TRIBUNPEKANBARU.COM,PEKANBARU - Memilih untuk bekerja, jadi babak baru bagi kehidupan seorang murid laki-laki di SDN 13 Pekanbaru. Padahal murid tersebut baru duduk di kelas lima.
Jalannya memang masih panjang. Namun mimpi untuk melanjutkan pendidikan kandas di satu persimpangan.
Murid tersebut memilih untuk putus sekolah ketika berada di persimpangan. Pilihan ini disampaikannya secara lugas lewat media sosial kepada gurunya.
Dirinya dengan tegas memilih untuk bekerja saja dibanding kembali ke sekolah. Ia menolak ajakan gurunya untuk kembali ke sekolah agar menuntaskan pendidikan di SD.
Sebenarnya, ia sudah memperlihatkan rencana untuk berhenti sekolah pada tahun 2025 silam. Ia tidak lagi rutin masuk ke sekolah untuk belajar.
"Sejak tahun lalu, dia pernah masuk sebentar, setelah itu menghilang dan tidak ada kabar," jelas Guru SDN 13 Pekanbaru, Dezcy Septia Caturyani Jufri kepada Tribunpekanbaru.com, Senin (4/5/2026).
Dirinya berbincang dengan murid tersebut lewat akun Instagram SDN 13 Pekanbaru. Ia menanyakan lewat perbincangan pesan instagram.
"Kenapa tidak sekolah lagi nak ? Dia menjawab mau kerja dan lebih senang kerja. Padahal dia masih kelas lima," ungkapnya.
Guru PJOK ini menyarankan apabila hendak bekerja sebaiknya menuntaskan pendidikan hingga kelas enam. Namun ia memilih tetap untuk bekerja.
"Terus saya jawab, kalau mau sekolah, sekolah ini terbuka untuk kamu," ujarnya.
Wanita yang disapa Deci menyadari bahwa dirinya tidak bisa memaksa anak itu untuk belajar kembali ke sekolah. Ia menilai hal tersebut menjadi keputusan anak tersebut sedangkan orangtuanya tidak ikut campur.
"Kami kurang tahu dia kerja apa, setahu kami dia tinggal dekat pasar tak jauh dari sekolah ini. Kami sempat menjemput dia untuk sekolah lagi, tapi dia tidak mau sekolah," ungkapnya.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Syafrian Tommy menegaskan bahwa Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho memiliki program Zero Anak Putus Sekolah. Ia menilai program ini untuk mendorong anak-anak agar tidak putus sekolah.
"Kami bukan hanya mendorong anak-anak agar tidak putus sekolah, tapi menjadikan sekolah senyaman mungkin," jelasnya
Pihaknya juga membuka posko pelaporan anak putus sekolah. Ia menyampaikan bahwa proses pendataan terhadap anak putus sekolah di kota ini masih terus berjalan.
"Bagi warga yang mendapati ada anak yang putus sekolah, bisa juga lapor ke sekolah terdekat atau ke dinas. Kami arahkan ke sekolah yang masih menerima murid, jangan sampai ada anak putus sekolah," ujarnya.
Tommy menyebut bahwa pada tahun 2025 silam proses pendataan terhadap anak putus sekolah sudah berjalan. Ia menyampaikan ada 1.778 anak terdata putus sekolah di Kota Pekanbaru.
"Dari jumlah ini kita petakan, yang putus sekolah atau masuk sekolah non formal. Ada juga ijazah ya tertahan," tutupnya.
(Tribunpekanbaru.com/ Fernando Sikumbang)