TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Ada pemandangan berbeda di etalase Mall Sarinah, Jakarta Pusat, akhir April lalu.
Di antara deretan produk artisan nasional, terselip kemasan cokelat batangan bertajuk "Kayan Kowa".
Produk ini bukan sekadar camilan, ia adalah buah keringat petani dari Desa Antutan dan Pejalin di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.
Selain itu, hadir sejumlah nama yang mungkin belum akrab di telinga publik ibu kota, amplang berbahan ikan, hingga aneka olahan khas pesisir Kalimantan Utara.
Bupati Bulungan, Syarwani, datang langsung ke ibu kota bukan sekadar untuk seremoni.
Ia membawa misi besar, membawa produk daerah "naik kelas" sekaligus menarik mata dunia ke Bulungan.
Bukan Sekadar Etalase
Langkah membuka galeri di Jakarta sering kali dianggap sebagai pemborosan atau sekadar ajang pamer.
Namun, bagi Syarwani, Sarinah adalah gerbang diplomasi ekonomi.
Prosesnya pun tak instan. Sejak 2024, komunikasi intens dijalin dengan manajemen Sarinah.
Dari 70 produk yang diusulkan, 30 produk terpilih melalui kurasi ketat, mulai dari cokelat bubuk, abon ikan, hingga amplang khas nelayan Kalimantan.
Syarwani menekankan pentingnya sebuah "narasi" di balik produk.
Bagi Bupati Bulungan ini, pembeli bukan hanya membeli rasa, tapi membeli sejarah Sungai Kayan.
Menanam Kepercayaan, Menuai Investasi
Di balik upaya mempercantik hilir melalui UMKM, Syarwani sadar betul bahwa hulu harus diperkuat.
Sejak 2022, pihaknya telah menyebarkan 30.000 bibit cokelat berkualitas hasil kerja sama dengan Puslitkoka Jember.
Ambisi ini sejalan dengan iklim investasi yang sedang mekar di Bulungan.
Pada tahun 2024, Bulungan mencatat realisasi investasi sebesar Rp 14 triliun—melampaui target awal yang hanya Rp 8 triliun.
"Ini bukan soal kebijakan saja, tapi soal kepercayaan. Investor datang karena suasana daerah yang kondusif," tegasnya.
Pak Bupati, kami dengar kedatangan Bapak ke Jakarta adalah untuk meresmikan galeri atau etalase UMKM Bulungan di Mall Sarinah. Boleh diceritakan prosesnya?
Alhamdulillah, pada 30 April kemarin, bersama Kementerian UMKM, serta perwakilan Kemendagri dan Kementerian Kehutanan, hadir di Sarinah Mall untuk meresmikan event yang kita kemas dengan Festival Budaya Bulungan. Dan salah satunya adalah produk-produk yang dihasilkan oleh para pengusaha UMKM yang ada di Bulungan.
Ini proses yang sudah cukup panjang, sejak tahun 2024 kita membangun komunikasi dengan jajaran manajemen di Sarinah untuk bagaimana produk-produk UMKM Bulungan bisa hadir di etalase yang ada di Sarinah Mall Jakarta.
Alhamdulillah kemarin itu bisa terwujud untuk kita bisa menghadirkan beberapa produk UMKM yang setelah dikurasi. Dari usulan yang kita sampaikan di awal itu ada 70-an produk, namun yang sudah selesai dikurasi di Sarinah Mall, itu kurang lebih ada 30.
30 produk. Boleh disebut beberapa misalnya?
Kebanyakan yang kemarin sudah dikurasi dan kita pajang di etalase itu adalah makanan-makanan camilan, termasuk juga camilan yang bisa dibawa atau menjadi oleh-oleh.
Dan seperti itu juga dengan produk asli yang ditanam oleh para petani kita, yaitu jenis komoditas tanaman coklat.
Coklat itu ditanam oleh para petani kita di dua desa, salah satunya Desa Antutan dan Desa Pejalin. Setelah ditanam, mereka panen dan diolah dalam rumah pengolahan yang diorganisir melalui badan usaha milik desa.
Dan itu dipajang dan kita masukkan sebagai salah satu yang dikurasi di Sarinah Mall kemarin, dan itu sudah masuk di etalasenya hari ini. Dalam bentuk batangan maupun dalam bentuk coklat bubuk.
Itu sudah siap dikonsumsi?
Siap konsumsi.
Kayak merek-merek coklat di minimarket itu sudah siap ya? Ini dinamai merek apa?
Ada namanya Kayan Kowa,
Jadi kita mengambil coklat yang berasal dari Sungai Kayan. Filosofinya seperti itu, karena Bulungan itu sungai yang paling menjadi urat nadi dan sangat familiar dengan kita adalah Sungai Kayan.
