Pemkab Belitung Setop Sementara SPPG Air Saga Pasca Puluhan Siswa Muntah-muntah
Fitriadi May 05, 2026 11:22 AM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Pemerintah Kabupaten Belitung memutuskan menghentikan sementara aktivitas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Air Saga setelah puluhan siswa muntah-muntah seusai mengonsomsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Senin (4/5/2026).

Penghentian sementara operasional dapur SPPG Air Saga ini hingga hasil pemeriksaan laboratorium keluar.

“Dapur kita setopkan dulu sampai menunggu hasil laboratorium, termasuk tempat pembuat air tahunya,” kata Wakil Bupati Belitung, Syamsir saat turun langsung meninjau kondisi siswa di SD Negeri 7 Tanjungpandan pada Senin (4/5/2026), menyusul insiden puluhan murid yang mengalami sakit perut disertai muntah-muntah.

Baca juga: Breaking News: Diduga Susu Kedelai MBG, Puluhan Siswa SD di Belitung Alami Muntah dan Sakit Perut

Dalam kunjungannya, Syamsir memantau langsung kondisi siswa yang diduga mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi susu kedelai, bagian dari menu program MBG.

Ia juga berkoordinasi dengan pihak sekolah dan tenaga kesehatan yang menangani para siswa.

Syamsir menegaskan, penghentian sementara ini dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian sekaligus upaya memastikan keamanan konsumsi bagi para siswa.

Pemerintah daerah juga akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh SPPG di wilayah Belitung, termasuk pihak penyedia bahan baku. 

“Ini harus menjadi perhatian kita bersama,” kata Syamsir.

Dalam kesempatan tersebut, Syamsir turut memanggil organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk segera menindaklanjuti kejadian tersebut.

Selain itu, pihak pemasok susu kedelai yang digunakan dalam menu MBG juga akan dimintai keterangan.

Langkah pengawasan diperketat dengan melibatkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) guna melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan dan minuman yang dikonsumsi siswa.

“Kami minta kepada BPOM untuk secepatnya melakukan cek laboratorium. Sehari dua hari ini harus sudah keluar hasilnya,” tegasnya.

Menurut Syamsir, hasil uji laboratorium akan menjadi dasar utama dalam menentukan langkah lanjutan, termasuk kemungkinan pemberian sanksi kepada pihak yang bertanggung jawab apabila ditemukan pelanggaran. 

“Untuk sanksi kita tunggu hasil labnya. Nanti saya akan panggil semua dapur SPPG untuk rapat bersama,” ujarnya.

Berdasarkan hasil pemantauan awal di lapangan, dugaan sementara mengarah pada konsumsi susu kedelai sebagai pemicu keluhan yang dialami para siswa.

Informasi tersebut diperoleh setelah dirinya melakukan pengecekan langsung di lokasi kejadian.

“Untung deteksinya cepat, jadi bisa segera ditangani. Dugaan sementara dari air tahu atau susu kedelai, tapi tetap kita tunggu hasil pemeriksaan,” katanya.

Syamsir memastikan pemerintah daerah akan mengambil langkah tegas dan terukur guna mencegah kejadian serupa terulang.

Ia juga menekankan pentingnya pengawasan ketat dalam setiap tahapan penyediaan makanan bagi siswa, mulai dari proses produksi hingga distribusi.

Puluhan Siswa Muntah-muntah

Peristiwa ini terjadi di dua sekolah yang berseberangan, yakni SD Negeri 7 dan SD Negeri 23 Tanjungpandan.

Kejadian tersebut langsung memicu kepanikan dan kekhawatiran orang tua siswa.

Salah satunya Fitri, yang mengaku terkejut setelah mendapat kabar anak-anak di sekolah mengalami keluhan kesehatan secara tibatiba.

“Saya dapat kabar dari teman sesama orang tua murid. Jadi saya langsung ke sekolah, ternyata anak saya sudah di UKS,” ujar Fitri.

Ia mengatakan, anaknya tidak mengalami muntah, tetapi justru mengalami diare.

Setelah mendapat penanganan dari petugas Puskesmas, kondisi anaknya berangsur membaik dan diperbolehkan pulang.

Meski demikian, kejadian tersebut membuatnya khawatir terhadap keamanan konsumsi dalam program MBG.

Fitri menilai, selain aspek keamanan, menu MBG juga belum sepenuhnya sesuai dengan selera anakanak. Menurutnya, hal itu berpotensi membuat makanan terbuang percuma.

“Kadang mubazir juga, tidak dimakan. Ada anak yang tidak suka sayur atau menu tertentu,” katanya.

Berselang 30 Menit

Peristiwa ini bermula saat pembagian makanan pada jam istirahat sekitar pukul 08.30 WIB.

Kepala SD Negeri 23 Tanjungpandan, Apripayadi, menjelaskan bahwa sekitar 30 menit setelah makanan dibagikan, sejumlah siswa mulai mengeluhkan mual dan muntah.

