POS-KUPANG.COM, KUPANG- Para frater Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui Kupang tampil beda di Expo Panggilan Paroki Kolhua, Sabtu malam, 2 Mei 2026.
Mereka membawakan teater bayangan yang memberi pesan moral terkait gaya hidup anak muda sekarang terlalu sibuk main handphone (HP) sampai lupa Tuhan.
Penampilan teater bayangan oleh para frater ini menggugah perhatian umat yang hadir di pelataran Gereja Paroki Santo Fransiskus Asisi Kolhua, Kota Kupang.
Pementasan sederhana namun sarat makna itu menyoroti realitas kehidupan modern, khususnya pengaruh media digital dan penggunaan telepon genggam yang kian menyita perhatian manusia.
Baca juga: Umat Paroki Kolhua Kupang Khusyuk Mengikuti Misa Pembukaan Bulan Maria
Dalam alur cerita, ditampilkan bagaimana keheningan, ruang penting untuk berjumpa dengan Tuhan, menjadi semakin langka di tengah hiruk-pikuk dunia virtual.
Teater tersebut dibawakan oleh frater tingkat pertama program filsafat, dengan pendampingan frater tingkat lima program teologi. Meski tanpa tata panggung yang rumit, pesan yang disampaikan dinilai kuat dan relevan dengan situasi kaum muda saat ini.
Salah satu pemeran, Frater Alex Jolong, mengatakan pementasan itu tidak sekadar hiburan, melainkan sarana refleksi iman, terutama bagi generasi muda yang hidup di tengah arus teknologi.
“Dunia semakin dipenuhi arus teknologi modern yang kerap membuat manusia larut dalam penggunaan gawai. Akibatnya, relasi dengan Tuhan menjadi terabaikan. Untuk menemukan Tuhan, dibutuhkan keheningan hati,” ujarnya.
Baca juga: Paroki St Fransiskus Asisi Kolhua Gelar Kegiatan Expo Panggilan Paroki
Menurut dia, keheningan hanya dapat dialami jika seseorang berani mengambil jarak dari distraksi, termasuk membuka diri terhadap panggilan hidup yang datang dari Tuhan.
Sementara itu, penanggung jawab kegiatan, Romo Don, menegaskan teater bayangan dipilih sebagai media komunikasi yang efektif untuk menyampaikan pesan panggilan secara kontekstual.
“Ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi cara menyampaikan pesan iman melalui cerita. Tuhan tetap memanggil setiap orang. Tinggal bagaimana manusia menanggapi panggilan itu,” katanya.
Ia juga mengajak kaum muda untuk tidak ragu merespons panggilan Tuhan, apa pun bentuknya, seraya percaya bahwa Tuhan yang memanggil akan senantiasa menyertai.
Melalui pementasan tersebut, para frater tidak hanya mengajak umat menemukan kembali Tuhan dalam keheningan doa, tetapi juga mendorong sikap bijak dalam menggunakan media digital serta keberanian untuk mendengarkan dan menanggapi panggilan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.(*)