Pesona Candi Rambut Monte, Perpaduan Sejarah, Mitos dan Keindahan Alam di Blitar
Mujib Anwar May 04, 2026 11:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM – Candi Rambut Monte menjadi salah satu destinasi wisata bersejarah di Kabupaten Blitar, Jawa Timur yang memadukan nilai religi, budaya, dan keindahan alam.

Terletak di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Blitar, kawasan ini dikenal sebagai wisata religi sekaligus wisata alam yang menarik perhatian pengunjung.

Situs ini tidak hanya menyimpan jejak peradaban masa Hindu, tetapi juga berpadu dengan pesona telaga jernih berwarna toska yang masih diselimuti berbagai mitos.

Keberadaan candi peninggalan era Kerajaan Majapahit, telaga alami, serta ikan yang dikeramatkan oleh masyarakat menjadikan Rambut Monte sebagai destinasi unik yang kaya sejarah sekaligus sarat nilai spiritual.

Asal-usul Nama Rambut Monte

Candi Rambut Monte terletak di kawasan wisata Telaga Rambut Monte, yang terletak di Desa Krisik.

Mengutip berbagai sumber, nama “Rambut Monte” sendiri memiliki makna filosofis.

Kata “rambut” berasal dari gabungan “ra” yang berarti penghormatan dan “but” yang merupakan kependekan dari buyut atau leluhur, sehingga dimaknai sebagai tempat suci untuk menghormati para leluhur.

Sementara itu, “monte” merujuk pada sejenis tumbuhan yang memiliki bentuk biji melengkung, seperti dilansir dari disbudpar.blitarkab.go.id.

Dengan demikian, Rambut Monte dapat diartikan sebagai kawasan yang sejak dahulu disucikan dan digunakan sebagai tempat pemujaan oleh masyarakat.

Selain makna filosofis tersebut, ada pula pendapat lain yang mengaitkan penamaan ini dengan bentuk hiasan kala pada candi yang menyerupai rambut atau sulur tanaman yang menjuntai, sebagaimana dilansir dari Kompas.com.

Baca juga: Fakta Menarik Candi Tapan Blitar, dari Tempat Pertapaan hingga Misteri yang Belum Terpecahkan

Struktur Candi dan Ciri Arsitektur

Candi Rambut Monte dibangun menggunakan batu andesit dengan bentuk persegi empat berukuran sekitar 2,92 x 2,96 meter dan tinggi tersisa sekitar 85 cm.

Dinukil dari sidita.disbudpar.jatimprov.go.id, saat ini bangunan candi hanya menyisakan bagian kaki (Kamadathu) dan sebagian tubuh (Rupadathu), sementara bagian atapnya telah runtuh sehingga bentuk aslinya belum dapat diketahui secara pasti.

Salah satu keunikan utama candi ini terletak pada hiasan kala di bagian depan.

Berbeda dengan umumnya yang digambarkan sebagai kepala raksasa menyeramkan, kala di Candi Rambut Monte justru menyerupai kepala manusia dalam posisi merangkak dengan ornamen sulur atau hiasan menyerupai ular di bagian atasnya.

Keunikan ini menjadikan Candi Rambut Monte memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan candi lain di Jawa Timur.

Selain itu, di sekitar candi ditemukan berbagai artefak, seperti lingga dan yoni dengan motif ukiran sulur gelung serta umpak batu yang menjadi bagian dari struktur bangunan.

Keberadaan lingga dan yoni sebagai simbol kesuburan sekaligus menegaskan bahwa Candi Rambut Monte berlatar belakang agama Hindu, sekaligus menunjukkan fungsi religiusnya pada masa lalu.

Baca juga: Jejak Sejarah di Balik Candi Selotumpuk, Situs Purbakala di Puncak Gunung Batok Blitar

Jejak Sejarah dan Fungsi Keagamaan

Candi Rambut Monte merupakan salah satu peninggalan masa Hindu yang diperkirakan berasal dari era Kerajaan Majapahit.

Dilansir dari Kompas.com, Candi Rambut Monte diduga merupakan tempat pemujaan umat Hindu pada masa Kerajaan Majapahit.

Meski demikian, hingga kini belum ditemukan catatan pasti mengenai kapan candi ini dibangun maupun siapa yang mendirikannya.

Minimnya sumber sejarah membuat situs ini masih menyimpan banyak misteri yang belum terpecahkan.

Keberadaan lingga, yoni, serta fungsi religiusnya semakin menguatkan bahwa candi ini memiliki peran penting dalam praktik keagamaan masyarakat pada masa Majapahit.

Baca juga: Candi Simbatan Magetan, Petirtaan Suci Peninggalan Medang dengan Air Sakral dan Tradisi Dewi Sri

Telaga Rambut Monte dan Ikan Dewa

Di bawah area candi terdapat Telaga Rambut Monte yang menjadi daya tarik utama kawasan ini.

Telaga alami ini memiliki air yang jernih dengan gradasi warna hijau toska hingga kebiruan, bahkan terlihat lingkaran biru muda di bagian tengahnya.

Diketahui, warna unik tersebut muncul secara alami akibat adanya dua sumber mata air yang mengandung mineral.

