TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Universitas Multimedia Nusantara (UMN) melalui Program Studi Film menyelenggarakan festival film tahunan, UCIFEST ke-17 pada 4-8 Mei 2026 di UMN, Serpong, Kabupaten Tangerang, Banten.
Festival tahun ini mengambil tema 'Power' yang berupaya mengeksplorasi berbagai bentuk kekuatan dalam kehidupan, baik relasi sosial, identitas, politik, maupun personal.
Festival film ini juga menjadi wadah bagi para anak muda yang punya minat membuat film, mulai dari tingkat pelajar, mahasiswa hingga internasional.
Dalam kesempatan ini ditayangkan juga film dan animasi hasil karya mahasiswa UMN yang turut dihadiri oleh pembuat filmnya.
Satu di antaranya karya animasi berjudul 'Beauty Potion' yang mengandung makna seberapa berbahayanya sebuah ketamakan.
Baca juga: Integrasikan AI dan ESG, UMN Luncurkan Program Doktor Manajemen Teknologi
Dalam konferensi pers UCIFEST 17, Dekan Fakultas Seni dan Desain UMN, Muhammad Cahya Mulya Daulay menyampaikan bahwa karya - karya yang diikuti dalam festival film ini bukan sekadar capaian pembelajaran, tapi diharapkan menjadi sebuah tolok ukur bagaimana sebuah karya kreatif bisa dikonsumsi secara luas.
"Karya-karya ini bukanlah sekadar capaian dari pembelajaran atau perkuliahan, tetapi kami berharap karya-karya ini menjadi sebuah tolak ukur bagaimana karya kreatif bisa disebarluaskan ke khalayak yang lebih luas, kepada masyarakat, kepada audiensnya," kata Cahya, di Gedung C, UMN, Kabupaten Tangerang, Banten, Senin (4/5/2026).
Menurutnya festival film semacam ini diperlukan oleh anak-anak muda yang punya minat dan bakat membuat film agar karya mereka bisa muncul ke permukaan dan sampai ke target audiensnya masing-masing.
Baca juga: UMN Luncurkan Program Magister Desain, Upaya Siapkan SDM yang Kritis-Kreatif Hadapi Tantangan Global
"Karena tidak ada artinya apabila karya film dan animasi yang telah dibuat itu akhirnya tidak bisa muncul ke permukaan dan tidak disampaikan kepada khalayak yang menjadi target audiensnya," katanya.
Sementara itu, Festival Director, Carmella Fitrya Zahra menyampaikan bahwa tercatat ada sebanyak 167 film dari 8 negara yakni Indonesia, Turki, Mesir, Brasil, Korea Selatan, India, Hungaria dan Tiongkok diikutsertakan dalam UCIFEST 17.
Berdasarkan proses kurasi yang sudah dilakukan, ada 27 film dari total 5 kategori yang dianggap terbaik untuk berlanjut ke tahapan screening dan dikompetisikan selama rangkaian festival berlangsung.
"Dari 167 film itu, terpilih 27 yang terbaik. Dan dari 27 yang terbaik itu telah terpilih 5 hingga 7 yang akan di screening per harinya. Jadi akan terpilih 1 yang terbaik dari 5 kategori," kata Carmella.
Ketua Program Studi Film UMN, Edelin Sari Wangsa berharap pelaksanaan festival film UCIFEST 17 ini dapat menjadi semacam pembanding bagi mahasiswa sehingga mereka mengetahui karya kreatif seperti apa yang harus dibuat dan diminati masyarakat.
"Pada akhirnya mahasiswa menjadi tahu bahwa film semacam ini yang harus dibuat. Apalagi UCIFEST sudah internasional," ucap Edelin.
Melalui wadah ini, diharapkan para pembuat film, akademisi, dan publik dapat bertemu untuk saling berbagi perspektif, memperluas wawasan, dan menguatkan ekosistem perfilman khususnya bagi generasi muda.