“Ada yang muntah di toilet, ada juga di luar kelas. Total sekitar 27 siswa yang mengalami muntah hampir bersamaan, sebagian besar dari kelas IV,” ujarnya.

Melihat kondisi tersebut, guru segera memberikan pertolongan pertama dengan mengumpulkan siswa di ruang guru.

Penanganan awal dilakukan dengan memberikan air hangat dan minyak kayu putih.

Namun, karena beberapa siswa tampak pucat dan berkeringat, pihak sekolah memutuskan untuk membawa mereka ke Puskesmas terdekat.

Meski demikian, Apripayadi menegaskan pihaknya belum dapat menyimpulkan bahwa kejadian tersebut merupakan keracunan makanan.

Ia menyebut, guru dan dirinya juga mengonsumsi menu yang sama tanpa mengalami gejala serupa.

“Kami juga makan dan minum menu yang sama, termasuk susu kedelai, dan tidak ada keluhan. Jadi saya tidak berani menyatakan keracunan, itu ranah medis,” katanya.

Ia menambahkan, susu kedelai merupakan menu baru dalam program MBG di sekolah tersebut. Biasanya, siswa menerima susu dalam kemasan terpisah dari makanan utama.

“Susu kedelai ini baru pertama kali diberikan,” ujarnya.

Kondisi serupa juga terjadi di SD Negeri 7 Tanjungpandan.

Kepala sekolah setempat, Asti Ramdaniati, mengatakan keluhan pertama kali dilaporkan oleh seorang siswa kelas IV yang mengalami muntah. 

“Tadi pagi ada siswa yang melapor. Setelah dicek, ternyata keluhan tidak hanya di satu kelas, tapi menyebar ke beberapa kelas,” ujarnya. 

Jumlah siswa yang mengalami gejala terus bertambah dalam waktu singkat. 

Selain muntah, siswa juga mengeluhkan pusing dan lemas. Pihak sekolah kemudian mengumpulkan siswa yang sakit di ruang UKS untuk penanganan awal.

“Ada yang muntah, pusing, dan lemas. Awalnya empat orang, kemudian bertambah hingga puluhan,” kata Asti.

Sebagian siswa dibawa ke Puskesmas karena membutuhkan penanganan lebih lanjut, sementara lainnya dirawat di sekolah oleh petugas kesehatan. 

Bahkan, dua guru juga dilaporkan mengalami keluhan serupa setelah mengonsumsi menu MBG.

Menurut Asti, sebelum dibagikan kepada siswa, makanan MBG biasanya telah diuji coba oleh petugas penanggung jawab (PIC). Hal ini membuat pihak sekolah semula tidak mencurigai adanya masalah pada makanan. 

“Guru juga sudah mencoba, jadi awalnya kami tidak berasumsi apa-apa. Tapi setelah banyak keluhan, kami langsung tindak lanjuti,” ujarnya. 

Langsung Berhenti

Menanggapi kejadian tersebut, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Air Saga segera mengambil langkah dengan menghentikan distribusi menu MBG pada hari yang sama.

Penarikan dilakukan setelah laporan pertama diterima sekitar pukul 09.45 WIB.

“Setelah dapat laporan, kami langsung tarik distribusi terakhir, termasuk yang akan dikirim ke sekolah lain,” kata Ikhsan dari SPPG.

Ia menjelaskan, pihaknya bersama ahli gizi langsung turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan.

Awalnya hanya ditemukan beberapa siswa yang mengalami keluhan, namun jumlahnya terus bertambah dalam waktu singkat.

“Di SDN 23 awalnya sekitar enam orang, kemudian bertambah. Di SDN 7 juga banyak yang mengalami muntah,” ujarnya.

Data sementara mencatat sekitar 32 siswa terdampak di SD Negeri 7 dan 14 hingga 16 siswa di SD Negeri 23.

Dugaan awal mengarah pada susu kedelai sebagai pemicu, mengingat minuman tersebut merupakan menu baru dalam program MBG.

Namun demikian, Ikhsan menegaskan bahwa pihaknya belum dapat memastikan penyebab pasti kejadian tersebut sebelum hasil uji laboratorium keluar. 

“Dugaan sementara memang dari susu kedelai, tapi kita masih menunggu hasil uji lab,” katanya.

Ia juga menyebut susu kedelai tersebut dipasok oleh pelaku UMKM lokal sebagai bagian dari penyediaan menu MBG.

Pihak sekolah dan SPPG kini berkoordinasi dengan instansi terkait untuk melakukan evaluasi menyeluruh.

Pemeriksaan laboratorium sedang dilakukan guna memastikan sumber masalah, sekaligus menjadi dasar perbaikan pelaksanaan program ke depan.

“Kita sama-sama akan evaluasi agar kejadian ini tidak terulang lagi. Ini menyangkut keselamatan anak-anak,” kata Asti.

(Pos Belitung/dol)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.