Selain coklat, kita tahu di sana banyak produk-produk ikan. Apakah semacam amplang dan sejenisnya ada?
Ada juga, yang berasal dari para nelayan kita yang dikelola ibu-ibu. Ada yang memproduksi abon, demikian juga beberapa makanan ringan termasuk amplang berbahan ikan yang dipajang di Sarinah Mall.
Saya mengundang Tribuners untuk datang ke Sarinah Mall melihat produk-produknya.
Mengapa harus membuka galeri di Jakarta? Apakah tidak terlalu high cost, berbiaya tinggi atau sekadar gaya-gayaan saja? Apa rencana program Pak Bupati untuk itu?
Ya tentu, kami ingin UMKM Bulungan itu tidak hanya dipasarkan di lokal Bulungan atau Kalimantan Utara saja.
Negara ini sangat luas dengan beragam suku, dan kita ingin produk-produk ini bisa diketahui dan dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Salah satunya di ibu kota negara, di Sarinah itu sendiri.
Selain promosi produk, tentu juga nanti akan terbangun komunikasi. Jika ada permintaan dalam skala besar terhadap produk UMKM Bulungan, bisa langsung berkomunikasi dengan pemerintah daerah.
Nah bagaimana, apakah ini juga ditujukan untuk mencari investor, misalnya kalau ada usaha besar?
Salah satunya. Karena yang kita konsen hari ini, produk UMKM tidak hanya bicara dari sisi hilir, tapi juga hulunya. Misalnya coklat. Bagaimana mulai dari menanam bibit, pemeliharaan, sampai panen benar-benar terjamin sehingga memenuhi selera pasar.
Mungkin saja kita bermimpi ke depan bahwa produk-produk ini diminati investor, khususnya dari sisi produksi coklat berskala internasional, termasuk pengolahannya. Itu sangat mungkin.
Di Kabupaten Bulungan, dengan kebijakan Kementerian Kehutanan melalui konsep perhutanan sosial, kawasan hutan juga menjadi salah satu tempat produksi coklat, termasuk di dua desa tadi.
Sejak 2022, di Desa Antutan ada sekitar 30 ribu bibit coklat yang disebarkan ke petani, hasil kerja sama dengan Puslitkoka di Jember. Bibit tersebut disesuaikan dengan kondisi tanah di Bulungan.
Pak, biasanya investor mempertimbangkan bahan baku. Apakah cukup untuk industri besar?
Untuk skala internasional mungkin belum. Tapi gerakan ini menjadi motivasi bagi petani coklat. Jika ada investor dalam negeri, kita siap bekerja sama. Minimal coklat kering bisa dibawa ke pusat industri pengolahan coklat di Indonesia.
Baca juga: Pemerintah Bawa 40 UMKM ke Pameran FHA 2026 di Singapura, Kantongi Kontrak Eskpor Rp 54,5 Miliar
Pak Bupati, soal investasi. Biasanya investor melihat goodwill pemerintah daerah dan ketersediaan lahan. Apa yang dijanjikan kepada investor?
Kita pastikan pemerintah daerah sangat welcome terhadap investor. Sistem perizinan melalui OSS kita jaga agar tidak ada pungli.
Dan alhamdulillah, investasi di Bulungan tahun 2024 mencapai lebih dari Rp14 triliun dari target Rp8 triliun.
Artinya ada kepercayaan dari investor karena kondisi daerah yang aman dan kondusif.
Kembali ke UMKM, berapa jumlah pelaku UMKM di Bulungan?
Sekitar 11–12 ribu. Memang belum semua terfasilitasi dari sisi perizinan, tapi itu menjadi PR pemerintah daerah.
Kami juga punya program Kredit Mesrah (Kredit Masyarakat Ekonomi Sejahtera) melalui PT BPR Bank Bulungan, dengan bunga di bawah 6 persen.
Kurang lebih 4 persen karena ada subsidi. Karena ada subsidi yang kita titipkan di angka, katakanlah flat di angka 6 persen. Mungkin ada subsidi yang kita berikan, sehingga kita tetapkan yang dibebankan kepada si debitur dalam hal ini hanya kurang lebih 4 persen.
Sejak 2023 hingga 2026, total penyaluran kredit mencapai sekitar Rp19,2 miliar.
Kalau ada kesulitan?
Kita fasilitasi, terutama kendala administrasi atau agunan. Kita permudah prosesnya agar UMKM bisa mengakses pembiayaan.
Kalau misalnya ada pelaku UMKM di Bulungan yang bermasalah, apakah Bapak berani memberikan nomor handphone agar bisa langsung diakses?
Saya tidak berjarak, tidak, tidak ada jarak. Handphone yang saya miliki ini juga semuanya bisa diakses oleh warga masyarakat Bulungan. Bukan hanya kepada pengusaha UMKM.
