Ita Fatia Nadia menjadi salah satu aktivis perempuan yang terus melakukan pendampingan korban pemerkosaan massal pada Kerusuhan Mei 1998. Dia bahkan harus menghadapi teror.
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Sejarah dan aktivis perempuan Ita Fatia Nadia menjadi salah satu sosok yang paling keras menyuarakan keadilan terhadap korban pemerkosaan massal saat Kerusuhan Mei 1998. Kepada NOVA edisi 5 Juli 1998, Ita Fatia bercerita bagaimana perjuangannya mengorek informasi dari para korban.
Betapa dalamnya luka yang ditinggalkan akibat tragedi kerusuhan di Jakarta pertengahan Mei 1998 silam, rasanya tak tergambarkan lagi. Seiring dengan berlalunya waktu, kisah-kisah miris dan pilu di balik peristiwa itu mulai terungkap. Satu di antaranya yang kini menjadi pemikiran banyak pihak adalah perkosaan massal yang terjadi bersama kerusuhan dan penjarahan.
Menurut laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dibentuk oleh pemerintah, sedikitnya 85 perempuan yang menjadi korban pemerkosaan massal saat Kerusuhan Mei 1998. Perinciannya: 52 pemerkosaan, 14 kekerasan seksual berat, 10 penganiayaan seksual, dan 9 pelecehan seksual.
Ita Fatia Nadia, aktivis perempuan yang getol melakukan pendampingan terhadap korban pemerkosaan massal, menegaskan bahwa perkosaan itu benar-benar terjadi. “Tim kami menemukan korban-korbannya,” aku Ita, yang ketika Direktur Kalyanamitra sekaligus koordinator tim relawan Divisi Kekerasan Terhadap Perempuan (DKTP) yang dibentuk untuk membantu para wanita korban tragedi kerusuhan Mei 1998, kepada Tabloid NOVA (Nova, 5 Juli 1998).
Ketika itu, bersama lembaga-lembaga sejenis seperti Mitra Perempuan, LBH APIK, dan lainnya, Ita Fatia dan lembaganya melakukan investigasi, memberikan pelayanan medis dan psikologis, serta mengontak para keluarga korban. Untuk langkah awal saat itu, mereka juga membuka hotline untuk para korban yang ingin mengadu.
Dari situ, “Banyak pengaduan masuk dari para korban maupun keluarganya. Mereka mau bercerita panjang walau sambil nangis sesenggukan,” cerita Ita Fatia.
Yang kemudian menjadi persoalan adalah para pelapor itu enggan menyebut identitas pelaku dan Ita Fatia benar-benar sadar soal itu. Dia bisa memahaminya. “Dalam kasus perkosaan umumnya, korban dan keluarganya cenderung menutup diri. Apalagi ini, yang kebanyakan diperkosa rata-rata oleh 3 sampai 7 pelaku secara bergantian,” katanya.
Walau menghadapi banyak kesulitan, Ita telah berhasil mengontak beberapa keluarga korban. Terkait hal ini, Ita Fatia berterima kasih kepada sejumlah rohaniawan yang bersedia memberi info dan mengantar anggota tim relawan.
Tanpa bantuan mereka, tambah Ita, “Rasanya sulit kami menemui para keluarga korban.” Selain lewat para rohaniawan, Ita juga mengaku memanfaatkan sahabat para korban untuk melakukan pendekatan sebelum akhirnya bertemu dengan mereka.
Dari situ, Ita dan timnya kemudian mengidentifikasi persoalan yang dihadapi para korban. Dan setelah itu merujuk mereka ke lembaga yang dapat membantu memulihkan trauma mereka. Tak hanya trauma healing, Ita dan timnya juga mengupayakan bantuan medis saat itu.
“Sebab, mereka bukan cuma diperkosa ramai-ramai, tapi juga dimasuki benda-benda keras pada kemaluannya, seperti botol dan gagang sapu. Begitu brutalnya, hingga kami yakin, ini bukan tindakan masyarakat awam,” papar Ita. Benar-benar bikin ngilu.
Karena kondisi itulah ketika melakukan pendampingan Ita selalu menekankan pada korban dan keluarganya bahwa pelaku perbuatan biadab itu bukan masyarakat biasa. “Mereka orang-orang yang terorganisasi dan sepertinya sudah dilatih dulu. Ada yang mengomandoi, kok. Lagi pula, kalau bukan terorganisir, mana mungkin selama empat hari berturut-turut terjadi pemerkosaan di puluhan tempat sekaligus dengan pola yang sama,” kata Ita.
