Pejabat Militer Iran Buka Suara soal Serangan di UEA, Tiga WN India Menjadi Korban
Glery Lazuardi May 05, 2026 03:34 AM

TRIBUNNEWS.COM - Seorang pejabat militer Iran menyatakan negaranya tidak memiliki rencana untuk menyerang Uni Emirat Arab (UEA), di tengah laporan serangan drone yang memicu kebakaran di fasilitas minyak strategis Fujairah.

Pernyataan tersebut disampaikan melalui media pemerintah IRIB pada Senin (4/5/2026), menyusul tudingan dari pihak UEA yang menyebut serangan berasal dari Iran.

Insiden terjadi di kawasan Fujairah Petroleum Industries Zone (FOIZ), salah satu pusat energi utama di kawasan.

3 WN India Menjadi Korban 

Otoritas setempat mengonfirmasi kebakaran hebat akibat serangan tersebut, yang juga menyebabkan tiga warga negara India mengalami luka tingkat sedang.

Para korban langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Sementara itu, tim pertahanan sipil dikerahkan untuk memadamkan api yang masih berkobar di area industri minyak tersebut.

Baca juga: UEA Siap Balas Serangan Iran, Kebakaran di Fujairah Picu Lonjakan Harga Minyak

4 Drone Meluncur ke UEA

Di waktu yang hampir bersamaan, Kementerian Pertahanan UEA melaporkan adanya peluncuran empat rudal ke wilayahnya. Tiga rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara, sementara satu lainnya jatuh ke laut.

Ketegangan di kawasan Teluk terus meningkat sejak konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memanas pada akhir Februari.

Situasi ini berdampak langsung pada jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz.

Upaya gencatan senjata sempat dilakukan pada 8 April melalui mediasi Pakistan, namun belum menghasilkan kesepakatan jangka panjang.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahkan memperpanjang masa gencatan tanpa batas waktu yang jelas.

Insiden terbaru di Fujairah kembali menyoroti rapuhnya stabilitas kawasan serta meningkatnya risiko terhadap pasokan energi global di tengah konflik yang belum mereda.

Sekolah di UEA Kembali Terapkan Belajar Daring hingga 8 Mei

Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) kembali memberlakukan sistem pembelajaran jarak jauh di seluruh sekolah hingga Jumat, 8 Mei 2026, menyusul meningkatnya ketegangan keamanan akibat serangan yang dikaitkan dengan Iran.

Keputusan ini diumumkan oleh Ministry of Education UAE setelah sistem peringatan darurat nasional aktif beberapa kali dalam hitungan jam akibat deteksi rudal di wilayah negara tersebut.

Langkah cepat diambil oleh pihak sekolah dan otoritas pendidikan dengan mengalihkan seluruh kegiatan belajar mengajar ke platform daring, guna memastikan keselamatan siswa, guru, dan tenaga kependidikan tetap terjaga.

Meski dilakukan secara online, kegiatan akademik tetap berjalan sesuai jadwal.

Sekolah juga diminta terus berkoordinasi dengan otoritas terkait dan memberikan informasi terbaru kepada orang tua serta siswa jika terjadi perubahan kebijakan.

Baca juga: Mengenal Fujairah: Pusat Energi UEA Penopang Minyak Global, Terbakar setelah Diserang Iran

Kebijakan ini muncul hanya beberapa pekan setelah sekolah-sekolah di UEA kembali membuka pembelajaran tatap muka pada 20 April, usai hampir tujuh minggu menerapkan sistem daring akibat konflik kawasan.

Sebelumnya, pembelajaran jarak jauh telah diberlakukan sebagai langkah antisipasi di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Otoritas pendidikan bahkan telah menyiapkan sistem fleksibel agar institusi dapat beralih cepat antara pembelajaran tatap muka dan daring sesuai kondisi keamanan.

Saat ini, prioritas utama pemerintah adalah memastikan proses pendidikan tetap berlangsung tanpa gangguan, sekaligus menjaga keselamatan seluruh pihak di tengah situasi yang masih belum stabil di kawasan Teluk.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.