BANJARMASINPOST.CO.ID- Mantan atlet nasional bola voli, Jihandoyo, punya perjalanan panjang sebelum mencapai puncak prestasi.
Lahir di Semarang, 29 September 1969, ia tetap setia di dunia voli, salah satunya dengan membawa tim putri Juragan Travel Volleyball Banjarbaru menuju Kejurnas 2026.
Di balik deretan prestasi yakni tiga medali emas SEA Games pada 1991 di Manila, 1993 di Singapura, dan 1997 di Jakarta, tersimpan kisah perjuangan yang tak mudah.
Jihandoyo mengenang awal perjalanannya dimulai pada 1985, saat masih berusia 15 tahun.
Baca juga: Voli Putri Banjarbaru Tunjukkan Taring di Kejurnas Voli U-18 2026, Begini Aksinya
Keputusan menekuni voli bukan semata pilihan, melainkan dorongan keadaan.
Keterbatasan ekonomi keluarga membuatnya harus mencari jalan agar tetap bisa melanjutkan pendidikan.
“Waktu itu ayah sudah bilang tidak sanggup membiayai sekolah ke jenjang berikutnya,” ujarnya, ditemui akhir pekan lalu.
Dukungan sekaligus tantangan datang dari sang kakak. Dengan postur tubuh yang menjulang, ia didorong untuk serius menekuni voli.
Sejak saat itu, latihan menjadi rutinitas yang dijalani tanpa kompromi.
Ia bahkan menuliskan mimpinya di dinding kamar harus menjadi pemain nasional.
Kalimat sederhana itu dibaca setiap hari, sebelum tidur dan saat bangun pagi, menjadi pengingat tujuan yang ingin dicapai.
Perjalanan awal dimulai dari klub kampung di Semarang. Pada fase itu, ia tidak langsung menjadi pemain inti.
Perannya hanya mengambil bola saat latihan. Namun justru dari situ tumbuh tekad untuk berkembang lebih cepat.
Setahun berselang, kesempatan datang melalui seleksi kejuaraan kota. Penampilannya menarik perhatian pelatih, hingga akhirnya bergabung dengan klub yang lebih besar.
Perjuangan tidak berhenti di lapangan. Untuk mencapai tempat latihan yang berjarak beberapa kilometer, ia berlari karena tak memiliki biaya transportasi.
Setelah sesi berakhir, perjalanan pulang ditempuh dengan berjalan kaki.
“Capek pasti, tapi itu yang membentuk saya,” katanya.
Kerja keras itu berbuah hasil. Pada 1987, ia masuk tim Jawa Tengah untuk kategori junior dan tampil di Kejurnas di Surabaya.
Di tengah momen penting tersebut, ia dihadapkan pada pilihan sulit karena jadwal bertabrakan dengan ujian sekolah.
Ia tetap memilih bertanding, dengan konsekuensi mengikuti ujian susulan. Keputusan itu berbuah manis setelah keluar sebagai runner-up.
Prestasi tersebut membuka jalan ke level yang lebih tinggi. Ia dipanggil mengikuti seleksi tim nasional junior, bersaing dengan atlet dari seluruh Indonesia.
Tahapan demi tahapan berhasil dilalui hingga masuk skuat inti.
Pada 1988, ia tampil di ajang ASEAN di Bangkok dan membawa Indonesia menjadi juara.
Ia juga meraih penghargaan pemain terbaik.
Perjalanan berlanjut ke level Asia hingga dunia, termasuk tampil di Kejuaraan Dunia Junior 1989 di Athena, Yunani sebuah pencapaian bersejarah bagi voli Indonesia.
Memasuki era liga profesional pada akhir 1990-an, ia perlahan beralih ke dunia kepelatihan.
Pengalaman panjang sebagai pemain menjadi bekal utama dalam membina generasi berikutnya.
Baca juga: Debut Manis, Banjarbaru Bungkam Bengkulu 3-0 di Kejurnas Voli U-18
Sebagai pelatih, Jihandoyo menyoroti perubahan pola pembinaan atlet saat ini.
Ia menilai proses yang dulu dijalani penuh kedisiplinan dan semangat kolektif, sementara kini banyak pertimbangan di luar aspek prestasi.
Meski begitu, ia berpesan agar atlet muda tetap menjaga sikap. Bagi Jihandoyo, prestasi bukan hanya soal medali, tetapi juga warisan nilai.
Ia percaya ilmu yang dibagikan dengan niat baik akan terus hidup, bahkan ketika karier telah usai. (Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Andra Ramadhan)