TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Pengurus Kabupaten (Pengkab) Esports Indonesia (ESI) Trenggalek terus memacu pembinaan atlet muda. Meskipun dihadapkan pada tantangan anggaran yang terbatas.
Dengan memanfaatkan kolaborasi lintas sektor, ESI Trenggalek rutin menghelat kompetisi skala kecil. Tujuannya menjaring bibit-bibit potensial di Bumi Menak Sopal.
Wakil Sekretaris Umum ESI Kabupaten Trenggalek, Wildan Bisri mengungkapkan proses pembinaan calon atlet dilakukan secara rutin setiap bulan.
Mengingat banyaknya nomor pertandingan dalam cabang olahraga esports, pihaknya melakukan penjadwalan secara bergantian.
Baca juga: BERLANGSUNG! Link Live Streaming Persib Bandung vs PSIM Yogyakarta Live TV Mana?
"Pembinaan ESI Trenggalek terhadap calon atlet cukup rutin. Hampir setiap bulan kita laksanakan, bisa sekali atau dua kali. Kami berkolaborasi dengan komunitas, pengusaha, hingga instansi untuk menjaring calon atlet melalui turnamen skala kecil di warung kopi (warkop)," ujar Wildan saat dikonfirmasi, Senin (4/5/2026).
Wildan menjelaskan alasan pemilihan warkop sebagai lokasi perlombaan adalah untuk pendekatan emosional.
Menurutnya, pegiat gim di Trenggalek mayoritas berkumpul di warkop, sehingga pihak ESI memilih untuk jemput bola.
"Kenapa kok di warkop, karena temen temen pengiat game ini mereka sering di warkop, jadi kita mendekatkan kepada mereka," katanya.
Dari kegiatan rutin tersebut, tercatat sekitar 10 hingga 15 atlet terjaring setiap bulannya, yang kemudian datanya dilaporkan secara berkala kepada KONI dan Disdikpora Trenggalek.
Selain agenda rutin, ESI Trenggalek tengah mempersiapkan ajang bergengsi, yakni Trenggalek Esports Championship (TEC) Season 3 yang direncanakan berlangsung pada September mendatang.
Piala Pelajar yang terakhir kali digelar pada 2024 di Aula Disdikpora juga direncanakan kembali hadir tahun ini.
Namun, Wildan tidak menampik adanya kendala teknis yang krusial, yakni masalah koneksi internet. Ia mengibaratkan jaringan internet sebagai lapangan bagi para atlet esports.
"Jaringan ini penentu, ibarat lapangannya. Kalau lapangannya bagus, mainnya enak. Kami sudah sampaikan ke Disdikpora, dan kabarnya akan ada dukungan jaringan berupa Starlink. Kami sedang menunggu proses pengadaannya," imbuhnya.
Perihal pendanaan, ESI Trenggalek saat ini menerima alokasi anggaran sebesar Rp7 juta berdasarkan Surat Keputusan Ketua KONI.
Nilai ini dirasa masih jauh dari angka ideal yang berkisar antara Rp30 juta hingga Rp50 juta per tahun, mengingat intensitas pembinaan yang kontinu.
Meskipun dengan dana terbatas, prestasi atlet ESI Trenggalek cukup mentereng. Wildan menyebutkan bahwa atlet mereka telah menembus kancah internasional dan baru-baru ini masuk ke skala nasional untuk nomor pertandingan e-Football.
Pada ajang Porprov 2025, ESI Trenggalek juga berhasil menyabet Juara 3 pada nomor EA FC Mobile.
"Harapan kami tentu ada dana tambahan agar pembinaan lebih maksimal. Berapa pun yang diberikan tetap kami syukuri, namun dengan dukungan lebih, kami yakin prestasi bisa lebih baik lagi," tutur Wildan.
Terpisah, Ketua KONI Trenggalek, Doding Rahmadi mengakui ketersediaan anggaran saat ini memang menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh Cabang Olahraga (Cabor).
Ia menyebutkan pemerintah daerah mengalokasikan dana sekitar Rp1 miliar. Idealnya kebutuhan anggaran untuk pembinaan sekaligus pelaksanaan Porprov mencapai Rp4 miliar hingga Rp5 miliar.
"Anggaran Rp 1 miliar itu memang minim. Pengalaman sebelumnya, anggaran Rp2 miliar saja habis untuk keperluan Porprov, sehingga pembinaan rutin terkendala," beber Doding Rahmadi.
Doding merinci biaya pembinaan idealnya membutuhkan Rp2 miliar. Kemudian operasional Porprov juga menghabiskan sekitar Rp2 miliar.
"Idealnya memang sekitar Rp 4 miliar sampai Rp5 miliar untuk mencakup pembinaan, Porprov, hingga sarana prasarana cabor," jelas Doding.
(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)