Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Pemprov Lampung kembali membuka keran ekspor tepung tapioka. Kali ini sebanyak 3.330 ton tepung tapioka atau setara 180 kontainer dikirim ke China.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengaku bangga atas pencapaian tersebut.
Menurut dia, pengiriman komoditas senilai Rp 26 miliar tersebut menambah realisasi ekspor tapioka Lampung hingga April 2026 menembus 7.600 ton.
Tepung tapioka hasil olahan CV Central Intan (Intan Group) tersebut dilepas secara resmi untuk memenuhi kebutuhan industri di China.
Momen istimewa itu ditandai dengan pemecahan kendi tanah liat oleh pejabat yang hadir di Pelabuhan Panjang, Bandar Lampung, Selasa (5/5/2026).
Selain gubernur, hadir pula Plt Deputi Bidang Karantina Tumbuhan Barantin Darma Panca Putra, Kapolda Lampung Irjen Helfi Assegaf, dan CEO Intan Group Jeremy Gozal.
Dalam kesempatan itu, Mirza menyampaikan ekspor tapioka ke Cina jadi indikator positif bahwa program hilirisasi pertanian yang dicanangkan Pemprov Lampung mulai membuahkan hasil nyata bagi perekonomian daerah.
"Ekspor hari ini (kemarin) bukan sekadar pengiriman barang, melainkan pembuktian bahwa kualitas tapioka hasil bumi Lampung mampu berbicara banyak di pasar internasional, terutama China," ujar Mirza.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan menembus pasar luar negeri memerlukan konsistensi tinggi dalam menjaga standar mutu dan keamanan pangan sesuai permintaan pembeli global.
"Kita harus sadar bahwa dunia melihat Lampung, maka menjaga kualitas adalah harga mati agar kepercayaan para pembeli mancanegara ini tidak luntur," lanjutnya.
Mirza mengungkapkan harapan agar industri pengolahan tapioka terus memperluas kemitraan strategis dengan para petani singkong lokal.
"Saya ingin setiap kontainer yang berangkat ini membawa kesejahteraan bagi petani kita, sehingga ada korelasi positif antara naiknya volume ekspor dengan tingkat kemakmuran petani di desa-desa," tutur Mirza.
Ia juga menyoroti pentingnya efisiensi biaya logistik agar daya saing tapioka Lampung tetap unggul dibandingkan produk dari negara pesaing di Asia Tenggara.
Terlebih, Lampung merupakan produsen singkong terbesar di Indonesia yang menjadi bahan baku utama tapioka.
"Pemerintah akan terus memfasilitasi kemudahan regulasi dan infrastruktur agar para eksportir kita bisa bergerak lebih lincah dan kompetitif di panggung dunia," tambahnya.
Mirza juga memberikan apresiasi khusus kepada Badan Karantina Indonesia dan jajaran Polda Lampung yang telah memberikan pengawalan ketat, baik dari sisi administrasi maupun keamanan distribusi.
"Sinergi lintas sektoral seperti ini adalah kunci, di mana pengusaha merasa aman berinvestasi dan produk kita memiliki legitimasi kesehatan yang diakui dunia," ujar Mirza.
Gubernur berharap keberhasilan Intan Group ini menjadi pemantik bagi pelaku usaha lain di Lampung untuk mulai melirik potensi pasar global melalui hilirisasi produk.
Jajaki Negara Muslim
CEO Intan Group Jeremy Gozal mengatakan, pihaknya meminta pemerintah menjajaki kerja sama dengan negara-negara muslim untuk menjadi konsumen ekspor tepung tapioka Lampung.
Jeremy mengakui China adalah pasar tapioka terbesar di dunia. Namun, persaingan harga di sana sangat ketat.
"China itu pasar tapioka terbesar di dunia. Semua produsen masuk ke sana, jadi kita bersaing pahit di sana," ujar Jeremy.
Ia menjelaskan, harga jual tapioka di China saat ini berada di angka 510 dolar AS per metrik ton. Menurutnya, harga tersebut merupakan yang terendah dibandingkan potensi pasar lainnya.
Sebagai perbandingan, Jeremy mengungkapkan bahwa pasar Bangladesh menawarkan harga yang jauh lebih tinggi dan menguntungkan bagi pengusaha, yakni mencapai 710 dolar AS per metrik ton. Sementara Korea Selatan berada di kisaran 560 dolar AS per metrik ton.