Di luar jumlah pasti, Ita ketika itu punya dugaan kuat bahwa “Ada ribuan korban yang mengalami sexual harassment, seperti ditelanjangi, diraba-raba, bahkan disuruh menari-nari dengan telanjang. Adapun yang mengalami perkosaan langsung sekitar 100 perempuan dari berbagai usia.”
Yang juga harus dihadapi Ita dan timnya adalah sikap keluarga yang pasrah, yang tak yakin hukum bisa berbuat banyak untuk memberi keadilan kepada para korban. Tugas Ita kemudian adalah menyebarkan peristiwa itu ke dunia yang lebih luas, nasional maupun internasional.
Di tengah upayanya membongkar dan melakukan pendampingan terhadap korban pemerkosaan massal, Ita dan timnya juga harus berhadapan dengan pihak-pihak yang tidak senang dengan aksi mereka. “Kami sering menerima teror lewat telepon agar menghentikan aksi kami. Para korban dan saksi kami juga diteror, hingga mereka ketakutan dan tak mau bicara lagi,” ceritanya.
Tapi teror-teror itu nyatanya tak menyurutkan langkah Ita. Buktinya, hingga saat ini, perempuan yang juga sejarawan itu terus bersuara lantang demi keadilan para korban pemerkosaan massal.
“Kami bekerja untuk hati nurani dan rasa kemanusiaan,” tegas Ita. Dia juga bersyukur karena banyak lembaga yang ketika itu menawarkan bantuannya pada DTKP. Antara lain dari Fakultas Psikologi UI, Universitas Atma Jaya, Universitas Tarumanegara, dan World Vision.

Aktivis perempuan lain yang turut melakukan pendampingan terhadap korban pemerkosaan massal pada Mei 1998 adalah Rita Serena Kolibonso yang ketika itu Direktur Eksekutif Mitra Perempuan. Juga kepada NOVA dia mengaku, saat itu, dirinya menyediakan waktu 24 jam sehari untuk para korban.
Seperti Ita, Rita juga bercerita menghadapi kendala yang sama. Dia harus berhadapan dengan para korban yang umumnya sulit bercerita.
“Secara psikologis, mereka bukan cuma malu, tapi juga putus asa dan ketakutan luar biasa. Sulit bagi mereka mempercayai siapa pun. Apalagi, sampai sekarang belum ada pelaku yang ditangkap. Mereka belum yakin kondisi sekarang sudah aman dan masih waswas kejadian itu bakal terulang lagi,” jelas Rita.
Rita juga mengamini apa yang disampaikan oleh Ita bahwa kerusuhan dan pemerkosaan massal yang terjadi pada Mei 1998 digerakkan oleh kelompok yang terorganisasi. “Mereka juga rata-rata dalam kondisi setengah mabuk saat melakukannya,” tambah Rita.
Yang bikin kita semua sakit hati tentu saja pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon baru-baru ini yang menyebut bahwa tidak ada pemerkosaan massal pada Mei 1998.
Dalam sebuah wawancara dengan IDN Times pada pertengahan 2025 lalu, lulusan Sastra Rusia Universitas Indonesia itu mengklaim bahwa peristiwa pemerkosaan massal tahun 1998 tidak ada buktinya. Menurutnya, peristiwa itu hanya berdasarkan rumor yang beredar dan tidak pernah ada bukti pemerkosaan massal pada peristiwa Mei 1998.
“Nah, ada perkosaan massal. Betul enggak ada perkosaan massal? Kata siapa itu? Itu enggak pernah ada proof-nya (bukti). Itu adalah cerita. Kalau ada, tunjukkan. Ada enggak di dalam buku sejarah itu? Enggak pernah ada," ucap Fadli Zon.
Fadli mengaku, pernah membantah keterangan tim pencari fakta yang pernah memberikan keterangan ada pemerkosaan massal pada peristiwa Mei 98. "Saya sendiri pernah membantah itu dan mereka tidak bisa buktikan. Maksud saya adalah, sejarah yang kita buat ini adalah sejarah yang bisa mempersatukan bangsa dan tone-nya harus begitu," ujar Fadli Zon.
Sebagai informasi, pernyataan itu dibuat oleh Fadli Zon di tengah proses penulisan ulang sejarah Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan. Yang Fadli Zon inginkan terkait penulisan ulang sejarah Indonesia itu adalah tone yang positif. Jadi, yang negatif-negatif harus dikubur dan ditutup-tutupi begitu ya?