Dan tentu saya berusaha memfasilitasi dengan dinas terkait. Misalnya hal yang berkaitan dengan, kita kerjasama dengan Majelis Ulama misalnya dalam segi kehalalan. Kita bicara dengan teman-teman di BPOM untuk memastikan higienitas produk.
Juga sosialisasi, upaya peningkatan kapasitas UMKM juga terus kita beri. Dan kebijakan-kebijakan subsidi APBD, itu juga kita pastikan juga mengarah kepada para pengusaha UMKM. Sebagai contoh, tahun 2025 yang lalu, di tepian Sungai Kayan itu ada para pengusaha UMKM tidak kurang dari 300 pengusaha. Dan memang kemarin ada kita subsidi secara gratis gerobak untuk mereka berjualan. Tanpa mereka sewa.
Nah itu memang, karena memang dikoordinasikan dengan pemerintah daerah (18:33) melalui dinas terkait dalam hal ini.
Selain di Jakarta, juga menyediakan gerobak-gerobak di daerah. Artinya selain pemasaran di Jakarta, di lokal juga dilakukannya. Apa saja yang Bapak lakukan? Apakah misalnya ikut juga di pameran-pameran?
Kita setiap tahun biasanya ada kegiatan Apkasi. Apkasi Expo, misalnya pertemuan Apkasi di skala pemerintah kabupaten. Asosiasi Pemerintah Kabupaten Indonesia,
Dan tahun ini masih ada, mungkin di sekitar bulan Juni atau Juli nanti, Insya Allah, kita pasti akan ikut dan terlibat di dalam kegiatan Expo. Dan kita tampilkan produk-produk tidak hanya dalam bentuk makanan, tapi juga kreativitas masyarakat kita. Misalnya kain batik, dan ukiran dan lain sebagainaya yang ada di para pengusaha UMKM kita yang bergerak di bidang batik maupun UMKM yang bergerak di ukiran itu juga kita libatkan.
Kalau ada investasi dari Jakarta atau dari luar negeri masuk ke sana, (19:35) lalu keamanan dijamin? Apa imbauan Pak Bupati kepada masyarakat Bulungan untuk menerima investasi atau investor dari luar?
Ya, alhamdulillah yang kita hanya berbicara pada kondisi yang ada hari ini, Pak. Ketika ada kegiatan-kegiatan investasi, walaupun yang mungkin lebih rentan misalnya pembebasan tanah, tentu pasti ada jalan, pasti ada komunikasi. Nah, tugas kita memediasi hal tersebut.
Nah, sehingga kita ingin bahwa masyarakat juga mendapatkan haknya, juga mendapatkan manfaat, tapi di sisi lain investasi tetap bisa bergerak masuk. Ya tentu pendekatan-pendekatan secara kultural, secara sosiologis masyarakat kita terjalan. Dan itu bisa dilakukan oleh institusi-institusi yang ada di pemerintah daerah.
Mulai dari perangkat desa sampai kita memerankan peran dari lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan, misalnya peran lembaga adat, tokoh-tokoh masyarakat.
Itu bagian yang kita ikut, yang kita ajak untuk memberikan informasi sekaligus pemahaman bahwa ini ada kegiatan investasi, tapi di sisi lain bagaimana kegiatan investasi ini ke lain juga bisa menjadi mitranya. Sehingga masyarakat bisa mendapatkan manfaat secara ekonomis.
Minimal, di setiap itu ada pekerja yang melibatkan pekerja lokalnya, adalah warga masyarakat di sekitar itu.
Kembali ke Sarinah, apakah di etalase itu juga Bapak sediakan informasi-informasi lain, misalnya soal usaha di Bulungan atau kegiatan-kegiatan lain?
Jadi memang, kita juga menitipkan informasi secara umum terkait dengan potensi yang ada di Kabupaten Bulungan, terkait dengan kondisi geografis Kabupaten Bulungan, demografinya Kabupaten Bulungan, itu juga informasi yang masuk.
Bahkan kemarin saya bicara dengan Pak Dias, salah satu pimpinan dari Sarinah Mall. Memang ingin juga, kalau bisa ada produk UMKM Bulungan ini, misalnya ada satu produk, tapi dibikinkan narasi mengenai sejarah, ini menjadi ciri khasnya. Itu juga memang perlu untuk menjadi pemikiran.
Sehingga siapapun yang ingin datang dan mencari kue-kue ataupun makanan khasnya Bulungan itu, benar-benar dia tahu bahwa ini bukan hanya sekedar dinikmati, tapi ada cerita. Ada cerita yang ada di balik produk yang dihasilkan itu sendiri.
Jadi orang bukan hanya tahu rasanya, tetapi mengerti, tahu sejarah Bulungan.(Tribunnews/Malau)
Saksikan kisah dan wawancara eksklusif lengkapnya hanya di YouTube Tribunnews!