"Ke depannya saya berharap kita cari segmen yang pasarnya lebih empuklah dibanding pasar China, target terdekat kita Korea Selatan, lalu negara-negara muslim seperti Bangladesh, Pakistan, dan India," tuturnya.
Meski begitu, Jeremy juga mengapresiasi peran besar Pemprov Lampung yang telah mendorong pengusaha lokal untuk berani menembus pasar internasional.
"Pak Gubernur menekankan kepada kami, para pengusaha, untuk cari pasar ekspor, dan ekspor perdana kami ini adalah 'produk' dari arahan Pak Gubernur sendiri," beber Jeremy.
Ia menyampaikan terima kasih karena Pemprov Lampung telah memberikan dukungan penuh dan memfasilitasi segala kebutuhan para pelaku usaha ekspor.
Jaga Kualitas
Badan Karantina Indonesia (Barantin) menekankan pentingnya menjaga kualitas dan keamanan komoditas ekspor unggulan sebagai kunci utama membangun kepercayaan pasar internasional.
Hal itu diungkapkan Plt Deputi Bidang Karantina Tumbuhan Barantin Darma Panca Putra dalam acara pelepasan ekspor 3.330 ton tapioka senilai Rp 26 miliar menuju China di Pelabuhan Panjang, Bandar Lampung, Selasa (5/5/2026).
Darma memaparkan, realisasi ekspor tapioka Lampung hingga April 2026 telah mencapai 7.600 ton dan diperkirakan segera menyentuh angka 10.000 ton.
Dia memberikan apresiasi tinggi kepada Provinsi Lampung karena menjadi daerah yang paling dominan dalam menyumbang angka ekspor tapioka nasional dibandingkan provinsi lainnya.
Berdasarkan data tahun 2025, Lampung sukses mengekspor 22.500 ton tapioka dengan nilai lebih dari Rp 130 miliar ke berbagai negara seperti China, Filipina, Selandia Baru, dan Taiwan.
Darma mengingatkan bahwa tantangan pasar global saat ini bukan hanya soal kontinuitas stok, tetapi juga tuntutan kualitas produk yang sangat ketat di pasar internasional.
Barantin berkomitmen menjalankan fungsinya sebagai fasilitator perdagangan dengan memastikan setiap produk turunan singkong memenuhi standar kesehatan tumbuhan dan persyaratan teknis negara tujuan melalui sertifikasi karantina.
"Kualitas dari produk ini menjadi PR (pekerjaan rumah) kita bersama mulai dari tahap produksi, pengolahan, sampai transportasi, karena penanganan pasca produksi adalah kunci," tegas Darma.
Lebih lanjut, Drama menegaskan bahwa penguatan ekspor harus didukung sistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
"Sesuai arahan Bapak Presiden dalam Asta Cita, hilirisasi adalah kunci kemandirian industri. Badan Karantina Indonesia, dalam fungsinya sebagai penjamin mutu sekaligus fasilitator perdagangan (trade facilitator), hadir sebagai jembatan untuk memastikan setiap produk, termasuk turunan singkong, memenuhi standar keamanan pangan negara tujuan, sebagai keunggulan kompetitif Indonesia di pasar internasional," beber dia.
Selain itu, kelancaran ekspor juga didukung oleh kolaborasi lintas instansi yang solid. Menurutnya, sinergi antara Pelindo, Bea Cukai, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag), Dinas Ketahanan Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung menjadi kunci dalam memastikan proses ekspor berjalan efisien dan tepat waktu.
"Pelindo berperan dalam penyediaan layanan kepelabuhanan. Bea Cukai mempercepat proses kepabeanan. Perindag memberikan fasilitasi perdagangan dan dukungan terhadap pelaku usaha, serta Dinas Ketahanan Pangan sebagai pembina pelaku usaha. Kolaborasi ini menciptakan ekosistem perdagangan yang semakin terintegrasi," tambah Drama.
Dengan dukungan sistem karantina yang andal serta kolaborasi lintas instansi yang kuat, ekspor tapioka diharapkan tidak hanya menjadi capaian jangka pendek, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam mendorong kesejahteraan petani dan memperkuat daya saing Indonesia di pasar global.
( Tribunlampung.co.id / Hurri Agusto )