TRIBUNPADANG.COM, SOLOK - Shasmecka Nafisa Harjo, siswi kelas XII.F3.1 SMAN 1 Solok, Sumatera Barat, dinyatakan diterima di dua perguruan tinggi di Amerika Serikat.
Capaian ini menjadi buah bibir sekaligus inspirasi bagi pelajar lainnya di Sumatera Barat, khususnya di lingkungan SMAN 1 Solok. Sasi, sapaan akrabnya, memang dikenal sebagai siswi yang memiliki ambisi kuat untuk menempuh pendidikan di luar negeri.
Kepala SMAN 1 Solok, Ifnindria, saat dihubungi hari ini, Minggu (3/5/2026), membenarkan kabar bahagia tersebut.
Ia menyatakan rasa bangganya atas dedikasi yang ditunjukkan oleh siswinya hingga mampu menembus ketatnya persaingan akademik di tingkat global.
"Ini adalah langkah nyata Sasi untuk mewujudkan cita-citanya. Ia memang fokus ingin mendalami bidang medis dan laboratorium," ujar Ifnindria.
Ifnindria membeberkan bahwa Sasi bukanlah sosok baru dalam dunia prestasi. Bakatnya sudah terasah sejak lama, terutama dalam penguasaan bahasa internasional yang menjadi modal utamanya menuju Amerika Serikat.
Tercatat, pada tahun 2023 lalu, Sasi berhasil menyabet Juara 1 lomba pidato bahasa Inggris. Tak berhenti di situ, ia juga membawa pulang trofi Juara 1 lomba debat bahasa Inggris yang diselenggarakan di Universitas Andalas (Unand) untuk tingkat Sumatera Barat.
"Sasi termasuk murid yang sangat aktif dan bertalenta. Kemampuannya dalam berdebat dan berpidato menunjukkan kematangan pola pikirnya di usia muda," lanjut Ifnindria.
Baca juga: Shasmecka Nafisa Harjo Siswi SMAN 1 Solok Tembus Kampus Amerika Serikat, Kembali ke Rumah Kedua
Keberhasilan Sasi menembus universitas di Negeri Paman Sam ini dinilai sejalan dengan visi sekolah.
SMAN 1 Solok saat ini tengah melakukan terobosan besar untuk memfasilitasi siswa-siswinya agar mampu bersaing di kancah internasional.
Ifnindria mengungkapkan, pihak sekolah kini sedang merencanakan dan mulai memproses pembukaan kelas internasional. Hal ini dilakukan demi mengakomodasi tingginya minat siswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri.
"Kami sudah merencanakan dan sudah mulai memproses kelas internasional di SMAN 1 Solok. Fasilitas ini sangat penting bagi anak-anak kami yang punya mimpi besar," ungkapnya.
Fenomena siswa yang ingin kuliah di mancanegara di sekolah tersebut ternyata tidak hanya dilakukan oleh Sasi seorang.
Saat ini, beberapa siswa lainnya juga tengah berjuang mengikuti seleksi di berbagai negara.
Menurut penuturan Ifnindria, ada siswa SMAN 1 Solok yang sedang mengikuti tes di Western Sydney University (WSU), Australia. Selain itu, terdapat pula siswa yang kini tengah berproses mengikuti seleksi pendidikan di Turki.
"Kami terus memberikan dukungan penuh. Saat ini ada yang sedang tes di Sydney, ada juga yang lagi tes untuk kuliah di Turki. Semangat internasionalisasi ini sedang tumbuh kuat di sekolah kami," tambahnya.
Langkah Sasi ke Amerika Serikat diharapkan menjadi pembuka jalan bagi rekan-rekannya yang lain.
Bidang medis dan laboratorium yang dipilih Sasi diprediksi akan menjadi sektor yang sangat krusial di masa depan.
Pihak sekolah berharap, setelah menyelesaikan pendidikannya nanti, Sasi dan siswa lainnya dapat kembali memberikan kontribusi nyata, baik untuk daerah asal maupun untuk kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia.
Kabar ini sekaligus menegaskan bahwa kualitas pendidikan di Kota Solok tidak bisa dipandang sebelah mata, bahkan mampu bersaing dengan sekolah-sekolah unggulan di kota besar lainnya.
Baca juga: 15 Atlet Karate Sumbar Siap Tempur di Kejurnas Bandung, Bidik Dua Emas
"Semoga keberhasilan Sasi menjadi motivasi bagi seluruh adik kelasnya agar tidak takut bermimpi setinggi langit," pungkas Ifnindria.
Siswi kelas XII.F3.1 SMAN 1 Solok ini baru saja mencatatkan prestasi membanggakan dengan diterima di dua perguruan tinggi di Amerika Serikat, sebuah langkah nyata untuk mewujudkan cita-citanya di bidang medis dan laboratorium.
