Kisah Surebi dan Kemasan Solo, Usaha Jual Beli Emas Turun-temurun di Coyudan
Putradi Pamungkas May 04, 2026 09:29 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Andreas Chris Febrianto 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Fenomena Kemasan Solo atau lapak jual beli emas tradisional masih bertahan di kawasan Coyudan, sekitar Pasar Klewer.

Meski zaman terus berubah, para pelaku usaha ini tetap setia dengan cara dagang lama dan mengandalkan pembeli yang datang langsung.

Lapak sederhana berupa meja kecil dengan lemari kaca dan timbangan logam, lengkap dengan tulisan “Jual Beli Emas”, menjadi ciri khas Kemasan yang mudah ditemukan di sepanjang Jalan Radjiman hingga Yos Sudarso.

Kemasan Solo, Usaha Turun-Temurun di Coyudan

Kemasan merupakan sebutan bagi pengusaha jual beli emas tradisional yang telah lama eksis di Solo.

Di kawasan pusat perdagangan Coyudan, puluhan pelaku usaha ini berjejer memanfaatkan ruang seadanya untuk berdagang.

Mayoritas dari mereka menjalankan usaha secara turun-temurun, diwariskan dari orang tua hingga kakek-nenek.

Salah satunya adalah Surebi (65), warga Kartosuro, yang telah menekuni usaha ini sejak 1987.

"Tahun 1987, (meneruskan usaha) ibu moro sepuh (ibu mertua)," ungkap Surebi, belum lama ini.

LAPAK KEMASAN - Usaha jual beli emas atau Kemasan di kawasan Coyudan Kota Solo ada yang turun temurun bahkan sampai puluhan tahun, difoto belum lama ini. Mereka tetap mengandalkan sistem lama, menunggu pelanggan datang langsung ke lapak untuk menjual emas.
LAPAK KEMASAN - Usaha jual beli emas atau Kemasan di kawasan Coyudan Kota Solo ada yang turun temurun bahkan sampai puluhan tahun, difoto belum lama ini. Mereka tetap mengandalkan sistem lama, menunggu pelanggan datang langsung ke lapak untuk menjual emas. (TribunSolo.com/Andreas Chris Febrianto)

Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Menurut Surebi, merintis usaha Kemasan tidaklah mudah.

Saat itu, kawasan Coyudan sudah ramai dengan aktivitas perdagangan, termasuk banyaknya toko emas dan perak.

Kini, jumlah toko emas di kawasan tersebut justru menyusut, menyisakan hanya beberapa yang masih bertahan.

Berbeda dengan bisnis modern yang memanfaatkan teknologi, pelaku Kemasan tetap mempertahankan sistem tradisional, yakni menunggu pelanggan datang untuk menjual emas mereka.

Baca juga: 40 Tahun Jual Beli Emas di Coyudan Solo, Begini Cara Ibu Ini Hindari Barang Curian

Pendapatan Bergantung Momen dan Harga Emas

Surebi mengungkapkan, pendapatan dari usaha Kemasan tidak selalu stabil.

Ada momen tertentu yang membuat transaksi meningkat, seperti menjelang Lebaran atau awal tahun ajaran baru.

Selain itu, fluktuasi harga emas juga turut memengaruhi keuntungan yang diperoleh.

Dalam kondisi sepi, penghasilan yang didapat bisa berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp500 ribu per hari.

"Seperti ini tadi baru dapat satu barang, tapi belum saya jual. Mungkin nanti kalau Rp 100 ribu ya dapat untungnya. Saya tadi beli Rp 2 juta," terang Surebi sembari menunjukkan gelang emas yang baru saja ia beli dari seseorang.

"Ya nanti dijual lagi, kan ada pengepulnya nanti kalau udah dijual," lanjutnya.

Baca juga: Pemilik Lapak Jual Beli Emas di Coyudan Ungkap Pelanggan Kerap Jual Emas untuk Biaya Pendidikan Anak

Mampu Biayai Keluarga hingga Turun ke Generasi Berikutnya

Meski penghasilan tidak menentu, usaha Kemasan terbukti mampu menopang kebutuhan keluarga Surebi selama puluhan tahun.

"Iya sekolahin anak cucu, ya bisa renovasi rumah. Ya beliin cucu motor," kata dia.

Kini, salah satu anaknya mulai mengikuti jejaknya dengan membuka usaha serupa tak jauh dari lapaknya.

"Ini yang jelas anak kandung saya sendiri yang ikut, tapi nanti juga gak tahu nanti penerus saya siapa," pungkasnya.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.