Menurut Bahlil, yang terpenting adalah kualitas personal bukan kampus yang terkenal
Diketahui Bahlil Lahadalia pernah menempuh pendidikan tinggi di Akademi Keuangan dan Perbankan (Akubank) yang saat ini menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay di Jayapura.
Bahlil lantas melanjutkan ke jenjang S2 bidang ekonomi di Universitas Cenderawasih di Papua.
Tak berhenti di sana, dirinya lalu meraih gelar doktor dari Universitas Indonesia tahun 2024, tetapi gelarnya ditangguhkan karena ditemukan dugaan pelanggaran etik dan akademik.
“Saya kebetulan menganut mazhab bahwa kampus tidak menjamin kualitas seorang mahasiswa. Yang menjamin kualitas seorang mahasiswa itu mahasiswa itu sendiri, apalagi rektornya nggak jelas, gitu, kan” ujar dia yang kemudian disambut dengan riuhan tawa para alumni IPB.
Dalam momen itu Bahlil sempat bertanya kepada Dr. Alim Setiawan Slamet yang menjadi Rektor IPB pada usia 43 tahun.
"Usia 43, (pendidikan) doktornya enggak sampai 2 tahun? Bahaya ini soalnya. Bahaya kalau ada doktor tidak lebih 4 semester. Berbahaya itu,” katanya sembari tertawa.
Adapun pada tahun 2024 Bahlil sempat menjadi sorotan karena menyelesaikan pendidikan doktor di Kajian Stratejik dan Global UI hanya dalam waktu 1 tahun lebih 8 bulan.
Di samping itu, dia memperoleh predikat cumlaude.
Akan tetapi, gelar doktornya menimbulkan kontroversi.
Disertasi dia yang berjudul Kebijakan, Kelembagaan, dan Tata Kelola Hilirisasi Nikel yang Berkeadilan dan Berkelanjutan di Indonesia itu tercoreng oleh dugaan plagiarisme.
UI kemudian menangguhkan gelar doktor Bahlil dan memintanya melakukan revisi.
Bahlil Lahadalia lahir di Banda, Maluku Utara pada 7 Agustus 1976.
Bahlil terlahir dari keluarga sederhana, ayahnya merupakan seorang kuli bangunan, sedangkan sang ibu bekerja sebagai buruh cuci.
Namun, kini Bahlil dikenal sebagai pengusaha yang pernah menjabat sebagai Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).
Saat ini, Bahlil Lahadalia mengemban tugas di pemerintahan sebagai Menteri ESDM.
Sebelumnya, ia menjadi Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal.
Sebelum diangkat menjadi anggota kabinet, Bahlil Lahadalia tercatat dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di tingkat kabupaten, provinsi, dan pusat.
Dikutip dari situs Bkpm.go.id, setelah sejumlah pekerjaan diembannya, Bahlil memutuskan untuk berhenti dari dan mendirikan perusahaan sendiri.
Usahanya pun membuahkan hasil, hingga memiliki 10 perusahaan di berbagai bidang di bawah bendera PT Rifa Capital sebagai perusahaan induk.
Sementara kariernya sebagai wirausaha semakin lengkap saat Musyawarah Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) pada tahun 2015.
Ia terpilih menjadi Ketua HIPMI periode 2015-2019. Bahlil juga memimpin delegasi perdagangan bagi pengusaha muda ke Jepang pada 2016 dan ke Eropa pada 2018 (HIPMI-Europe Trade Mission 2018).
Riwayat Karier
Sebelum sukses seperti saat ini, Bahlil pernah bekerja di sejumlah bidang.
Semasa kuliah, Bahlil Lahadalia bekerja sebagai marketing asuransi.
Bahlil Lahadalia juga pernah menjadi pegawai kontrak Sucofindo.
Lulus kuliah, Bahlil Lahadalia dan temannya kemudian membangun perusahaan, dimulai dari perusahaan konsultan keuangan dan teknologi informasi (TI).
Peran Bahlil di perusahaan tersebut, menjadi direktur wilayah Papua.
Tak lama kemudian, pria lulusan Sekolah Tinggi Ekonomi, Port Numbay Jayapura, Papua, ini memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan yang dibangunnya.
Bahlil pun diberi dividen sebesar Rp 600 juta yang digunakan sebagai modal untuk membangun perusahaan perdagangan (trading) kayu.
( Tribunpekanbaru.com )