TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kematian Ghofirul Kasyfi (22), seorang prajurit TNI AL asal Bangkalan di atas KRI Radjiman Wedyodiningrat menyisakan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar.
Peristiwa ini tidak hanya mengguncang keluarga, tetapi juga memicu perhatian publik terhadap apa yang sebenarnya terjadi di dalam kapal perang tersebut.
Informasi awal yang beredar menyebutkan korban meninggal dalam kondisi tidak wajar saat tengah menjalankan tugas.
Namun, pihak keluarga mengaku menemukan sejumlah kejanggalan yang sulit mereka terima begitu saja.
Mulai dari kondisi jenazah hingga kronologi kejadian yang dinilai tidak transparan, semuanya menjadi sorotan.
Keluarga korban pun berani angkat bicara, mengungkap dugaan adanya hal yang disembunyikan.
Mereka menuntut penjelasan yang jujur dan menyeluruh dari pihak terkait atas kematian prajurit tersebut.
Kasus ini pun berkembang menjadi misteri yang menyita perhatian, terutama di kalangan masyarakat Bangkalan.
Kini, publik menanti kejelasan: apakah ini murni insiden biasa, atau ada fakta lain yang belum terungkap?
Baca juga: Detik-detik Kurir Paket Dibegal Saat Berteduh di Bandung Jabar, Pelaku Bawa Kabur Motor dan 12 Paket
Seperti diketahui, Anggota TNI AL Kelasi Dua, Ghofirul Kasyfi (22) ditemukan meninggal dunia di kamarnya yang berada di dalam KRI Radjiman Wedyodiningrat. Saat jenazah dipulangkan ke rumahnya di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, pihak keluarga melihat sejumlah kejanggalan.
Ayah Ghofirul, Mahbub Madani, mengatakan bahwa kejanggalan itu bermula sejak bulan Februari 2026 saat Ghofirul mendapatkan penempatan tugas di KRI Radjiman Wedyodiningrat.
Di kapal bantu rumah sakit itulah Ghofirul menjalani masa orientasi selama tiga bulan.
Sejak mendapat penempatan tugas, pemuda yang akrab dipanggil Ovy ini sering mengirim pesan pada ibunya. Bahkan, sebulan setelah ditempatkan di kapal militer itu Ovy mengaku ingin pindah kapal.
"Anak saya mengaku dipukul seniornya. Bukan hanya satu tapi sampai puluhan orang," kata Mahbub, Senin (4/5/2026).
"Bahkan dia bilang tidak kuat dan ingin pindah ke kapal di Surabaya. Saat itu kapalnya dia di Jakarta," ujarnya lagi.
Ovy juga kerap mengirim pesan pada keluarganya jika setiap hari dia hanya beristirahat selama 1 jam. Lalu, setiap malam Ovy mendapatkan penganiayaan di kapal tersebut.
"Ovy itu bilang kalau siang dia kerja dan malamnya di bantai. Dia selalu tidur jam 2 dan jam 3 sudah dibangunkan lagi. Anak saya juga kerap mengirim pesan minta tolong pada kami," ungkapnya.
Kejanggalan semakin terlihat pada akhir Maret ketika pihak keluarga didatangi dua orang yang mengaku sebagai senior Ovy. Dua orang tersebut mengaku mencari Ovy karena diduga kabur dari kapalnya.
"Dua orang itu mengaku komandan di kapalnya mencari anak saya. Katanya anak saya kabur dari kapal," ujarnya.
Namun, sehari setelah dua orang tersebut datang ke rumah keluarga, orangtua Ovy kembali mendapatkan telepon dari salah satu seniornya dan memberi tahu bahwa Ovy meninggal dunia.
"Anehnya, sehari setelahnya anak saya ditemukan meninggal dunia di dalam kamar di kapal tersebut. Padahal, kata mereka sebelumnya sudah di geledah di kamar dan anak saya tidak ada," katanya.
Tak hanya itu, pihak keluarga juga mendapatkan informasi bahwa pihak TNI AL menyatakan Ovy meninggal akibat bunuh diri.
"Bagi kami itu hal yang mustahil dilakukan anak saya. Dia itu orangnya tegar dan dia juga ikut bela diri jadi mentalnya cukup kuat. Pilihan bunuh diri bagi dia rasanya tidak mungkin," ungkapnya.
Kemudian, pada tanggal 27 April sekitar pukul 01.30 dini hari, jenazah Ovy tiba di rumah duka di Kabupaten Bangkalan. Peti jenazah lalu dibuka sedikit untuk melihat wajah Ovy.
"Di situ saya melihat wajah anak saya lebam-lebam. Itu sudah sangat aneh bagi saya," ujarnya.
Peti jenazah lalu dibuka utuh pada pagi hari sebelum dimakamkan. Keluarga lalu melihat banyak lebam di tubuh korban. Bahkan, bagian selangkangan korban mengeluarkan darah.
"Lebih aneh lagi, luka di leher anak saya itu di sini (leher bawah). Seharusnya, kalau memang bunuh diri, tali ke atas karena tubuhnya merosot ke bawah," kata Mahbub.
"Dan salah satu seniornya juga bilang lebam di tubuh anak saya itu bukan lebam tapi tanda lahir. Saya kenal anak saya dan tahu tubuh anak saya, dia tidak punya tanda lahir," ujarnya lagi.
Ayah korban juga mengaku mengamuk saat melihat tubuh anaknya mengalami lebam dan banyak kejanggalan atas kematian anaknya.
"Di situ saya bertekad ingin anak saya diotopsi," pungkasnya.
(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)