Telaga ini juga dihuni oleh ratusan ikan sengkaring atau yang dikenal sebagai “ikan dewa”.

Masyarakat setempat meyakini ikan-ikan tersebut sebagai makhluk keramat, sehingga tidak ada yang berani menangkap atau mengganggunya.

Bahkan, dipercaya jumlah ikan di telaga ini tidak pernah berubah.

Selain itu, terdapat kepercayaan bahwa siapa pun yang melanggar larangan tersebut, seperti memancing atau mengambil ikan, akan mendapat petaka, sebagaimana dilansir dari surabaya.kompas.com.

Baca juga: Jejak ​Sejarah Candi Plumbangan Blitar, Gapura Paduraksa Megah Pemersatu Era Kediri dan Majapahit

Legenda dan Mitos yang Mengiringi

Telaga Rambut Monte di Blitar
Telaga Rambut Monte menyuguhkan air jernih berwarna biru kehijauan dengan ikan sengkaring yang dipercaya keramat oleh masyarakat setempat. (Kompas.com) 

Candi Rambut Monte tidak lepas dari kisah legenda yang berkembang di tengah masyarakat.

Salah satu cerita menyebut adanya tokoh sakti dari masa Majapahit bernama Mbah Rambut Monte yang pernah bertarung melawan Rahwana dan naga.

Dalam kisah tersebut, Mbah Rambut Monte berhasil mengalahkan keduanya dan mengutuk Rahwana serta naga menjadi wujud candi.

Legenda ini juga berkaitan dengan asal-usul ikan di Telaga Rambut Monte.

Dikisahkan, murid-murid sang resi yang lalai menjalankan amanah untuk menjaga candi kemudian dikutuk menjadi ikan sengkaring yang hingga kini menghuni telaga.

Versi lain menyebutkan bahwa ikan-ikan tersebut merupakan prajurit Majapahit yang turut mendapat kutukan, sebagaimana dilansir dari sidita.disbudpar.jatimprov.go.id.

Selain itu, ada pula cerita yang mengaitkan terbentuknya telaga dengan kemarahan Mbah Rambut Monte, yang mengubah lingkungan sekitar menjadi sumber air dan habitat ikan.

Beragam legenda ini semakin memperkuat nilai spiritual dan kesakralan kawasan Rambut Monte yang masih dipercaya oleh masyarakat hingga saat ini.

Baca juga: Menelusuri Candi Sadon Magetan, Jejak Raja Airlangga hingga Kediri yang Menyimpan Mitos Ternak Sapi

Daya Tarik Wisata dan Fasilitas

Selain nilai sejarah, kawasan Rambut Monte juga menawarkan keindahan alam yang menenangkan.

Dilansir dari blitarkab.go.id, lokasi ini berada di kawasan sejuk di antara lereng Gunung Kelud dan Gunung Kawi, dengan pemandangan hamparan sawah, kebun teh, serta udara pegunungan yang segar sepanjang perjalanan.

Di area wisata, pengunjung dapat menikmati berbagai daya tarik, seperti telaga alami dengan air jernih yang dihuni ikan dewa, situs candi bersejarah, serta panorama alam yang asri.

Fasilitas yang tersedia juga cukup mendukung, antara lain gazebo untuk bersantai, sumber mata air pegunungan, hingga kolam khusus bagi pengunjung yang ingin berenang.

Namun, pengunjung tidak diperbolehkan berenang di telaga utama demi menjaga kelestarian ikan yang dianggap sakral.

Baca juga: Candi Gambar Wetan Blitar, Peninggalan Majapahit dengan Arsitektur Punden Berundak dan Relief Unik

Akses, Harga Tiket, dan Rute

Dari segi akses, lokasi Rambut Monte berjarak sekitar 30 hingga 31 kilometer dari Kota Blitar dengan waktu tempuh kurang lebih 50 menit. 

Rute perjalanan umumnya melalui Garum, Talun, Wlingi, hingga menuju Desa Krisik.

Sepanjang perjalanan, wisatawan akan disuguhi pemandangan alam yang indah, mulai dari terasering sawah hingga kebun teh.

Untuk menikmati kawasan wisata ini, pengunjung hanya dikenakan tiket masuk yang cukup terjangkau, yakni sekitar Rp3.000 untuk dewasa dan Rp2.000 untuk anak-anak, dengan tarif parkir mulai dari Rp1.000 untuk sepeda motor.

Baca juga: Candi Gedong Putri, Menguak Tabir Peradaban Tertua di Lumajang yang Sempat Hancur Kena Lahar Semeru

Warisan Sejarah dan Wisata Spiritual

Candi Rambut Monte menjadi bukti bahwa Blitar menyimpan banyak situs bersejarah yang berpadu dengan kekayaan alam dan budaya.

Meski informasi sejarahnya masih terbatas, keberadaan candi, telaga, serta berbagai mitos yang menyertainya menjadikan tempat ini tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga ruang refleksi spiritual.

Oleh karena itu, pelestarian kawasan ini sangat penting agar nilai sejarah dan budaya yang terkandung di dalamnya tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.