Keputusan untuk menyeberangi samudra demi pendidikan tinggi bukanlah sebuah kebetulan.
Bagi Shasmecka, Amerika Serikat adalah rumah kedua yang memanggilnya kembali. Ia pernah menetap di negara tersebut selama tujuh tahun, tepatnya saat berusia 9 hingga 16 tahun.
"Keinginan untuk kembali ke Amerika sangat tinggi karena rencana keluarga yang akan pindah dan menetap di sana, tepatnya di Charlotte, North Carolina," ujar Shasmecka saat dihubungi dari Padang, Sabtu (2/5/2026).
Rencana kepindahan tersebut kemudian ia sinkronkan dengan peta jalan akademisnya. Shasmecka memantapkan diri untuk mengincar University of North Carolina Charlotte (UNCC).
Namun, transisi pendidikannya tidaklah mudah. Sekembalinya ke Indonesia, Shasmecka mengaku sempat mengalami culture shock yang cukup hebat akibat perbedaan sistem pembelajaran yang dianggapnya lebih intens dan menuntut ketahanan mental tinggi.
Untuk beradaptasi, ia memacu diri dengan disiplin yang ketat. Selama di SMAN 1 Solok, fokus utamanya tertuju pada mata pelajaran yang linear dengan impian kariernya di dunia medis dan laboratorium, yakni kimia, biologi, matematika lanjut, dan sosiologi.
Kemampuan berbahasa Inggris yang sudah dikuasai sejak lama menjadi modal besar baginya. Kendati demikian, ia tetap menaruh perhatian penuh pada penguasaan materi akademik agar standarnya tetap terjaga di atas angka 80.
Proses pendaftaran ke luar negeri bukanlah perjalanan yang mulus tanpa hambatan. Shasmecka mengungkapkan, tantangan terberat justru terletak pada birokrasi dokumen yang cukup rumit.
Baca juga: Shasmecka Nafisa Harjo Siswi SMAN 1 Solok Tembus Kampus Amerika Serikat, Kembali ke Rumah Kedua
"Semua hal termasuk rapor harus di translatekan dan kadang sekolah tidak menyediakan pelayanan tersebut. Jadi saya sendiri terpaksa mencari orang yang bisa membantu mentranslate transcrip saya secara resmi," ungkapnya.
Selain itu, ia harus berhadapan dengan kendala administratif terkait surat rekomendasi. Setiap siswa wajib menyertakan surat rekomendasi dari guru bimbingan konseling (BK) dan guru mata pelajaran dalam bahasa Inggris.
Demi kelancaran proses tersebut, Shasmecka harus menjalin komunikasi intensif dengan para gurunya.
Ia mengaku sangat berutang budi kepada Ibu Yatri dan Ibu Febrinar Iswanti atas dukungan dan waktu yang diberikan dalam membantu menyiapkan surat rekomendasi tersebut.
Prestasi ini diraih Shasmecka secara mandiri dengan dukungan penuh dari ayahnya yang saat ini telah menetap di Amerika Serikat.
Ia membuktikan bahwa meski berasal dari daerah, akses informasi dan tekad yang kuat mampu menembus standar pendidikan global.
Dalam perencanaan akademisnya, Shasmecka memilih strategi yang cukup taktis. Ia akan menempuh pendidikan di Central Piedmont Community College terlebih dahulu untuk mengumpulkan kredit semester.
"Saya akan mengambil kredit satu semester di sana yang nantinya bisa ditransfer ke UNCC. Untuk semester awal ini, saya akan menjalaninya secara daring," jelasnya.
Menariknya, Shasmecka baru saja menyelesaikan orientasi daring sepekan lalu. Ia dijadwalkan akan memulai perkuliahan di community college mulai Agustus mendatang, sebelum akhirnya bertolak ke Amerika Serikat pada Oktober 2026.
Keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi rekan-rekan sejawatnya di SMAN 1 Solok. Shasmecka pun tak segan membagikan kunci keberhasilannya dalam menembus kampus luar negeri.
Menurutnya, siswa harus mulai melakukan riset mandiri sejak dini mengenai prosedur perubahan transkrip nilai ke bahasa Inggris. Selain itu, persiapan tes kemampuan bahasa Inggris seperti TOEFL, IELTS, atau Duolingo English Test wajib dilakukan jauh-jauh hari melalui banyak latihan.
Ia juga menekankan pentingnya memahami jenis visa yang diperlukan, yakni visa kategori F-1, M-1, atau J-1 sebagai syarat mutlak bagi pelajar internasional di Amerika Serikat.
"Jalur community college adalah alternatif yang sangat disarankan karena bisa menjadi jembatan menuju universitas besar melalui sistem transfer kredit," pungkasnya.