'Proyek Kebebasan' Trump di Selat Hormuz Gagal Goyang Harga Minyak Dunia, Brent Flat di 108 Dolar AS
Febri Prasetyo May 04, 2026 12:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Harga minyak global hampir tidak bergerak setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan operasi “Project Freedom” (Proyek Kebebasan) untuk membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Al Jazeera melaporkan kontrak berjangka Brent untuk Juli berada di level 108,25 dolar AS per barel pada awal perdagangan, hanya naik tipis 0,08 persen.

Kondisi ini menunjukkan pasar belum percaya bahwa langkah Washington mampu mengatasi krisis energi terbesar saat ini.

Trump menyatakan Amerika Serikat akan “membantu membebaskan” kapal-kapal yang terdampar di Teluk mulai awal pekan.

Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci bagaimana operasi tersebut akan dijalankan, termasuk apakah akan melibatkan pengawalan militer oleh Angkatan Laut AS.

Reuters melaporkan, minimnya detail operasional membuat pelaku pasar menilai langkah ini lebih bersifat simbolis ketimbang solusi nyata terhadap gangguan distribusi energi global.

Iran Menolak, Ancaman Eskalasi Menguat

Rencana AS langsung mendapat respons keras dari Teheran. Pejabat Iran menegaskan tidak akan bekerja sama dalam pelaksanaan operasi tersebut.

Ketua Komisi Keamanan Nasional parlemen Iran, Ebrahim Azizi, memperingatkan,“Setiap campur tangan Amerika di selat tersebut akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata.”

Al Jazeera melaporkan penolakan ini memperbesar risiko eskalasi di tengah gencatan senjata rapuh yang telah berlangsung sejak April.

Ketegangan antara kedua negara masih tinggi, terutama terkait kontrol atas jalur pelayaran strategis tersebut.

Baca juga: Iran: Trump Akui Seperti Bajak Laut Blokade Kapal di Selat Hormuz, PBB Harus Bertindak

Serangan Laut Terus Terjadi, Jalur Energi Belum Aman

Di lapangan, ancaman keamanan masih nyata.

Militer Inggris melaporkan sebuah kapal tanker terkena “proyektil tak dikenal” di lepas pantai Uni Emirat Arab, sementara kapal lain diserang di dekat perairan Iran.

Menurut UK Maritime Trade Operations (UKMTO), tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Namun, kejadian ini menegaskan bahwa jalur pelayaran belum aman meski ada upaya pembukaan kembali.

Reuters melaporkan gangguan keamanan ini terus membayangi distribusi energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Analis: Pasar Lebih Khawatir Soal Pasokan

Para analis menilai bahwa pasar minyak saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor fundamental, terutama penurunan pasokan global.

Analis Sparta di Singapura, June Goh, mengatakan kepada Al Jazeera, “Persediaan minyak global yang dapat diamati mulai menurun tajam, yang seharusnya lebih membebani sentimen pasar daripada pernyataan politik.”

Ia menambahkan, “Menormalkan aliran melalui Selat Hormuz akan membutuhkan lebih dari Project Freedom, dan kesenjangan pasokan akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dipulihkan.”

Pernyataan ini mempertegas bahwa pasar tidak mudah terpengaruh oleh kebijakan jangka pendek tanpa perubahan nyata di sisi suplai.

Produksi Global Turun, Harga Sulit Turun

Penutupan jalur pelayaran dan serangan terhadap infrastruktur energi telah mengurangi produksi minyak global secara signifikan. Goldman Sachs memperkirakan penurunan mencapai 14,5 juta barel per hari.

Lonjakan gangguan ini membuat harga minyak naik hampir 50 persen sejak awal konflik.

Bahkan jika ketegangan mereda, pemulihan distribusi energi diperkirakan membutuhkan waktu lama karena kerusakan logistik dan ancaman keamanan yang belum sepenuhnya hilang.

Baca juga: Iran Ajukan 14 Syarat Damai, Trump Bimbang, Konflik Memanas dan Dunia Menahan Napas

Lalu Lintas Hormuz Anjlok Drastis

Data pelacakan kapal menunjukkan dampak nyata di lapangan. Hanya sekitar 20 kapal yang melintasi Selat Hormuz dalam satu hari terakhir.

Sebagai perbandingan, sebelum konflik, rata-rata terdapat sekitar 129 kapal per hari, menurut badan PBB UNCTAD.

Penurunan tajam ini menunjukkan bahwa krisis energi global lebih dipicu gangguan distribusi daripada sekadar sentimen pasar.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.