SURYA.CO.ID, SURABAYA - Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Arif Fathoni, mendorong transformasi besar-besaran bagi pasar tradisional di Kota Pahlawan agar tidak sekadar menjadi tempat transaksi jual beli, melainkan destinasi wisata ikonik yang mendunia. Fokus utama yang dibidik adalah revitalisasi Pasar Tunjungan, untuk mengembalikan kejayaannya sebagai simbol identitas Surabaya.
Menurut Arif Fathoni, Surabaya yang selama ini menyandang status sebagai kota transit utama di Jawa Timur (Jatim), memerlukan magnet wisata yang kuat di pusat kota.
Ia menilai, keberadaan pasar tradisional yang dikelola dengan konsep kekinian akan menjadi nilai tambah yang signifikan bagi ekonomi lokal.
"Surabaya ini kota besar dan kota transit. Harusnya bisa punya pasar tematik yang kuat identitasnya. Kita punya potensi luar biasa, tinggal bagaimana pengelolaannya diarahkan sesuai potensi lokal," ujar Mas Thoni, sapaan akrabnya, saat dikonfirmasi SURYA.co.id di Surabaya, Senin (4/5/2026).
Baca juga: DPRD Surabaya Desak Rebranding Pasar Tradisional, Arif Fathoni: Harus Naik Kelas
Pasar Tunjungan menjadi sorotan utama karena lokasinya yang sangat strategis, berada di kawasan 'segitiga emas' pusat kota Surabaya. Mas Thoni menekankan, bahwa pasar ini memiliki modal sejarah dan geografis yang tidak dimiliki tempat lain.
Selain Pasar Tunjungan, ia juga mencontohkan Pasar Pabean yang sudah memiliki karakter kuat sebagai pasar ikan segar. Namun, untuk skala destinasi wisata yang lebih luas dan terintegrasi, Pasar Tunjungan adalah jawabannya. Beberapa strategi yang diusulkan antara lain:
Meski potensinya besar, langkah revitalisasi Pasar Tunjungan masih terganjal persoalan hukum. Aset milik Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya ini diketahui masih dalam status sengketa, yang selama ini menghambat percepatan renovasi fisik secara total.
Mas Thoni mengingatkan, agar Pemkot Surabaya belajar dari fenomena Sentra Wisata Kuliner (SWK) di beberapa titik yang kini sepi pengunjung. Ia menegaskan, bahwa pembangunan fisik tanpa konsep yang matang hanya akan membuang anggaran.
"Jangan sampai sudah dibangun tapi tidak hidup. Kuncinya di konsep dan pengelolaan yang berkelanjutan. Pasar Tunjungan harus bisa 'nebeng' popularitas Jalan Tunjungan yang kini jadi jujugan anak muda dan wisatawan luar kota," tambahnya.
Untuk menghidupkan ekosistem pasar, SURYA.co.id mencatat usulan Mas Thoni untuk menggandeng berbagai stakeholder. Ia menyarankan kolaborasi aktif dengan:
Terakhir, politisi Golkar ini memberikan catatan kritis terkait beban pedagang. Ia mewanti-wanti agar tidak ada praktik pungutan liar (pungli) atau retribusi berlapis yang memberatkan pelaku usaha kecil.
Sistem retribusi harus dibuat sederhana dan transparan, agar UMKM lokal bisa bertahan dan berkembang di tengah fluktuasi ekonomi.
Melalui pendekatan manajemen modern dan visi tematik yang jelas, pimpinan DPRD Surabaya tersebut optimis pasar tradisional bisa naik kelas dan menjadi tulang punggung baru pariwisata Surabaya.