan sakit. Mungkin ia tetap tersenyum meski sepatu yang dipakai melukai kakinya setiap hari,” lanjut refleksi tersebut.

Peran Guru dan Sekolah Jadi Sorotan

Dalam tulisan tersebut, peran guru dan sekolah juga menjadi perhatian utama.

Guru dinilai tidak seharusnya hanya dibebani administrasi dan laporan, tetapi perlu diberi ruang lebih luas untuk memahami kondisi murid secara langsung.

Dr Linda menilai anak-anak sering kali tidak membutuhkan ceramah panjang, melainkan sosok orang dewasa yang benar-benar peduli terhadap keadaan mereka.

Menurutnya, guru yang peka biasanya mampu melihat tanda-tanda kecil seperti perubahan perilaku, murid yang murung, penurunan prestasi, hingga perlengkapan sekolah yang sudah tidak layak digunakan.

“Hal-hal kecil seperti itulah yang sering menjadi pintu masuk untuk menyelamatkan masa depan anak,” tulisnya.

Pentingnya Kolaborasi Sosial

Selain sekolah, masyarakat juga dinilai memiliki peran penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang lebih peduli.

Komite sekolah, orang tua, alumni, dunia usaha, hingga masyarakat sekitar disebut perlu dilibatkan dalam ekosistem kepedulian sosial.

Dr Linda menilai persoalan pendidikan tidak bisa seluruhnya dibebankan kepada pemerintah dan tidak semata-mata dipandang sebagai isu kemiskinan.

“Kadang sebuah masalah tidak membutuhkan anggaran besar. Ia hanya membutuhkan mata yang mau melihat dan hati yang mau tergerak,” tulisnya.

Jadi Refleksi Hardiknas 2026

Peristiwa di Samarinda dinilai menjadi refleksi penting pada momentum Hari Pendidikan Nasional tahun ini.

Publik diajak merenungkan kembali apakah dunia pendidikan saat ini benar-benar telah menyentuh sisi kemanusiaan dan menghadirkan rasa aman bagi seluruh anak.

“Jangan sampai kita memiliki gedung sekolah yang megah, program yang hebat, dan teknologi yang canggih, tetapi kehilangan kemampuan paling dasar sebagai manusia: peduli,” tulis Dr Linda.

Ia juga menegaskan bahwa masa depan seorang anak tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik, tetapi juga oleh kecepatan lingkungan sekitar dalam menyadari ketika seorang anak membutuhkan pertolongan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.