Liga 'Polisi' Super Lucu: Penjaga Lebih Banyak Daripada yang Dijaga
Abdul Azis Alimuddin May 04, 2026 01:21 AM

TRIBUN-TIMUR.COM - Penghujung Liga Indonesia 2025-2026 lagi super lucu-lucunya.

Lucu bukan karena ulah jenaka suporter.

Lucu bukan karena aksi geli wasit.

Lucu itu datang dari yang seharusnya tak perlu lucu: polisi.

Dan kelucuan itu datang dari satu arah, cara pertandingan dijaga.

Aparat keamanan memang sering berbuat sangat lucu di Stadion Gelora BJ Habibie.

Di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, pemandangan itu berulang.

Baracuda siaga.

Pasukan antihuruhara lengkap.

Formasi pengamanan seperti menghadapi kerusuhan besar.

Padahal mereka hanya didatangkan untuk mengawal orang yang mau menonton.

Bukan orang yang mau demo apalagi berkelahi.

Yang datang ke stadion adalah orang yang ingin menonton bola.

Bukan demonstran.

Bukan perusuh.

Oleh polisi, terutama di Parepare, sepak bola, yang mestinya ruang hiburan publik, tiba-tiba terasa seperti wilayah operasi keamanan.

Polisi Indonesia dalam Liga sangat lucu.

Mereka seolah penyelenggara Liga.

Polisi yang menentukan jumlah penonton yang boleh datang menonton.

Polisi yang menentukan parkir kendaraan. Dan semacamnya.

Padahal turnamen Liga ini hajatan Kemenpora melalui PSSI dan Badan Liga.

Paling sangat lucu adalah sikap polisi pada PSM menjelang pertandingan melawan Bhayangkara Lampung FC.

Tiba-tiba Polda Sulsel melarang penonton datang ke Stadion Gelora BJ Habibie.

Alasannya karena situasi kamtibmas di Hari Buruh dan Hari Pendidikan serta keterbatasan personel.

Lucunya, 343 personel keamanan disiagakan saat laga PSM Makassar melawan Bhayangkara FC di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, Senin (4/5/2026), meski pertandingan berlangsung tanpa penonton.

Di situlah ironi itu terasa begitu jelas.

Pengamanan besar untuk pertandingan tanpa penonton.

Sepak bola tanpa suporter.

Stadion tanpa denyut.

Dan publik hanya diminta menonton dari rumah.

Itu bukan sekadar soal lucu atau tidak.

Ini soal keseimbangan.

Keamanan memang penting.

Tetapi sepak bola hidup dari atmosfer.

Dari suara tribun.

Dari keterlibatan publik.

Jika setiap momentum dianggap rawan, lalu solusi utamanya selalu pembatasan, maka lama-lama yang hilang bukan hanya penonton.

Tetapi makna pertandingan itu sendiri.

Solusinya bukan meniadakan risiko dengan meniadakan publik. 

Sepak bola tidak bisa tumbuh dalam suasana yang terlalu dikontrol.

Karena sepak bola bukan sekadar pertandingan.

Ia adalah perayaan.

Dan perayaan yang terlalu dijaga, sering kali kehilangan kegembiraannya.

Maka benar, publik mungkin tersenyum melihat situasi ini.

Tetapi itu bukan tawa bahagia.

Itu tawa yang menyimpan tanya.

Sampai kapan sepak bola kita terasa seperti ini?

Sampai kapan liga kita lucu seperti ini?

Wassalam!

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.