Kematian Prajurit TNI Asal Bangkalan Disorot, Keluarga Tunjuk Kuasa Hukum dan Desak Otopsi
Samsul Arifin May 04, 2026 11:14 PM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Ahmad Faisol

TRIBUNJATIM.COM, BANGKALAN - Kasus kematian prajurit TNI asal Bangkalan, Ghofirul Kasyfi (22), terus bergulir.

Secara resmi, pihak keluarga yang diwakili ayahnya, Mahbub Madani (55) menandatangani surat kuasa kediamanan Jalan Kartini nomor 12, Kelurahan Kraton, Kecamatan Kota Bangkalan, Senin (4/5/2026). 

Kuasa Hukum, Muhammad Sholeh, SH, MH atau yang dikenal dengan Cak Sholeh mengungkapkan, penandatanganan surat kuasa itu terkait kematian Ghofirul yang penyebabnya dinilai pihak keluarga masih simpang siur. 

"Besok (Selasa) kami akan berkirim surat ke Koarmada II Surabaya supaya dilakukan otopsi, harus ada pembongkaran makam untuk mencari seterang-terangnya sebab-sebab kematian korban," ungkap Cak Sholeh didampingi Mahbub.

Jenazah Ghofirul tiba di rumah duka tempat tinggal ibu, di Kampung Kaskel, Kelurahan Kemayoran, Kota Bangkalan pada Senin (27/3/2026) dini hari. Tahlilan malam ke-7 almarhum berakhir pada minggu (3/5/2026) menjelang waktu Isya'.  

"Karena itu kami harapkan Koarmada II akan kooperatif segera melakukan otopsi, karena mayat ini semakin lama dibiarkan tentu pembusukannya akan semakin kuat," tegas Sholeh.  

Baca juga: Ayah Ungkap Kejanggalan Kematian Anggota TNI Gofirul Kasfi, Korban Sempat Mengaku Disiksa

Pihak Keluarga Hanya Dikasih Jasad

"Hanya mayat yang dikasih, selebihnya tidak ada, tidak ada kronlogi dan BAP. Kami tidak tahu faktanya seperti apa, tapi publik dan keluarga punya hak untuk tahu karena hingga saat ini penyebab kematian anaknya masih simpang siur," papar Cak Sholeh.

Usai dilantaik sebagai TNI AL Tamtama di Surabaya pada Desember 2025, mendiang Ghofirul mulai berdinas dengan penempatan Jakarta di KRI dr Radjiman Wedyodiningrat pada Februari 2026. Selama tiga bulan, almarhum menjalani masa orientasi atau masa pengenalan lingkungan dinas.  

Baca juga: Soal Kabar Anggota TNI AL Kelasi Dua Asal Bangkalan Madura Wafat, Koarmada I: Tak Ada Lebam

Ia menyatakan, ketidakwajaran itu berdasarkan keluhan yang sering disampaikan almarhum Ghofirul kepada bapaknya maupun ibunya karena sering mendapatkan kekerasan dari para senior di dalam kamar. 

"Satu hari hanya dikasih waktu tidur satu jam, kesehariannya seperti itu hingga Ghofirul meminta kepada orang tuanya agar dipindahtugaskan dari kapal. Dengan harapan tidak bertemu dengan senior-senior yang suka melakukan kekerasan," kata Cak Sholeh.

Ada Lebam dan Darah

Setelah gelaran tahlilan malam ke-7, Minggu (3/5/2026) malam, Mahbub Madani menyatakan sempat membuka jasad anak sulungnya sebelum dilakukan proses pemakaman. Selain lebam pada wajah, terdapat pula darah pada bagian selangkangan almarhum Ghofirul. 
    
Cak Sholeh menjelaskan, beberapa hari sebelum meninggal, Ghofirul melalui pesan singkat bahkan sampai mengancam kepada orang tuanya dengan kalimat, 'Kalau mama tidak menuruti kemauan ku, jangan harap bisa bertemu aku lagi'. 

"Artinya korban ini sudah pasrah karena sering mendapatkan kekerasan, bisa jadi nyawanya sudah tidak akan bertahan lama. Dan itu terbukti kejadian tanggal 26 April, ketika mayat dibawa pulang dan keluarga melihat, ada bukti-bukti foto kalau memang pada tubuh jasad Ghofirul ada lebam-lebam," jelas Cak Sholeh. 

Ia mengatakan, kala itu memang sempat ada perdebatan antara pihak keluarga dari ibu dan pihak keluarga dari bapak. Di mana pihak keluarga ibu tidak ingin dilakukan otopsi, sementara dari pihak keluarga bapak tetap dilakukan otopsi.
 
Sekarang ini, lanjutnya, dari pihak keluarga bapak juga menuntut keadilan, harus ada transparansi sebab-sebab kematian dari korban yang diawali dengan menyurati pihak Koarmada II Surabaya untuk permintaan agar dilakukan otopsi. 

"Kalau memang hasil otopsi ternyata tidak ditemukan tanda-tanda kekerassan, tidak ada lebam-lebam keluarga ikhlas. Tetapi ketika hasil otopsi menyatakan ada tanda-tanda kekerasan, maka mau tidak mau harus diusut tuntas. Siapapun pelakunya, senior-seniornya harus semuanya diusut, semuanya yang terlibat harus dihukum," pungkas Cak Sholeh.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.