Merayakan hari buruh 2026, saya teringat pada "nabi" nya.
Juga "nabi" saya terdahulu. Karl Max.
Dalam sebuah periode kehidupan, saya pernah jadi Sosialis.
Sewaktu muda saya gemar membaca buku-buku kiri.
Tapi yang membawa saya ke pangkuan Marx adalah kontemplasi hidup.
Saya merasa seperti Marx muda yang melihat agama sebagai candu.
Umat diajak untuk melupakan derita dunia dan menengadah ke sorga.
Ini tidak lain untuk memuluskan penindasan.
Pemerintah, politikus dan pengusaha adalah tripartit penindas kaum proletar.
Para tokoh rohani adalah sekutu dekat ketiganya.
Sabda nirwana yang disampaikan adalah senjata paling kuat untuk melemahkan sikap kritis warga.
Nyaris saya jadi atheis.
Tapi entah kenapa selalu ada yang menghalangi saya untuk jadi atheis.
Seakan ada sesuatu kekuatan yang menarik saya dari kiri ke kanan.
Tapi saya tertahan di tengah.
Dengan hati yang condong ke kanan.
Kembali saya digoda ke kiri, dan ditarik lagi ke kanan untuk lagi - lagi macet di tengah.
Begitu seterusnya.
Puji Tuhan. AnugerahNya terus menarik saya dan pada akhirnya itu tak dapat saya tolak. (Irresistible Grace).
Saya kembali pada Tuhan.
Mungkin itulah predestinasi.
Makanya saya sangat percaya dengan itu.
Banyak orang Kristen Reformed yang sejatinya masih bergumul dengan predestinasi.
Tapi saya sudah langsung menerima ajaran itu begitu menjadi Reformed.
Ya, karena pengalaman di atas.
Kepada seorang teman saya yang masih menganut prinsip pertentangan kelas, determinisme ekonomi dan diktatur proleter, saya berkata padanya, persoalan bukan terletak pada sistem. Tapi pada manusia.
Pemerintahan kapitalis yang menindas dirobohkan. Ganti komunis.
Tapi apakah dengan demikian warga sejahtera ? Ternyata tidak.
Malah para pentolan sosialis terbukti lebih menindas ketimbang konglomerat paling rakus sekalipun.
Contohnya Mao Tze Dong.
Fidel Castro, Stalin atau Kim Jong Un.
Karena persoalannya ada pada manusia.
Manusia yang sudah jatuh dalam dosa akan mudah menyelewengkan sistem yang baik.
Contohnya hukum yang sudah lewat kajian matang tak bisa dijalankan dengan sempurna karena keserakahan manusia.
Mau sistem kapitalis, sosialis, komunis atau mix sistem, tetap sama saja. Tetap akan ada kaya dan miskin.
Ada penindas dan yang ditindas.
Inti masalah ada pada manusia.
Sama rata sama rasa, saling menolong, senasib dan sepenanggungan.
Prinsip prinsip agung sosialisme ini mungkin hanya akan terwujud di surga.
Saat tubuh dosa sudah lenyap dan roh telah benar benar mengalahkan daging.
Namun kala orang Kristen di abad lampau berjuang menghapuskan perbudakan dan memanusiakan kerja hingga lahirlah aturan seperti delapan jam kerja, hak pesangon, hak cuti ibu hamil, perbaikan kesejahteraan buruh, itulah bayang bayang sorga di bumi. (Arthur Rompis)
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK