TRIBUNJATIM.COM – Tradisi Kebur Ubalan adalah upacara adat tahunan di Desa Jarak, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, yang diadakan setiap Bulan Suro.
Ritual tersebut meliputi kirab dan perebutan gunungan hasil bumi di sumber air Ubalan sebagai wujud syukur atas air yang melimpah, sekaligus permohonan keberkahan dan hujan bagi petani.
Tradisi Kebur Ubalan yang digelar di Kawasan Wisata Sumber Ubalan bukan sekadar perayaan tahunan. Tradisi ini memiliki akar sejarah panjang yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat agraris di wilayah Kediri.
Kebur Ubalan lahir dari kebutuhan masyarakat untuk menjaga keseimbangan alam, khususnya keberadaan sumber air yang menjadi penopang utama pertanian.
Sejak dahulu, sumber Ubalan dikenal sebagai mata air yang tak pernah kering dan menjadi pusat kehidupan warga.
Tradisi ini kemudian berkembang menjadi ritual tahunan yang digelar setiap Bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Bulan tersebut dianggap sakral dan tepat untuk memanjatkan doa serta harapan kepada Tuhan.
Awalnya, ritual dilakukan secara sederhana oleh para sesepuh desa. Mereka berkumpul di sekitar sumber air untuk memanjatkan doa sebagai bentuk rasa syukur atas melimpahnya air dan hasil panen.
Seiring waktu, tradisi ini berkembang menjadi perayaan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat dan menjadi bagian penting dari identitas budaya setempat.
Berakar dari Kehidupan Agraris
Masyarakat Desa Jarak sejak dahulu menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Keberadaan sumber air Ubalan menjadi faktor utama keberhasilan panen mereka.
Air dari sumber tersebut tidak hanya mengairi sawah warga desa, tetapi juga dimanfaatkan oleh wilayah lain di sekitarnya. Hal ini menjadikan Ubalan sebagai simbol kemakmuran.
Dikutip dari SuryaMalang.com, rasa syukur atas keberlimpahan air ini kemudian diwujudkan dalam bentuk ritual adat. Masyarakat percaya bahwa menjaga hubungan dengan alam dan Sang Pencipta akan membawa keberkahan.
Tradisi Kebur Ubalan pun lahir sebagai bentuk penghormatan terhadap alam, khususnya air sebagai sumber kehidupan. Hingga kini, nilai-nilai tersebut tetap dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Baca juga: Tradisi Ruwahan Sendangduwur Lamongan, Dari Pawai Budaya hingga Sedekah Kuliner Penuh Makna
Perkembangan Tradisi
Kawasan Ubalan telah dimanfaatkan sejak zaman kolonial Belanda sebagai sumber irigasi untuk pabrik gula di sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa sumber air tersebut memiliki peran penting sejak dahulu.
Keberadaan sumber yang terus mengalir sepanjang waktu memperkuat keyakinan masyarakat akan kesakralannya.
Dari sinilah muncul tradisi yang memadukan unsur spiritual dan budaya.
Seiring perkembangan zaman, ritual sederhana yang dilakukan para sesepuh mulai berkembang menjadi tradisi yang lebih besar dan terorganisir.
Gunungan hasil bumi mulai dihadirkan sebagai simbol visual rasa syukur masyarakat. Prosesi kirab dan doa bersama pun menjadi bagian dari rangkaian acara.
Tradisi ini terus berkembang tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar yang diwariskan oleh leluhur.
Baca juga: Gedhogan Banyuwangi, Dari Alat Penumbuk Padi Jadi Seni Tradisi Pererat Hubungan Antarwarga
Makna Tradisi Kebur Ubalan
Kebur Ubalan tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga sarat makna filosofis. Gunungan hasil bumi melambangkan kesejahteraan dan keberkahan.
Empat gunungan kecil yang dihadirkan mewakili empat penjuru mata angin, sementara satu gunungan utama menjadi simbol pusat kehidupan atau “punjer”.
Simbol ini menunjukkan bahwa hasil bumi adalah milik bersama dan harus dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat.
Selain itu, penggunaan air dalam ritual juga memiliki makna mendalam sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga kelestariannya.
Nilai-nilai ini menjadikan Kebur Ubalan bukan sekadar tradisi, tetapi juga sarana edukasi budaya bagi masyarakat.
Baca juga: Mengenal Sinongkelan: Tradisi Bersih Desa Prambon Trenggalek yang Rekam Jejak Pelarian Paku Buwono 2
Tradisi yang Terus Dilestarikan
Hingga kini tradisi Kebur Ubalan terus dilestarikan oleh masyarakat Desa Jarak. Kegiatan ini melibatkan berbagai elemen, mulai dari tokoh adat hingga generasi muda.
Pelestarian tradisi ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga kearifan lokal di tengah arus modernisasi.
Masyarakat menyadari bahwa tradisi ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga identitas yang membedakan mereka dari daerah lain.
Selain itu, Kebur Ubalan juga mulai dikembangkan sebagai potensi wisata budaya yang mampu menarik pengunjung dari luar daerah.
Dengan demikian, asal usul tradisi Kebur Ubalan tetap terjaga, sekaligus terus berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan makna utamanya.