Inflasi Bangka Barat Tertinggi di Babel, Tembus 2,29 Persen pada April 2026
Asmadi Pandapotan Siregar May 05, 2026 03:39 AM

Menanggapi data tersebut, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat menjelaskan sejumlah hal yang disampaikan oleh Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Heru Warsito.

“Kita patut bersyukur, kondisi inflasi di Bangka Barat masih relatif terkendali karena masih dalam batasan rentang nasional,” kata Heru.

Namun demikian, kata dia, masyarakat harus tetap waspada karena secara tahunan, harga-harga masih menunjukan kecenderuan meningkat.

“Sehingga tekanan inflasi jangka panjang masih menghantui dan menjadi perhatian kita bersama,” jelasnya.

Lebih lanjut, dirinya mengapresiasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Bangka Barat, Polres Bangka Barat dan BPS Bangka Barat yang telah dan selalu bersinergi melakukan langkah nyata mengendalikan tekananan harga sehingga stabilitas harga terjaga dengan baik.

Kemudian, terdapat beberapa peroembamg yamg perlu jadi perhatian bersama yang ikut mempengaruhi inflasi di daerah.

Salah satu contohnya, terjadi kenaikan harga gas elpiji 5,5 kg dan 12 kg yang menjadi salah satu faktor yang secara langsung meningkatkan biaya konsumsi rumah tangga dan biaya produksi pelaku usaha.

Di sisi lain, terdapat lonjakan bahan baku plastik yang berpotensi mendorong terjadi nya kenaikan harga berbagai komoditas, khususnya yang menggunakan kemasan plastik.

Kemudian, terjadi juga pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini Rp17 ribu lebih yang cukup tinggi nilainya.

“Ini menjadi tekanan terhadap harga barang, terutama kompditas impor ataupun yang memiliki ketergantungan terhadap bahan-bahan impor,” ujarnya.

Lalu kenaikan harga BBM non-subsidi yang turut meningkatkan biaya transportasi dan distribusi yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap harga barang dan jasa di tingkat konsumen.

“Kondisi tersebut menunjukan bahwa inflasi yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi oleh kenaikan biaya dimana peningkatakan harga-harga dipicu oleh biaya produksi dan bukan lonjakan permintaan,” ucapnya.

Lebih lanjut, dia menyebut bahwa inflasi tersebut tidak bisa dihilangkan namun bisa dikendalikan.

“Sehingga masyarakat ekonominya bertumbuh dan daya belinya baik,” sambungnya.

Kepala BPS Bangka Barat, M. Hendy Saputra menjelaskan fenomena yang memengaruhi inflasi Bangka Barat 2025 & 2026 (m-to-m & y-on-y).

“Inflasi tahun ke tahun dan bulan ke bulan April 2026, keduanya lebih rendah dibanding bulan sebelumnya,” jelas Hendy di ruang rapat BPS Bangka Barat.

Kemudian, laju inflasi mengalami pelemahan karena permintaan masyarakat kembali ke tingkat normal setelah mengalami lonjakan di momen hari raya lebaran.

Lalu, pengaruh kenaikan harga BBM non-subsidi dan harga plastik belum secara langsung tercermin di inflasi umum (m-to-m).

Lebih lanjut, Hendy juga memaparkan kondisi inflasi m-to-m Apri 2026 terhadap Maret 2026 yang berada pada angka 0,42 persen.

“Secara bulan ke bulan (m-to-m), Kabupaten Bangka Barat mengalami inflasi sebesar 0,42 persen, inflasi ini merupakan yang kedua tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” ungkapnya.

Sementara itu, inflasi tertinggi secara m-to-m dialami oleh Kota Tanjung Pandan sebesar 0,78 persen. Sedangkan inflasi terendah dialami oleh Kota Pangkal Pinang sebesar 0,23 persen.

Kemudian, untuk inflasi Apri 2026 secara y-on-y atau April 2026 terhadap April 2025 yakni sebesar 2,29 persen.

“Secara tahun ke tahun (y-on-y), Bangka Barat mengalami inflasi sebesar 2,29 persen, inflasi ini masih merupakan yang tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” jelasnya.

Sementara itu, inflasi y-on-y terendah dialami oleh Pangkal Pinang sebesar 1,41 persen. Dari empat kabupaten kota inflasi di Provinsi Kep. Bangka Belitung, hanya Bangka Barat dan Belitung Timur yang inflasi-nya berada di rentang target (2,5±1 persen) inflasi nasional.

Terakhir, menutup pemaparannya, Hendy meringkas data inflasi April 2026. Pada April 2026, terjadi inflasi m-to-m sebesar 0,42?n inflasi y-to-d sebesar 0,92 % . Sementara itu, inflasi y-on-y tercatat sebesar 2.29 % .

Penyumbang utama inflasi April 2026 secara m-to-m adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,23 % . Komoditas penyumbang utama inflasi m-to-m antara lain Jeruk, Sawi Hijau, Daging Ayam Ras, Ikan Tenggiri dan Minyak Goreng.

“Penyumbang utama inflasi April 2026 secara y-on-y adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 1,55 % . Komoditas penyumbang utama inflasi y-on-y antara lain Emas Perhiasan, Udang Basah, Daging Ayam Ras, Jeruk, dan Cumi-Cumi,” imbuhnya. (Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.