Lulusan Pelatihan Bahasa Jerman Jabar Siap Naik Level, Targetkan Karier Profesional di Pasar Eropa
Muhamad Syarif Abdussalam May 03, 2026 03:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, MAJALENGKA - Pemerintah Provinsi Jawa Barat membuka fase baru dalam upaya membawa tenaga kerja daerah menembus pasar internasional. Momentum itu ditandai dengan kelulusan angkatan perdana pelatihan bahasa Jerman level A2 yang digelar secara massal.

Agenda penutupan berlangsung di Fitra Hotel, Majalengka, Minggu (3/5/2026), dan disebut menjadi pengalaman pertama bagi Pemprov sekaligus pijakan awal arah kebijakan ketenagakerjaan yang lebih global.

Inisiatif ini lahir dari kerja sama antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan lembaga pelatihan bahasa Instudia yang bertindak sebagai mitra teknis.

Dalam pelaksanaannya, Instudia memegang peran penuh mulai dari penyusunan kurikulum, pengelolaan metode pembelajaran berbasis hybrid, hingga pengawasan serta evaluasi peserta melalui sistem digital berbasis learning management system (LMS).

Direktur Instudia, Aceng Imam, menegaskan bahwa desain pelatihan tidak semata berorientasi pada kelulusan bahasa. Lebih jauh, program ini diarahkan untuk membangun kesiapan kerja secara utuh bagi para peserta.

“Target kami bukan hanya peserta lulus A2, tapi siap masuk ekosistem kerja di Jerman. Karena itu selain bahasa, kami biasakan mereka dengan ritme belajar disiplin, pemahaman budaya kerja, dan kesiapan administratif,” ujarnya.

Ia menjelaskan, program ini diikuti ratusan peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Jawa Barat. Proses pembelajaran dijalankan dengan intensitas tinggi setiap hari.

Skema hybrid yang digunakan menggabungkan sesi daring dan pertemuan tatap muka yang dijadwalkan, sehingga mampu menjaga efektivitas pembelajaran sekaligus menjangkau peserta dalam jumlah besar.

Penutupan kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat, Yomanius Untung. Ia menilai program ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan bagian dari strategi besar dalam mengubah wajah tenaga kerja daerah.

"Ini bukan sekadar program pelatihan biasa. Ini adalah strategi besar Jawa Barat untuk mengubah profil tenaga kerja kita, dari pencari kerja lokal menjadi warga dunia yang kompetitif," kata H. Untung.

Pemilihan Jerman sebagai tujuan utama bukan tanpa alasan. Negara tersebut dipandang berada di posisi terdepan dalam peta migrasi tenaga kerja global. Dari sisi kompensasi dan perlindungan tenaga kerja, Jerman dinilai menawarkan standar yang lebih tinggi dibandingkan destinasi yang selama ini populer seperti Jepang, Korea Selatan, maupun Taiwan.

Dalam proyeksi yang disampaikan pada program ini, tenaga kerja dengan sertifikasi bahasa Jerman level A2 berpeluang memperoleh penghasilan berkisar antara 2.300 hingga 2.600 euro per bulan.

Jika dikonversikan dengan asumsi kurs Rp 20.000 per euro, jumlah tersebut setara Rp 45 juta hingga Rp 52 juta. Sementara bagi mereka yang mencapai level B1 atau B2, potensi pendapatan dapat menyentuh angka 5.000 euro atau sekitar Rp 100 juta per bulan.

H. Untung kembali menegaskan bahwa program ini mencerminkan perubahan cara pandang terhadap ketenagakerjaan di daerah.

"Kita mendorong anak-anak muda Jawa Barat bukan lagi sekadar jadi TKI dalam pengertian lama, tetapi menjadi professional migrant worker yang dihargai karena keahliannya," ujarnya.

Untuk memastikan akses yang lebih luas, Pemerintah Provinsi menghapus biaya pelatihan bahasa, baik untuk bahasa Jerman maupun Jepang. Langkah ini ditujukan agar generasi muda yang memiliki keterbatasan finansial tetap memiliki kesempatan mengikuti program tersebut.

Sementara itu, pada aspek pembiayaan keberangkatan, pemerintah tengah mengupayakan advokasi kepada Komisi XI DPR-RI guna meninjau kembali skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi pekerja migran yang dinilai belum sepenuhnya memadai.

Selain itu, dorongan juga diarahkan kepada BP2MI dan pemerintah pusat agar memperluas dukungan pembiayaan bagi calon pekerja yang sudah lolos seleksi teknis namun masih terkendala modal.

Meski peluang terbuka lebar, penguasaan bahasa disebut bukan satu-satunya syarat. H. Untung mengingatkan bahwa kemampuan teknis tetap menjadi fondasi utama, terutama di sektor tenaga kesehatan dan perawatan.

"Bahasa adalah kunci masuk, tetapi keahlian teknis yang akan membuat mereka bertahan dan berkembang di sana," katanya.

Para calon pekerja migran juga diwajibkan memenuhi empat aspek kesiapan yang telah ditetapkan pemerintah.

Aspek tersebut meliputi kesiapan mental dan fisik dalam menghadapi iklim negara empat musim, kepatuhan pada jalur resmi, kelengkapan dokumen administratif termasuk penggunaan visa kerja, serta penguasaan kompetensi vokasional sesuai kebutuhan pasar kerja Jerman.

Pemerintah turut memberikan peringatan tegas agar peserta tidak mudah tergoda tawaran dari pihak tidak resmi seperti broker atau calo yang menawarkan jalur cepat di luar prosedur.

Dari sisi sosial dan budaya, Jerman digambarkan sebagai negara yang terbuka terhadap kehadiran tenaga kerja asing. Lingkungan masyarakatnya disebut menghargai pekerja yang memiliki etos kerja tinggi dan kemampuan komunikasi yang baik.

Bagi peserta yang mampu mencapai level B2, peluang yang terbuka tidak hanya sebatas peningkatan ekonomi dalam jangka pendek. Lebih dari itu, tersedia jalur karier profesional jangka panjang di kawasan Eropa.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyatakan akan terus menjaga keberlanjutan program ini melalui dukungan kebijakan dan pendanaan. Kolaborasi dengan mitra pelaksana yang dinilai mampu mengelola pelatihan dalam skala besar secara sistematis juga akan terus diperkuat.

Ke depan, program ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam membangun sistem internasionalisasi tenaga kerja yang tertata, legal, dan memberikan martabat lebih bagi pekerja migran Indonesia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.